***
Hari ini adalah hari keberangkatan Nayaka ke Jepang. Lama olimpiade diperkirakan hingga satu minggu ke depan. Kata-katanya minggu lalu masih terngiang di telingaku. Aku takut Nayaka betul- betul akan melanjutkan SMA di Jepang.
Sebenarnya, dalam persoalan hati ini, aku sudah melakukan segala upaya untuk bersikap biasa saja. Dzikir, sholawat, dan membaca Al-Qur'an, tak luput dari usahaku. Tapi ini betul-betul sulit. Ini pertama kalinya untukku.
Aku memejamkan mata sejenak untuk meredakan melankoliku sendiri. Aku berniat meninggalkan gedung ini untuk sekedar mencari pasokan udara segar, sebelum memulai liburan. Tapi samar-samar dari arah belakang ku dengar seseorang memanggilku.
"Ustadz, tunggu!"
Setelah kudengar dengan seksama, itu seperti suara Nayaka dan Safira. Aku memutar tubuhku dan benar, itu mereka berdua. Mereka menghampiriku dengan senyum cerahnya. Senyum khas remaja SMP yang polos dan tulus.
Senyum Nayaka, yang biasanya membuat jantungku berdebar-debar, sekarang berubah menjadi senyum yang membuatku pedih dan penuh rasa takut.
"Assalamu'alaikum, Ustadz," sapa mereka berdua.
"Wa'alaikumsalam," jawabku datar.
Untuk tersenyum rasanya sangat berat. Nayaka ... aku ingin mengungkapkannya. Mengungkapkan apa yang kurasakan. Tapi aku takut mengganggu belajarmu. Aku takut kau justru berbalik membenciku yang tidak tahu diri ini.
Sungguh! Aku tidak ingin merusak masa remajamu dengan pernyataan cinta konyolku ini. Jika mengungkapkan kata cinta semudah memakan permen kapas, sudah sejak dulu aku melakukannya. Ini sulit, sebab kau baru menginjak remaja.
"Ustadz."
Panggilan Safira mengembalikan kesadaranku.
"Ah, iya. Ada apa Nayaka, Safira?" ucapku.
"Safira hanya mengantarkan Nayaka, untuk berpamitan dengan Ustadz," Safira tersenyum. Aku pun berusaha tersenyum.
Mereka datang kepadaku, ternyata karena aku satu-satunya yang berada di lantai atas. Sedangkan semua guru sudah di bawah untuk mengantar rombongan.
Safira terlihat sangat bersemangat dalam mendukung Nayaka. Sebagai orang yang mencintainya, aku seharusnya melakukan hal yang sama, bukan? Tapi rasanya sangat sulit setelah Nayaka mengungkapkan bahwa ia ingin melanjutkan sekolah di Jepang.
Apakah kebersamaan kami hanya tersisa satu tahun? Aku ingin menanyakannya, tapi bukankah akan terdengar aneh?
"Semoga olimpiade berjalan lancar, Nayaka. Semoga berhasil," kataku.
"Terimakasih, Ustadz."
Aku mengangguk dan mencoba tersenyum. Nayaka tersenyum, pamit pergi, kemudian mengucap salam. Aku menatap kepergiannya dengan perasaan semakin tidak menentu, antara takut kehilangan dan takut akan jauh darinya.
***
Setelah kedatangan Nayaka tadi, aku kembali masuk ke dalam ruanganku untuk menenangkan diri sejenak. Jika aku membiarkan ia melanjutkan sekolah di Jepang, aku tidak bisa membayangkan bagaimana harus menjalani hari-hariku ke depan.
Aku tidak bisa! Aku tidak ingin jauh darinya. Aku harus melakukan sesuatu agar Nayaka tetap disini. Ya, aku harus membuatnya tetap berada di sini.
Dalam pikiranku saat ini, satu-satunya cara agar Nayaka tetap di pesantren ini adalah dengan merubah peraturan pesantren. Aku harus menghubungi Mas Syahid.
Buru-buru kucari kontak Mas Syahid, lalu menelpon untuk mengajaknya bertemu.
***
"Apa? Merubah peraturan wajib pesantren selama enam tahun?"
KAMU SEDANG MEMBACA
NAYAKA (Sudah Terbit)
Romance#Nayaka Dicintai oleh seorang Ustaz sejak berusia dua belas tahun, tidak pernah terpikir oleh gadis biasa bernama Nayaka. Terlebih, usia keduanya terpaut sangat jauh, delapan belas tahun. Namun, isi hati Ustaz bukan sesuatu yang layak dihakimi. Terl...
