"Banyak yang mengatakan bila hatimu sakit karena seseorang obat terampuh adalah memaafkan orang itu
Tapi bagiku itu hanya omong kosong belaka.
Obat penghilang rasa sakit hatiku ini adalah membuat orang tersebut merasakan... Bahkan lebih buruk dari y...
"Tak ada niat dihatiku untuk pergi meninggalkamu, tetapi jika kau ingin pergi dari kehidupan aku maka aku akan mencoba untuk mengikhlaskan kepergianmu."
.
.
.
"Tinggalkan putraku!"
2 kata. Hanya dengan 2 kata yang keluar dengan mudahnya dari celah bibir wanita paruh baya didepannya sudah bisa membuatnya sadar, sadar nasibnya akan berakhir seperti apa dan juga senyuman itu...
Senyuman penuh kemenangan dan penghinaan yang ditunjukkan oleh seorang wanita. Seorang wanita yang berdiri di samping wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu mertuanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yuan Shanshan.
.
.
.
"Bagaimana? Apa kau masih merasa pusing?" Suara seseorang dari arah belakang menyadarkan Baekhyun yang terbawa lamunan. Saat ia berbalik,ia melihat sang ibu sedang berdiri diambang pintu kamarnya dengan raut wajah yang sedikit cemas.
"Aku baik, Eomma" ucap Baekhyun menjawab kegelisahan yang ibunya rasakan.
Ia sudah memutuskan. Seminggu setelah dirinya meminta suaminya menikah dengan wanita yang telah ia hamili ia memutuskan pergi, pergi dari semua hal yang berhubungan dengan Park Chanyeol. Pria yang sudah berhasil membuatnya jatuh, terjatuh sangat dalam hingga tidak memiliki sesuatu yang tersisa, tetapi setidaknya ia memiliki sesuatu untuk dijadikan kenangan, dan memberikannya semangat hidup yang baru.
Anak. Janin yang sedang ia kandung.
"Kau ingin sesuatu?" Tanya ibunya lagi, Byun Jihyo yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah menginjak kepala empat, dan hanya sang ibulah tempatnya untuk pulang.