Please! (sequel : a Love)

1.5K 131 13
                                        

Pagi itu, cahaya matahari musim semi menyusup pelan melalui jendela kaca, membanjiri dapur mewah pasangan Kim. Jam baru menunjukkan pukul enam pagi, namun aroma harum sudah menusuk indra penciuman, perpaduan wangi roti panggang, mentega leleh, dan kopi hitam pekat.

​Kim Jiwon, dengan perut yang sudah membulat sempurna—usia kehamilan memasuki bulan kelima—sedang berdiri di depan kompor, membalik pancake dengan gerakan lincah seorang dokter bedah yang juga terampil di dapur. Ia mengenakan kaus oversize milik Soohyun yang menutupi sebatas paha, rambutnya diikat longgar, menampilkan leher jenjangnya.

​"Astaga, istriku ini sungguh profesional," gumam suara rendah yang tiba-tiba mengalun tepat di belakang telinga Jiwon.

​Jiwon sedikit tersentak, namun tak sampai melompat. Ia sudah hafal betul kebiasaan suaminya itu.

​"Ya! Kim Soohyun! Sudah kubilang hilangkan kebiasaan itu," tegur Jiwon lembut, tanpa membalikkan badan, namun senyumnya sudah merekah.

​Soohyun tertawa kecil, suara tawa yang sarat akan kantuk pagi. Ia langsung melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Jiwon yang ramping. Dagu Soohyun bersandar di bahu istrinya, menghirup aroma shampo yang segar.

​"Harum sekali. Aroma pancake atau aromamu?" Soohyun mengeratkan pelukannya. "Aku tidak tahu mana yang lebih memabukkan."

​"Oppa, jangan begitu, ini.. geli," rengek Jiwon. Ia bisa merasakan napas hangat Soohyun membelai kulit lehernya. "Lepaskan dulu, aku harus memindahkan pancake ini. Nanti gosong."

​Soohyun bukannya melepaskan, malah ia memajukan tubuhnya. Perutnya yang rata menempel sempurna di punggung Jiwon, sementara tangan kirinya bergerak turun, menyentuh dengan sangat lembut gundukan kehamilan Jiwon.

​"Selamat pagi, uri aegi," bisik Soohyun pada perut Jiwon, suaranya dipenuhi kasih sayang. "Kau dan Mama membuat hidung Papa lapar."

​"Tuan Kim, jika kau tidak melepaskan, sarapan kita akan benar-benar hangus. Bayi kita tidak akan mau makan arang," ujar Jiwon, berusaha terdengar tegas meski ia menikmati kehangatan itu.

​Akhirnya Soohyun melonggarkan pelukannya. Ia mencium pipi Jiwon sekilas sebelum berbalik dan bersandar di meja dapur, memperhatikan istrinya. Ia masih terlihat tampan meski baru bangun tidur, dengan rambut acak-acakan dan kaus putih polos.

​"Baiklah, Nyonya Kim yang sedang sensitif," Soohyun menyeringai. "Tapi serius, baunya luar biasa. Kau semakin pandai memasak setelah hamil. Sepertinya bayi kita sudah pintar memilih makanan kesukaan."

​Jiwon tertawa renyah, "Ini bukan karena kehamilan, Oppa. Aku selalu pandai memasak, hanya saja kau yang sibuk sekali sehingga tidak pernah benar-benar menikmatinya."

​Ia mematikan kompor, menumpuk pancake tinggi-tinggi di atas piring, dan meletakkannya di meja. Soohyun segera menarik kursi dan mempersilakan Jiwon duduk.

​"Tentu saja aku menikmatinya, aku hanya lupa. Otakku terlalu penuh dengan arteri femoralis dan clamp bedah," Soohyun duduk berhadapan dengan Jiwon, lalu mengambil piring, menyendokkan dua potong pancake untuk Jiwon terlebih dahulu. "Aku akan memprioritaskan makananmu di atas segalanya mulai sekarang, janji."

​Jiwon tersenyum. "Janji dokter bedah Kim Soohyun selalu harus ditepati, ya?"

​"Tentu," Soohyun mengangguk sambil mengoleskan madu pada pancake-nya. Ia lalu menatap Jiwon dengan pandangan serius. "Oh, omong-omong soal prioritas, aku memikirkan nama lagi semalam."

​Jiwon mengangkat alisnya, tertarik. "Ide baru lagi? Setelah kita sepakat menyingkirkan nama-nama aneh dari daftar?"

​Soohyun terkekeh. "Itu untuk candaan saja, Sayang. Nama ini lebih serius. Aku suka Seojoon jika dia laki-laki, yang artinya 'bersinar seperti matahari.'"

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang