Asal kau bahagia

1.7K 116 6
                                        

Cinta? Kasih sayang? Dengan apa semua itu bisa dibuktikan? Kata-kata.. atau tindakan?
~~~

Ponsel di bahu kanannya terasa panas, tapi Jiwon mengabaikannya. Jemarinya terus menari di atas keyboard, mata fokus pada deretan angka dan huruf di layar komputer. "Huh.. tidak bisakah kau mengerjakannya besok saja? Tak seharusnya kau lembur di malam weekend seperti ini, oppa." Suaranya terdengar lelah, bercampur dengan bunyi ketikan yang tak henti.

​Di seberang telepon, suara Seungri terdengar memohon. "Aku benar-benar tak bisa, Jiwon. Ini sangat penting untuk perusahaanku. Semuanya harus kuselesaikan secepat mungkin."

​Jiwon menghela napas, napas yang berat dan penuh kekecewaan. Suara napas itu sampai ke telinga Seungri, membuatnya merasa semakin bersalah. "Sayang, kumohon mengertilah.." Panggilan sayang itu, hampir tak pernah diucapkan Seungri kecuali dia sedang ingin merayu atau merasa bersalah. Hati Jiwon terasa ngilu mendengarnya.

​Jiwon menggelengkan kepalanya pelan, seolah Seungri bisa melihatnya. "Tidak, maafkan aku. Seharusnya aku tidak memaksamu seperti ini. Maafkan aku, oppa." Suaranya melirih, penuh penyesalan. "Sekali lagi maafkan aku, maaf karena aku terlalu egois."

​"Sstth.. akulah yang seharusnya minta maaf, lagi-lagi aku harus membatalkan janji kita." Ada jeda sejenak, suara Seungri terdengar benar-benar menyesal. "Tapi jangan khawatir, aku akan menggantinya lain waktu. Oke?"

​Jiwon memaksakan senyum tipis. Janji itu lagi. Sudah berapa kali ia mendengar kata-kata yang sama? "Baiklah. Selamat bekerja, oppa."

​"Terima kasih, sayang."

​Sambungan terputus. Jiwon melempar ponselnya sembarangan ke meja, bunyi bantingan kecil memecah kesunyian ruangan. Selalu seperti ini di akhir pekan. Tak pernah ada waktu untuknya. Ia mengacak rambutnya frustrasi, lalu bangkit dari kursi. Segelas air dingin, mungkin bisa meredakan gejolak di dadanya.

​Kakinya melangkah gontai menuju dispenser di ujung ruangan. Diambilnya gelas, lalu diisinya dengan air dingin. Saat bibirnya hampir menyentuh permukaan gelas, sebuah suara menginterupsinya.

​"Kau tampak kusut, Ji."

​Jiwon menghentikan gerakannya. Ia tahu suara itu. Ia tahu panggilan itu. "Ji." Hanya satu orang yang memanggilnya dengan sebutan itu.

​Kim Soohyun. Ya, hanya lelaki itu.

​Jiwon menoleh, melirik tajam ke arah lelaki yang sedang bersandar di dinding di sebelahnya. "Jangan mengajakku ribut pagi-pagi begini," ucapnya ketus. "Ckk.. melihatmu hanya membuatku semakin kesal, Tuan Kim."

​Soohyun terkekeh, senyum jahil yang selalu menghiasi wajahnya. "Ouhh.. kata-katamu sangat menyakitkan sekali." Ia berjalan mendekat. "Dan kukira setelah berhasil mengajakmu 'kencan' beberapa hari yang lalu, kau akan bersikap lebih lembut padaku. Tapi nyatanya? Uhh.. tidak sama sekali."

​Jiwon mengabaikannya. Ia berjalan kembali ke meja kerjanya, Soohyun mengekor di belakangnya seperti anak anjing yang setia.

​"Hei, kau free malam ini?" tanya Soohyun, suaranya penuh harapan. Ia terus mengikuti Jiwon, bahkan saat Jiwon sudah duduk di kursi. "Aku punya tiket nonton bioskop nanti malam, apa kau mau temani aku?" Ia membungkuk sedikit, menatap Jiwon dengan mata memohon. "Mau ya? Kumohon.. hanya malam ini saja."

​Jiwon mendongak, menatap mata Soohyun yang berbinar penuh canda. Seulas senyum jahil masih terlukis di bibirnya. Jiwon tahu, jika ia menolak, Soohyun akan terus memohon hingga ia menyerah. Ia paling malas berhadapan dengan kegigihan lelaki itu.

​"Baiklah," jawab Jiwon akhirnya, pasrah. "Aku akan pergi denganmu nanti malam."

​"Yeayy!" Soohyun bersorak, suaranya cukup keras hingga beberapa karyawan menoleh. Ia tak peduli, malah mengedipkan mata pada Jiwon sebelum melenggang pergi dengan langkah riang.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang