"Assalamu'alaikum, Nayaka."
Nayaka menoleh ke samping, dan tiba-tiba aku lupa caranya bernapas. Lidahku kelu. Aku menelan ludahku susah payah. Dalam hati aku terus merapal 'kau hanya menyapa anak SMP, Baha. Kau tidak perlu segugup itu'. Lagipula, jarak kami pun mungkin sekitar tiga meter, yang artinya tidak terlalu dekat.
"Wa'alaikumsalam," ucapnya menjawab salam. "Oh, Ustadz Baha ..." sambungnya lalu berdiri.
Pandangan kami bertemu. Nayaka ... bahkan ketika ia tersenyum, matanya seolah ikut tersenyum. Hatiku menghangat. Nayaka, gadisku. Aku merasa bahwa aku telah tertular Qais yang gila karena cintanya terhadap Laila.
"Ustadz sudah lama, di sini?" tanya Nayaka ramah.
Pertanyaan Nayaka membuyarkan monolog dalam hatiku. Pertanyaan itu, sudah lama di sini?
Astaghfirullah. Aku tergagap, kebingungan mencari jawaban. Tidak mungkin kukatakan, kalau aku ada sejak dia dan Safira masuk ke sini 'kan?
Buku. Ya ... buku. Mataku terkunci pada buku yang berada di tangan Nayaka. Buku itu bisa kugunakan untuk mengalihkan pertanyaan.
"Nayaka, ini hari Ahad. Bukankah tidak ada pelajaran kimia?" tanyaku.
"Oh, buku ini ...." jawab Nayaka sambil menunjuk buku di tangannya.
Nayaka terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku. Mungkin ia takut aku akan memarahinya, seperti Safira. Aku mencoba mencairkan suasana canggung ini dengan mengambil duduk di dekat tempatku berdiri, sedangkan Nayaka kembali ke tempat di mana ia duduk tadi.
"Saat liburan kenaikan kelas nanti, Nayaka akan mengikuti olimpiade kimia tingkat internasional, Ustadz. Jadi ... Nayaka harus belajar lebih giat," jawabnya jujur.
Aku mengangguk, lalu senyum. Nayaka tidak mencoba menutupi apapun dariku. Aku sadar, dia santri dan siswi di sini, jelas saja dia berusaha untuk terbuka pada gurunya. Aku memejamkan mataku pelan, menghilangkan rasa percaya diri berlebih yang timbul begitu saja.
"Meskipun rajin belajar, tapi hari ahad bisa kau gunakan untuk menenangkan diri. Kau, tidak boleh melupakan bahwa tubuh manusia butuh istirahat. Jika kau memforsir waktumu untuk belajar terus-menerus, lalu kau sakit saat tiba waktu olimpiade, bagaimana?" tanyaku.
Ia mengangguk pelan, terlihat mempertimbangkan ucapanku. Tak lama kemudian, senyumnya terbit.
"Naya ingin meminta saran dan nasihat, Ustadz. Naya sering kesulitan dalam memahami pelajaran. Karena itu, Naya merasa harus belajar lebih giat," kata Nayaka dengan senyum sendu. Ia menunduk.
"Teruslah berpikir positif," jawabku singkat.
Nayaka mendongak. Ia menatapku penuh minat, seperti menunggu kalimat selanjutnya yang akan kuucapkan. Sikapnya itu, sukses membuatku semakin gugup. Tapi meski begitu, karena sudah sering menghadapi siswi seperti ini, jadi tidak terlalu sulit untuk berusaha terlihat biasa saja.
"Kau tau? Pikiran positif akan membawa kita pada optimisme atau sikap yang selalu mempunyai harapan baik. Kahlil Gibran, pernah mengatakan bahwa; orang-orang optimis, ketika melihat bunga mawar, ia fokus pada mawarnya, bukan durinya. Sedangkan orang-orang pesimis, terpaku pada duri dan melupakan mawarnya. Kau paham tentang itu?" tanyaku.
Nayaka menggeleng polos, dengan ekspresi menggemaskan. Ya Allah, perasaan ini membuatku semakin takut jika gelar pedofil benar-benar kusandang.
"Banyak orang, ketika menghadapi suatu masalah, ia fokus pada masalahnya tanpa memikirkan bagaimana jalan keluarnya. Tapi setiap pribadi yang optimis, memandang bahwa segala masalah pasti ada jalan keluarnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
NAYAKA (Sudah Terbit)
Romance#Nayaka Dicintai oleh seorang Ustaz sejak berusia dua belas tahun, tidak pernah terpikir oleh gadis biasa bernama Nayaka. Terlebih, usia keduanya terpaut sangat jauh, delapan belas tahun. Namun, isi hati Ustaz bukan sesuatu yang layak dihakimi. Terl...
