Life Choices

1.4K 133 8
                                        

Setiap manusia pasti memiliki pilihan hidupnya masing-masing, dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Akan baik atau buruk, jalanilah, karena itu yang dipilih...

​~~~

​Suara garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar nyaring di ruangan makan yang sunyi. Hanya suara itu yang memecah keheningan di antara dua manusia yang duduk berhadapan, namun seolah-olah terpisahkan oleh jurang tak kasat mata.

​Di ujung meja, Kim Jiwon menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya dengan gerakan mekanis. Matanya sesekali melirik ke arah lelaki di depannya, Kim Soohyun, yang sibuk dengan ponselnya, sama sekali tidak menyentuh makanan di piring.

​"Oppa, makanlah. Bibi Jang memasak sup iga kesukaanmu," kata Jiwon, suaranya terdengar lembut, tapi ada nada ketidakberdayaan di dalamnya.

​Soohyun hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Aku tidak lapar."

​Jiwon meletakkan garpunya. Helaan napasnya terdengar samar. "Tapi kau belum makan sejak pulang kantor. Apa kau akan terus seperti ini?"

​Kali ini, Soohyun meletakkan ponselnya, menatap Jiwon dengan pandangan dingin yang sering membuat hati Jiwon mencelos. "Apa yang harus kulakukan? Bersikap seolah-olah kita adalah pasangan bahagia? Pura-pura menikmati makan malam yang disiapkan oleh istriku yang 'tercinta'?" Nadanya penuh sindiran, melukai hati Jiwon. "Jiwon, kita berdua tahu pernikahan ini hanya sandiwara."

​Dada Jiwon terasa sesak. Ia mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. "Aku.. aku tahu. Tapi kita sudah menikah. Apa salahnya mencoba?"

​Soohyun tertawa sinis. "Mencoba? Kau pikir semudah itu? Kau tahu betul kenapa kita menikah. Aku terpaksa melakukannya, Jiwon. Demi menyelamatkan perusahaan Ayahku dari kebangkrutan yang kau rancang. Kau menggunakan posisi keluargamu untuk menjebak kami."

​Kata-kata itu menghantam Jiwon telak. Ia menunduk, tidak sanggup menatap mata Soohyun. "Itu.. itu bukan sepenuhnya niatku. Aku.. aku hanya ingin bersamamu."

​"Jangan bodoh," potong Soohyun tajam. "Kau bisa mendapatkan siapa pun yang kau mau. Kenapa harus aku? Apa kau suka melihatku menderita? Melihatku terikat dalam pernikahan yang tidak kuinginkan, sementara kekasihku, orang yang kucintai, menunggu di luar sana?"

​Jiwon mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aku juga mencintaimu, Oppa!"

​Soohyun bangkit dari kursinya, suaranya meninggi. "Cinta? Cinta macam apa yang tega menghancurkan hidup orang lain demi kebahagiaannya sendiri? Kau tahu, Jiwon, selama ini aku menganggapmu sebagai gadis manja yang egois. Dan sekarang, setelah melihat apa yang bisa kau lakukan, aku yakin dugaanku benar."

​Ia kemudian mengambil jasnya, meninggalkan meja makan, dan berjalan cepat menuju kamarnya. "Satu hal lagi," tambahnya sebelum menutup pintu. "Jangan pernah lagi menungguiku. Aku muak melihat wajahmu yang seolah-olah menderita, padahal kaulah yang memulai semua ini."

​Pintu kamar tertutup dengan bunyi berdebam, menyisakan Jiwon sendirian di ruang makan yang dingin. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah. Ia memeluk dirinya sendiri, merasakan dinginnya kesunyian dan beratnya penyesalan. Setiap kata yang diucapkan Soohyun adalah cerminan dari konsekuensi yang harus ia tanggung. Ia memilih jalan ini, jalan yang penuh duri dan kepahitan. Dan kini, ia harus menjalaninya sendirian.

###

​Jiwon berdiri di depan jendela besar ruang makan, menatap pantulan dirinya yang terlihat samar. Wajahnya yang dulu selalu cerah kini tampak lesu, diselimuti oleh aura kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Ia mengingat setiap kata yang baru saja diucapkan Soohyun. Kata-kata itu menusuk, bukan lagi seperti pisau, melainkan pecahan kaca yang sengaja ditaburkan di atas hatinya. Pahit. Sangat pahit.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang