Pretend

6.6K 188 15
                                        

Baek Hyunwoo duduk di kursi kerjanya yang nyaman, lampu ruangan meredup, hanya layar monitor yang memancarkan cahaya ke wajahnya yang lelah. Ia menghela napas panjang, suara pelan itu tenggelam dalam keheningan malam di rumah besar yang terasa asing, meskipun sudah hampir setahun ia tempati. Hidup dengan penuh kepura-puraan. Itulah realitas pahit yang menggerogoti jiwanya setiap hari, seperti karat yang perlahan merusak besi. Cukup sudah, ia pikir, ia sungguh lelah menjalani semua ini. Siapa yang tidak lelah jika harus selalu memakai topeng? Bersikap seolah semuanya baik-baik saja, seolah luka di dada ini sudah sepenuhnya kering dan sembuh.

​Semua ini, tirai sandiwara yang ia bentangkan di sekelilingnya, berawal dua tahun lalu. Berawal saat Kang Eunji, wanita yang ia pikir adalah takdirnya, meninggalkannya. Bukan perpisahan yang diakhiri dengan kata-kata, bukan pertengkaran yang meninggalkan ruang untuk rekonsiliasi. Tidak. Eunji menghilang. Seperti ditelan bumi. Tanpa alasan yang jelas, tanpa sepatah kata perpisahan, tanpa jejak. Ia pergi begitu saja, meninggalkan Baek Hyunwoo dalam jurang keterpurukan yang dalam. Kehilangan itu terasa seperti organ vitalnya direnggut paksa, menyisakan lubang menganga di hatinya yang tak kunjung terisi. Hari-harinya berubah kelabu, semangat hidupnya padam, dan dunia terasa hampa. Ia terperosok dalam kesedihan dan kebingungan yang memilukan.

​Melihat kondisi putranya yang begitu mengenaskan, Ayahnya, Tuan Baek, mulai khawatir. Beliau tidak tega menyaksikan Hyunwoo terus-menerus tenggelam dalam duka. Dengan niat baik—atau mungkin juga didorong oleh kepentingan keluarga dan status sosial—Ayahnya mengenalkannya pada sesosok wanita. Wanita itu bernama Hong Haein.

​Sejak pertemuan pertama, Hong Haein memang berbeda. Dia adalah perwujudan kebaikan dan kelembutan. Parasnya cantik, auranya menenangkan, dan perilakunya begitu santun. Dia tidak berusaha menggali masa lalu Hyunwoo terlalu dalam, dia hanya ada. Dengan sabar, dengan perhatian-perhatian kecil yang tulus, Hong Haein perlahan mampu menarik Baek Hyunwoo keluar dari cangkang kesedihannya. Dia bisa membuatnya kembali tersenyum, bahkan tertawa. Ayahnya menjodohkan mereka, dan Hyunwoo, dalam keadaan yang masih rapuh dan butuh pegangan, setuju. Mungkin ada secuil harapan bahwa kehadiran Haein bisa menggantikan kekosongan yang ditinggalkan Eunji.

​Kini, mereka sudah menikah, hampir setahun berjalan. Hong Haein kini sah menjadi istrinya, berbagi atap, berbagi kehidupan, bahkan berbagi ranjang. Hyunwoo mengakui, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa Haein adalah wanita yang luar biasa baik padanya. Dia adalah istri yang pengertian, perhatian, dan selalu berusaha menyenangkan hatinya. Dia bisa membuat hari-harinya terasa lebih ringan.

​"Apa Oppa mencintaiku?" tanya Haein suatu hari, suaranya lembut, matanya memancarkan ketulusan yang begitu murni.

​Hyunwoo ingat saat itu, bagaimana ia mengangguk tanpa berpikir panjang, atau mungkin lebih tepatnya, mengangguk karena terdesak dan tidak sanggup menghancurkan tatapan penuh harap di mata istrinya. Ia mengangguk, meskipun ada keraguan besar yang menggantung di udara di antara mereka, tak terlihat oleh Haein, namun sangat nyata bagi dirinya. Kadang, rasa bersalah itu menghimpit dadanya begitu kuat. Bagaimana bisa ia membohongi wanita sebaik ini? Hong Haein terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini. Ia tidak punya pilihan lain, pikirnya saat itu. Ia tak mungkin mengecewakan Haein yang sudah terlalu banyak memberinya, yang telah membantunya berdiri kembali, yang ia yakini mencintainya dengan sangat, sangat tulus.

​Namun, pertanyaan itu tetap menghantuinya di saat-saat sunyi seperti ini. Mengapa sampai saat ini, setelah semua kebaikan Haein, setelah semua waktu yang mereka habiskan bersama, ia belum bisa memberikan hatinya sepenuhnya untuknya? Mengapa, di sudut terdalam hatinya, masih terukir kuat nama wanita lain, nama Kang Eunji? Benteng itu masih kokoh berdiri, menghalangi cinta baru untuk sepenuhnya masuk dan berakar. Dan kepura-puraan inilah, senyum palsu yang ia kenakan, yang menjadi beban terberat dalam pernikahannya. Ia hidup dalam bayang-bayang masa lalu, menikahi kebaikan hati masa kini, sambil merahasiakan konflik batin yang tak kunjung usai.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang