Cinta 1/2

1.3K 104 24
                                        

Cinta...
Menyelinap dalam senyap, yang tak kunjung lenyap...

###

Baek Hyunwoo duduk di tepi ranjang, jemarinya mencengkeram erat selimut yang menutupi kakinya. Matanya menatap kosong pada dinding di hadapannya. Usianya baru dua puluh satu tahun, mahasiswa semester akhir yang seharusnya disibukkan dengan rencana masa depan, tapi kini, hidupnya tiba-tiba terlempar ke dalam sebuah jurang tanggung jawab yang terasa asing dan menyesakkan. Ia tidak tahu dosa apa yang ia perbuat di kehidupan sebelumnya hingga takdir memaksanya menanggung beban sebesar ini, menikahi kekasih dari kakak laki-lakinya yang telah tiada, seorang wanita yang kini tengah mengandung buah cinta dengan mendiang kakaknya.

Tiga bulan. Hanya tiga bulan yang lalu, duniaku jungkir balik, pikir Hyunwoo getir. Kakaknya, satu-satunya saudara laki-lakinya, meninggal dalam kecelakaan mobil yang mengerikan hanya beberapa hari sebelum hari bahagianya. Pernikahan itu seharusnya dibatalkan, itu adalah satu-satunya logika yang bisa diterima akal sehat Hyunwoo. Tapi keluarga mempelai wanita menolak, dengan alasan 'nama baik' dan yang terpenting, 'kondisi' calon menantu mereka yang sudah berbadan dua. Dan entah bagaimana, di tengah duka dan kekacauan, jari telunjuk itu mengarah padanya. Baek Hyunwoo, adik bungsu yang masih ingusan, yang bahkan belum pernah berkencan dengan serius, harus menggantikan posisi sang kakak di altar, menikahi Hong Haein.

Bingung. Marah. Benci. Kasihan. Campur aduk. Perasaan itu bergejolak dalam dada Hyunwoo setiap kali matanya bersitatap dengan wanita yang kini sah menjadi istrinya. Kadang ia merasa seperti terjebak, marah pada Haein seolah semua ini adalah salah wanita itu. Tapi sedetik kemudian, rasa kasihan menusuk. Haein juga korban, korban dari takdir kejam yang merenggut kekasihnya dan memaksanya masuk ke dalam situasi yang rumit ini. Bukan sepenuhnya salah wanita itu Hyunwoo harus meninggalkan impiannya, mengesampingkan kuliahnya -setidaknya untuk sementara waktu, pikirnya putus asa- demi peran suami yang tidak ia minta.

Dulu, ia dan Haein cukup akrab. Haein adalah calon kakak ipar yang baik, sering mengunjunginya di kampus atau membawakannya makanan saat belajar. Ada rasa nyaman di antara mereka. Tapi kini, ada tembok kasat mata yang terbentang. Jarak itu begitu nyata, begitu dingin.

Bunyi pintu terbuka memecah lamunan Hyunwoo. Ia mendongak. Hong Haein. Wanita itu baru saja pulang, langkahnya terlihat lelah saat memasuki kamar yang kini mereka bagi. Haein tidak menyadari tatapan Hyunwoo yang mengawasinya. Ia hanya berjalan lurus menuju ranjang, merebahkan diri, dan tak lama kemudian, suara napasnya terdengar teratur. Tertidur. Hyunwoo mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin berlama-lama menatapnya. Mengabaikan keberadaan Haein yang tertidur, Hyunwoo bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Ia hanya ingin membersihkan diri, menghapus sisa hari yang melelahkan ini, dan berharap bisa melupakan sejenak kenyataan yang menjeratnya.

###

Cahaya laptop memantul di kacamata Baek Hyunwoo saat ia fokus membaca jurnal di layar. Catatan-catatan kuliah berserakan di meja belajar kecil di sudut kamar. Deadline tugasnya semakin dekat, dan tekanan itu terasa menyesakkan.

Pintu kamar berderit pelan. Tatapan Hyunwoo yang semula terpaku pada layar kini beralih ke arah suara. Hong Haein. Wanita itu tampak ragu-ragu di ambang pintu sebelum akhirnya melangkah masuk dengan hati-hati.

"Hyunwoo-ah.." suara Haein terdengar lembut, sedikit cemas. Ia berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di belakang kursi Hyunwoo. "Apakah kamu bisa.. mengantarku ke kedai tteokbokki di depan stasiun?"

Hyunwoo tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan menggantung, sengaja memperlama jawaban. Ia merasakan kehadiran Haein di belakangnya, merasakan ketegangan dalam suara wanita itu. Ketika akhirnya berbicara, suaranya terdengar datar dan dingin, tanpa berpaling dari laptop.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang