Kim Soohyun berdiri di depan jendela kantornya yang menjulang tinggi, menatap lautan beton Seoul di bawah sana. Matanya menyipit, bukan karena silau matahari, melainkan karena bayangan dilema yang tak pernah padam di benaknya. Ia seorang eksekutif muda yang sukses, secara lahiriah memiliki segalanya: karier cemerlang, stabilitas, dan seorang kekasih yang—secara sosial—sempurna. Namun, Soohyun tahu, jauh di lubuk hatinya, ia hidup dalam sebuah kebohongan yang manis, sebuah pelanggaran yang ia peluk erat.
Pernahkah kalian ditanya, tentang dari mana sumber kebahagiaan sejati kalian berasal?
Jika pertanyaan itu diajukan kepadanya enam bulan lalu, Soohyun akan menjawab dengan diplomatis: dari pencapaian profesional, dari senyum Hyerin, kekasihnya. Jawaban yang rapi, terstruktur, dan sepenuhnya jujur. Tapi kini, setelah semua terjadi, jawaban itu terasa seperti abu.
Sumber kebahagiaan Soohyun saat ini adalah sebuah rahasia yang ia jaga lebih ketat dari password rekening banknya. Sumber itu memiliki nama: Kim Jiwon.
Jiwon. Adik dari kekasihnya sendiri.
Soohyun menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kopi pahit di mejanya. Jiwon adalah anomali, sosok perempuan yang menembus lapisan pertahanan diri yang selama ini ia bangun. Hyerin, kekasihnya, cantik, elegan, dan ambisius. Hubungan mereka logis, nyaman, dan terencana. Hyerin tahu apa yang ia inginkan dan bagaimana mendapatkannya, sebuah kepastian yang seharusnya menenangkan.
Namun, di samping Jiwon, semuanya menjadi berbeda. Jiwon datang dengan kesederhanaan yang memabukkan, dengan tawa yang lepas dan mata yang memancarkan kejujuran tak bercela.
"Kau terlalu banyak berpikir, Oppa," pernah Jiwon menegurnya suatu malam, saat mereka diam-diam berjalan di tepi Sungai Han. "Terkadang, hidup hanya perlu dijalani, bukan dianalisis seperti laporan keuangan."
Kalimat ringan itu menusuk Soohyun lebih dalam daripada kritik tajam dari dewan direksi. Jiwon melihatnya, melihat kepenatan di balik jas mahal dan dasi sutranya. Dia mampu menciptakan zona nyaman, tempat di mana Soohyun bisa melepas semua topeng dan merasa, sungguh-sungguh merasa, bahagia.
"Dia mampu membuatku nyaman sekaligus bahagia ketika bersamanya.." Soohyun menggumam pelan, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan kantor yang sore itu mulai sepi.
Penyesalan terbesarnya? Bukan keputusannya untuk mencintai Jiwon, melainkan waktu. Kenapa Tuhan mempertemukan kami begitu terlambat?
Mereka baru berkenalan dua bulan yang lalu, hanya beberapa hari sebelum Hyerin berangkat ke Daegu untuk pelatihan intensif. Jiwon, yang seharusnya kuliah di Busan, datang ke Seoul untuk menemani ibunya.
Soohyun ingat hari itu, saat ia datang ke rumah keluarga Kim untuk mengantar Hyerin ke bandara. Di tengah hiruk pikuk persiapan Hyerin, Jiwon muncul di ambang pintu dapur, hanya dengan kaus kebesaran dan celana training. Sederhana, tetapi matanya yang bertemu pandang dengan Soohyun langsung menciptakan short-circuit yang tak terduga dalam hati pria itu.
Sejak saat itu, Soohyun mulai mencari cara. Mengirim pesan berisi pertanyaan basa-basi tentang kuliah Jiwon, menawarkan diri untuk mengantar ibunya, dan akhirnya, mengajaknya ngopi dengan dalih meminta pendapat tentang hadiah untuk Hyerin. Kebohongan kecil yang akhirnya merangkai rantai panjang pertemuan rahasia.
Dua bulan adalah waktu yang singkat. Namun, bagi Soohyun, dua bulan bersama Jiwon terasa lebih nyata, lebih hidup, daripada dua tahun hubungannya dengan Hyerin.
Apakah itu curang? Tentu. Apakah itu salah? Sangat.
Tetapi Soohyun menepisnya dengan egoisme seorang pria yang akhirnya menemukan apa yang ia cari. Untuk saat ini, moralitas bisa menunggu. Yang terpenting adalah kebersamaan mereka yang dicuri saat ini. Kebahagiaan yang dicuri ini.
