Encounter!

2.7K 158 18
                                        

Udara dingin Paris yang tajam, berbau ozon bandara yang steril dan kekecewaan yang tertunda, menyambut kedatangan Hong Haein di Terminal Kedatangan Bandara Charles de Gaulle. Empat tahun. Setiap serat dalam dirinya menolak untuk mengakui bahwa ia kembali ke kota yang telah mencuri satu-satunya pria yang pernah ia izinkan masuk ke dunianya.

​Ia melangkah keluar dari gerbang imigrasi, posturnya tegak sempurna, dibalut trench coat kasmir hitam yang dirancang untuk menahan dingin fisik dan emosional. Ia tidak terlihat lelah setelah penerbangan panjang dari Seoul; ia terlihat mahal, berkuasa, dan sangat terasing. Kedatangannya ke Paris bukanlah kunjungan yang santai, melainkan sebuah invasi profesional.

​Matanya yang tajam menyapu kerumunan penjemput yang kacau, mencari satu sosok yang kini dibencinya. Ia tidak perlu menunggu lama. Di antara lautan wajah asing yang memegang papan nama, ia melihatnya—Baek Hyunwoo.

​Hyunwoo berdiri sedikit menjauh dari kerumunan utama, mengenakan mantel wol abu-abu yang pas di badan, memancarkan aura sukses yang tidak dapat disangkal, seperti arsitektur modern yang dingin dan fungsional. Ia memegang papan kecil bertuliskan: H. HAEIN. Kapital dan formal. Tidak ada senyuman hangat, hanya ekspresi profesional yang keras, seperti wajah yang ia pelajari empat tahun lalu untuk dipertontonkan di depan dunia, meninggalkan kehangatan yang dulu hanya dimiliki Haein.

​Jantung Haein, yang ia yakini telah membeku, berdetak sekali, sebuah sentakan listrik yang menyakitkan. Ia mengambil napas, menarik udara dingin Paris ke paru-parunya, dan mulai berjalan menuju Hyunwoo. Setiap langkah adalah keputusan, sebuah janji pada dirinya sendiri untuk tidak goyah, untuk tidak menunjukkan kelemahan.

​Saat Haein semakin dekat, Hyunwoo menurunkan papan namanya dengan gerakan pelan dan terukur. Sorot mata mereka bertemu—sebuah tumbukan baja setelah empat tahun terpisah. Kejutan sesaat di mata Hyunwoo cepat diganti oleh senyum profesional yang kaku, hampir menghina.

​“Nona Hong Haein,” sapanya, suaranya rendah dan terkontrol, tidak mengandung kehangatan masa lalu sedikit pun, seolah ia sedang membaca nama dari dokumen proyek. “Sebuah ‘kejutan’ yang.. tidak terduga, harus saya akui. Saya tidak mengira klien utama akan bersedia dijemput oleh insinyur rendahan seperti saya di area publik.”

​Haein menghentikan langkah dua meter di depannya, menciptakan jarak yang tak terucapkan yang terasa lebih lebar dari Samudra Pasifik. Ia melipat tangannya di dada, isyarat kekuasaan dan proteksi diri. “Tuan Baek Hyunwoo,” balasnya, nada suaranya dingin dan formal, seperti es yang pecah. “Saya harus berterima kasih atas ‘kerelaan’ Anda meluangkan waktu dari jadwal Anda yang padat di kota yang membuat Anda begitu penting ini.”

​Hyunwoo memotongnya cepat, menyempitkan matanya. “Saya tidak ‘rela’, Nona Hong. Saya sedang menunggu kolega Jepang, Tuan Tanaka. Tim Anda telah salah menginformasikan waktu kedatangan. Saya rasa tim Seoul Anda masih sering membuat kesalahan administratif. Saya hanya datang ke sini karena ini adalah bagian dari kontrak hospitality yang menjengkelkan.”

​“Kesalahan administrasi? Tidak ada kebetulan dalam bisnis, Tuan Baek,” Haein tersenyum tipis, senyum yang tidak bersahabat. “Hanya miscalculation dan bad planning. Saya tahu betul Tuan Tanaka baru tiba lusa. Anda datang ke sini untuk memastikan bahwa Anda adalah orang pertama yang saya lihat di kota ini. Benar, Tuan Baek?”

​Pernyataan Haein mengenai niatnya yang terselubung menusuk tepat sasaran. Ekspresi Hyunwoo sedikit tegang, tetapi ia segera menguasai diri. Ia menyandarkan bahunya ke pilar di belakangnya, menunjukkan kepemilikan atas ruang itu.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang