***
Tiga tahun berlalu begitu cepat. Setelah liburan kenaikan kelas ini, Nayaka berada di kelas duabelas yang artinya satu tahun lagi ia lulus SMA. Perasaanku padanya pun semakin kuat.
Aku laki-laki normal, aku punya hasrat biologis, dan aku bahkan sangat takut, kalau-kalau yang kurasakan ini hanya nafsu.
Kucoba mengenyahkan pikiran negatif dan meyakini bahwa yang kurasakan ini kasmaran karena cinta.
Aku sering sulit mengendalikan buncahan aneh dalam jantungku—saat bertemu dengannya. Tapi beruntung karena aku, orang yang pandai menjaga ekspresiku. Dalam hal ini, aku merasa bahwa memiliki wajah sedatar tembok lebih menguntungkan.
Mungkin ini resiko kasmaran di usia senja. Jika pada umumnya orang-orang pertama kali kasmaran di usia remaja, aku justru pertama kali kasmaran di usia 30-an.
Ok! Lupakan tentang kasmaran yang membuatku gila. Mari kita bahas tentang prestasi Nayaka.
Setelah aku mulai mengajar di kelasnya saat itu, ia menjadi semakin bersinar. Jika sebelumnya Nayaka ada di peringkat dua dan Safira di peringkat sepuluh, setelah aku mengajar, mereka berada di posisi yang hampir sama.
Pada kenaikan kelas tahun ini, Nayaka berada di peringkat pertama dan Safira peringkat kedua. Selisih nilai rata-rata mereka bahkan paling banyak di angka lima.
Tahun ini selisih tiga angka. Nilai rata-rata Nayaka 96, sedangkan nilai rata-rata Safira 93. Karenanya, saat aku bertemu mereka berdua di perpustakaan beberapa minggu lalu, aku sempat iseng menanyakan tentang prestasi.
"Nayaka, Safira. Nilai kalian selisih sedikit sekali, apa kalian betul-betul berkompetisi?"
Mereka berdua terkikik geli.
"Ustadz, selama saya sekolah, belum pernah sesemangat ini dalam mendapatkan peringkat. Kami tidak berkompetisi, kami hanya ingin selalu bersama."
"Woah ... persahabatan kalian betul-betul keren," ucapku.
"Bukankah kami seperti Six Bromance, milik Ustadz?" tanya Safira.
"Six Bromance?" Aku tersenyum lebar.
"Emmm. Ayah Radika menceritakan kepada kami tentang enam bersaudara di Yayasan Darul Ucwah ini," ucap Nayaka.
"Dan itu sukses membuat kami iri, Ustadz," sambung Safira.
"Kami berencana, suatu saat akan melanjutkan pendidikan di tempat yang sama," ucap Nayaka.
Aku menatap ke arah Nayaka. Ia menunduk. Aku tersenyum dan membatin, 'jadi Mas Radika menceritakan itu padanya?'
Kami memang jarang bertemu, tapi bayangannya selalu ada di pelupuk mataku. Kadang aku merasa debaran aneh saat ia menatapku. Bolehkah aku menaruh percaya diri bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku?
Oh, tidak boleh?! Aku seorang Ustadz dan juga kepala sekolah, sedangkan ia seorang santri. Tentu saja ia tersenyum jika melihatku. Aku cerdas, tapi juga bodoh disaat bersamaan.
Aku mengacak rambutku sendiri, kemudian mendesah lelah. Kuraup napas sebanyak-banyaknya, lalu menghembuskan dengan pelan.
Setahun lagi, Baha. Ungkapkan setahun lagi, saat ia resmi wisuda kelulusan SMA. Kau harus mengulur kesabaran lebih panjang lagi.
Aku mengangguk, menikmati monolog dalam hatiku yang semakin gila.
***
Pintu kamarku di ketuk. Aku yang sedang memandangi foto Nayaka tersentak. Lalu memasukkan foto Nayaka ke dalam tempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAYAKA (Sudah Terbit)
Romance#Nayaka Dicintai oleh seorang Ustaz sejak berusia dua belas tahun, tidak pernah terpikir oleh gadis biasa bernama Nayaka. Terlebih, usia keduanya terpaut sangat jauh, delapan belas tahun. Namun, isi hati Ustaz bukan sesuatu yang layak dihakimi. Terl...
