***
Ini sudah hari ke tujuh sejak Ayahku di nyatakan koma. Benturan keras di kamar mandi membuat saraf keseimbangannya bermasalah.
Ibuku sudah tidak banyak menangis, tetapi beliau sering melamun.
Sekarang ini Ibuku hanya menangis ketika shalat di samping ranjang pesakitan Ayah.
Kebetulan Pesantren dan sekolah juga masih libur, jadi aku tidak perlu meminta surat cuti untuk menemani Ibu dan Ayah di rumah sakit.
Aku dan Mbak Syafa sendiri masih terus berbagi tugas. Jika aku di rumah sakit, maka Mbak Syafa menjaga rumah bersama dua keponakanku, Rafi dan Rafa yang juga sedang libur. Sedangkan suaminya, Mas Indra, kembali ke Solo, karena pekerjaannya memang di sana.
Aku memikirkan kembali percakapanku dengan ibu beberapa hari lalu. Aku menceritakan perihal Nayaka kepada beliau.
Shock! Tentu saja. Dan kesedihan beliau semakin bertambah ketika tahu bahwa aku mencintai gadis SMA.
***
Sore hari di taman rumah sakit, Ibu mengajakku untuk bicara empat mata. Rafa baru saja datang, jadi ia yang menunggu Ayah di kamar rawat.
"Baha, sebelum Ayahmu pergi ke kamar mandi kemudian terpeleset, kami baru saja membahas tentang keinginan kami untuk memiliki cucu darimu. Kau tahu usia kami tidak lagi muda, bukan? Ayahmu ingin kau segera menikah," ucap Ibu.
Kami duduk berdampingan di bangku taman. Aku terdiam. Bingung harus menjawab seperti apa. Haruskah ku katakan bahwa aku mencintai gadis SMA?
"Ayah dan ibu ingin melihatmu menikah sebelum kami pergi. Jadi ... menikahlah dengan putri dari teman Ibu."
Aku terhenyak. Apakah ini perjodohan? Tiba-tiba pikiranku menjadi kosong.
"Seminggu sebelum kau pulang, Ibu diajak bertemu oleh salah satu teman. Ia mengatakan bahwa putri pertamanya belum menikah. Lalu ia mengutarakan keinginannya untuk menjadi besan Ibu. Ibu menjawab, akan mendiskusikan denganmu terlebih dahulu." Ibu bernapas sejenak.
"Ibu ingin membahasnya di kamarmu saat itu, tapi kau terlihat seperti pemuda kasmaran, jadi urung Ibu lakukan.
Profesi gadis itu memang model muslimah, bukan guru sepertimu. Tapi ia gadis yang baik. Bonusnya, ia anggun dan cantik. Namanya Nisa. Annisa Kurnia Aula."
Aku memberanikan diri menatap langsung pada manik mata Ibu. Dan benar. Ada harapan dan permohonan di sana.
Dari kalimatnya tadi, aku sangat tahu kalau ini perintah. Biasanya sangat mudah menuruti perintah ibu, tapi kali ini terasa sangat sulit.
"Ibu, apa tidak bisa menunggu satu tahun lagi?" jawabku lemah.
Ibuku seketika berdiri. "Apa kau bisa memastikan Ayahmu akan bertahan hingga satu tahun, Baha?!" tanya Ibuku dengan suara melengking.
Ibuku mulai terisak pilu, lalu kembali duduk dengan memijit pelipisnya. Amarah yang sejak tadi ditahannya mulai menguar.
"Ibu ... bahkan tidak yakin akan bertahan di dunia ini tanpa ayahmu," ucapan ibu melemah.
"Ibu ...."
Pandanganku mulai kabur karena air mata. Aku ingin merangkul bahu Ibuku, tapi urung kulakukan. Aku tidak cukup berani.
"Ada apa dengan setahun, Baha? Ada yang kau sembunyikan dari Ibu?"
Beliau menoleh, menatapku dengan penuh tanya. Aku mengangguk, kemudian menghapus air mataku sendiri.
"Maafkan aku, Bu. Sejujurnya, gadis yang kucintai ... ia ... ia masih kelas tiga SMA."
Ibuku terlihat sangat terkejut hingga menahan napasnya yang seolah menjadi berat. Beliau bahkan memegang dadanya sendiri.
"K-kelas tiga SMA? Baha, kau becanda?"
"Aku tidak becanda, Bu. Begitulah faktanya. Gadis yang membuatku nyaris gila, ia masih duduk di bangku SMA."
"Siapa dia?" sergah Ibu.
"Nayaka. Namanya Nayaka Devi. Ia ... putri dari Pak Syakib yang tempo hari menjenguk Ayah."
Ibuku semakin terkejut. "Ya Allah ... kenapa jadi serumit ini?"
Ibu menutup wajahnya. Tangisnya pecah. Aku terlalu bingung, dan bahkan untuk memeluk beliau saja, rasanya aku takut. Sejurus kemudian, beliau membuka wajahnya dan memelukku.
"Tidak ada yang salah dengan perasaanmu, Baha. Sungguh! Rasa cinta itu anugerah. Tapi ... kau dengar sendiri apa kata dokter Kevin, bukan?" Aku mengangguk lemah.
"Kemungkinan untuk Ayahmu bangun itu sangat tipis. Bahkan jika ia bangun, ia hanya akan seperti mayat hidup, karena banyak saraf yang sudah tidak berfungsi.
Tolong beritahu Ibu, apa yang harus Ibu lakukan untuk kalian? Hiks."
Kami berdua menangis bersama. Sekelebat bayangan perpisahan dengan Nayaka menghantui perasaan dan pikiranku.
Aku terlalu takut kehilangan. Aku takut kehilangan Nayaka, sama seperti aku takut kehilangan kedua orang tuaku. Mereka semua sangat berarti untukku.
"Tapi coba kita pikirkan masa depan gadis itu, Baha. Ia pasti memiliki impian. Jangan sampai kita menghancurkan impian gadis yang kau cintai hanya demi Ego.
Kau ... coba pertimbangkanlah. Ibu pikir, Nisa juga gadis yang baik. Kau bisa belajar mencintainya ketika sudah menjadi istrimu," ucap ibu panjang lebar.
Belajar mencintai setelah menikah? Jika aku menikah di saat tidak mencintai siapapun, mungkin itu mudah. Tapi perasaanku pada Nayaka sudah sedemikian dalam.
Mampukah, aku mencintai Nisa seperti aku mencintai Nayaka? Mampukah aku menjadi pribadi yang adil? Mampukah aku mengenyahkan bayang-bayang Nayaka didalam ibadah rumah tanggaku seandainya aku memang harus menikahi Nisa?
"Sejujurnya, Ibu juga tidak meragukan kepribadian Nayaka—meskipun belum pernah bertemu. Melihat bagaimana Pak Syakib, Ibu tahu Nayaka gadis yang baik dan tulus. Amat sangat disayangkan karena ia masih belia.
Ia ... bahkan lebih muda dari dua keponakanmu. Keponakanmu, Rafi dan Rafa, masih asik belajar dan menikmati masa mudanya. Ibu tidak tega merenggut kebebasannya," sambung beliau.
Aku tertegun. Ibu menyukai Nayaka, tapi kondisi ini tidak memungkinkan. Aku sangat tahu bahwa Ibuku memiliki kepedulian tinggi pada pendidikan. Ibuku yang sangat peduli pada masa depan anak muda.
"Pikirkan baik-baik, dengan hati yang bersih, Baha. Ibu tidak ingin memaksa, tapi tolong pertimbangkan keinginan Ayahmu."
Ibu menepuk bahuku kemudian pergi meninggalkanku sendiri di taman.
Aku mengusap wajahku kasar. Apa yang harus kulakukan? Istikharah berkali-kali, belum membuatku menemukan titik terang. Tapi sejurus kemudian, bayangan Pak Syakib muncul dalam pikiranku. Benar. Pak Syakib. Aku harus menemui beliau.
***
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
NAYAKA (Sudah Terbit)
Romance#Nayaka Dicintai oleh seorang Ustaz sejak berusia dua belas tahun, tidak pernah terpikir oleh gadis biasa bernama Nayaka. Terlebih, usia keduanya terpaut sangat jauh, delapan belas tahun. Namun, isi hati Ustaz bukan sesuatu yang layak dihakimi. Terl...
