Lima Belas

132 9 5
                                        

Zetta membuka daun pintu perlahan, mengintip situasi di luar dari celah kecil yang ia ciptakan. Gelap. Besar kemungkinan seluruh penghuni rumah besar itu sudah berada di kamar dan tengah menjelajahi alam mimpi. Zetta kembali menarik dirinya dan menutup pintu sepelan mungkin. Kamarnya memang di lantai dua, tetapi Zetta tidak ingin ambil resiko suara decit pintunya menggema ke seantero rumah yang hening lalu membuat kedua orang tuanya menyadari, jika anak gadis mereka masih terjaga selarut ini.

Tangan Zetta meraih tas yang sudah dipersiapkan sebelumnya dari atas kasur. Mengecek kembali pesan dari Ares yang mengabarkan bahwa dirinya sudah menunggu, barulah Zetta berjalan mengendap meninggalkan kamar.

Zetta berusaha melangkah dengan sangat pelan, ia berjinjit dengan tangan menenteng sneakers putih. Remang-remang membuat gadis itu harus lebih berhati-hati. Cemas keteledorannya malah menabrak atau menjatuhkan sesuatu. Hancur sudah rencananya jika begitu.

Apa yang ia lakukan memang salah, tetapi Zetta tidak bisa menampik jika adrenalinya melonjak dan darah mengalir deras ke tiap-tiap syarafnya. Gulita membungkus area lantai satu, hanya bias lampu depan dan halaman belakang yang menyusup masuk lewat kisi-kisi.

Gadis yang tengah dikuasi gejolak emosi remaja itu terdiam sejenak di bawah tangga, mencoba memetakan setiap jengkal rumah dalam kepala. Tangan Zetta turun meraih ponsel dari dalam tas, lantas mengaktifkan mode senter sebelum meneruskan langkah.

Alih-alih melarikan diri lewat pintu depan, Zetta justru menyisir area barat. Melintasi ruang makan berikut dapur. Jantung gadis itu berpacu cepat, ia menggigit bibir bawah menahan gugup begitu tangannya sudah terjulur memegang anak kunci yang bergelantungan pada lubangnya.

Baiklah. Zetta mengangguk singkat, mantap.

Tidak ada lagi waktu untuk meragukan niat. Dia sudah teranjur sejauh ini, kasihan juga Ares sudah mau repot menjemputnya dan menunggu kedatangan Zetta di luar ditemani pasukan nyamuk. Maka dengan tangan bergetar, ia putar sumber jalan keluarnya sepelan dan sehati-hati mungkin. Suara cecak dan detak jarum jam menjadi teman Zetta menyukseskan misi pelarian malam ini.

Suara klek yang lemah tanpa sadar membuat Zetta menahan napas sesaat. Mata bulatnya mengerjap pelan sebelum pintu membuka setengah. Udara sejuk malam hari langsung menerpa wajah pucat Zetta.

Bagai maling menemukan jalan keluar setelah dikejar-kejar warga sekampung, remaja itu buru-buru merangsek keluar. Menutup kembali pintu dapur rapat-rapat, melesat melintasi jalan setapak di taman samping rumah yang sempit. Zetta mendongak sekilas ke arah rumah, lantas meloloskan diri lewat pintu pagar kecil di sudut taman samping yang jarang digunakan.

Begitu berada dalam radius 3 meter dari rumahnya, Zetta berhenti mengayun kaki. Badannya membungkuk mengatur napas yang memburu. Kekehan kecil gadis itu lolos begitu saja. Ia lega tanpa tahu kenapa. Seperti ada angin surga yang bertiup dalam kalbu.

Satu saja harapan Zetta, semoga orang tuanya tidak terjaga dan menginspeksi kamar putri mereka yang melompong.

Maka di sinilah Zetta akhirnya, duduk di atas boncengan motor Ares yang melaju menyusuri malam senyap. Lengannya melingkari pinggang sang pacar sedang pipinya menyandar pada punggung bidang Ares.

"Mulai nakal ya kamu."

Zetta terkekeh kecil. Ia mengangkat wajah dan sedikit mendekat pada wajah samping Ares. "Bosen di rumah terus. Makan hati mulu."

•••

Suara knalpot bersahut-sahutan dengan sorai bejubelan manusia, menyambut kedatangan Zetta untuk kali pertama. Gadis itu sedikit mengkerut dan merapatkan dirinya pada Ares yang setia menganggam tangan Zetta. Keduanya berjalan mendekati keramaian. Bergabung dengan teman-teman Ares yang asik terkikik entah karena apa. Sebatang rokok menyala, terjepit di antara jari talunjuk dan tengah mereka.

Arzetta #ODOC [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang