***
Hari ini pukul sembilan pagi, aku berkunjung ke kediaman Pak Syakib—setelah kemarin membuat janji temu. Aku mengetuk pintu dan mengucap salam dengan lemah.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Ustadz Baha.”
Aku melihat Pak Syakib terkejut dengan penampilanku saat ini.
“Silahkan masuk, Ustadz.”
Aku mengikuti langkah Pak Syakib masuk ke dalam ruang tamu.
Setelah aku duduk, Pak Syakib menjamu teh instan seperti beberapa waktu lalu.
Aku masih terdiam. Sejurus kemudian Pak Syakib berdehem.
“Anda terlihat sangat berantakan, Ustadz. Bersabarlah ... Ayah anda, Insya Allah akan sembuh.”
Aku mulai sulit mengendalikan melankoliku. Terngiang perintah ibu untuk menikahi perempuan lain. Aku tidak sampai hati mengatakan pada Ayah dari gadis yang kucintai dan mencintaiku. Tapi aku harus jujur, bukan?
“Katakanlah, Ustadz. Saya tau ada yang ingin anda bagi.”
Aku menatap nanar pada lelaki bijaksana dihadapanku. Mataku memanas dan tangisku tidak mampu lagi kubendung.
“I-ibu ... meminta saya untuk menikahi putri teman beliau, Pak Syakib,” ucapku dengan isakan yang mulai sulit ku kendalikan. Aku menunduk.
“Apa yang harus saya lakukan, Pak? Saya sangat mencintai Nayaka. Sangat berat untuk meng-iya-kan permintaan ibu,” sambungku.
Pak Syakib menghela napas panjang, lalu menepuk bahuku yang bergetar. Kami berdua terdiam cukup lama.
“Ustadz Baha, mau saya ceritakan sesuatu?” tanya Pak Syakib setelah beberapa saat kami terdiam. Beliau tersenyum tulus. Aku mengangguk lemah.
“Dulu ... saya dan putri saya, Nayaka, tidak terlalu dekat. Alasannya sudah pasti karena saya jarang berada di rumah, bahkan sejak sebelum Nayaka lahir.
Saya dan Hana—kami menikah di saat kondisi keuangan belum stabil. Sedangkan saya, sudah berjanji untuk menguliahkan Hana. Anda pasti paham bahwa kuliah di jurusan Kedokteran—biayanya tidak sedikit. Karena itu, saya terus bekerja, bekerja, dan bekerja, agar istri saya tetap kuliah.
Pada akhirnya, istri saya baru benar-benar jatuh cinta pada saya setelah beberapa tahun menikah. Kemudian, Nayaka hadir di tengah-tengah kami.” Pak syakib bernapas sejenak.
“Hana ... selain menjadi istri dan ibu yang luar biasa, ia juga berhasil menjadi dokter dengan prestasi gemilang. Ia mendirikan Klinik untuk golongan tidak mampu, yang saat ini di kelola oleh adik dari Radika. Klinik itu akan di mutasi kepemilikan jika Nayaka sudah dewasa nanti.”
‘Ternyata selalin hubungan persahabatan, hubungan keluarga Pak Syakib dengan Mas Radika juga menyangkut amanah dari Bu Hana,’ batinku.
Pak Syakib mengusap matanya yang sembab.
“Ia tidak menyadari, bahwa penyakit berbahaya bersarang di tubuhnya karena terlalu lelah.”
‘Aku jadi teringat Nayaka, ia belajar terus menerus tidak peduli itu hari Ahad. Ibunya betul-betul mewariskan karakternya pada Nayaka,’ batinku—lagi.
“Hana jatuh sakit, dan di rawat di rumah sakit selama beberapa bulan, sebelum akhirnya meninggalkan kami berdua.”
Pak Syakib berhenti sejenak, beliau terlihat mengatur napasnya yang mulai sesak.
“Saya tidak tahu, bahwa istri saya menanamkan nilai-nilai Agama yang kuat kepada putri kami. Tidak hanya mengajarkan al-Qur’an, tapi juga mengajarkan ilmu fiqih, bahkan ilmu ikhlas. Padahal ia mahasiswi kedokteran yang hanya ikut mengaji di pesantren seminggu sekali.
Buah dari didikannya sangat luar biasa. Nayaka—di usianya yang ke sepuluh tahun—sudah sangat rajin Qiyamullail dan banyak berdoa.
Saya tahu, Nayaka shalat di samping ranjang pesakitan ibunya ketika kami tidur.”
Pak Syakib mengusap matanya yang terus berair. Lalu melanjutkan ceritanya dengan suara bergetar.
“Pernah suatu ketika, saya pura-pura tidur hanya untuk mendengarkan doa Nayaka. Anda tahu apa yang setiap malam putri saya lantangkan ketika berdoa di samping ranjang pesakitan?”
Aku terdiam. Tidak mampu menjawab pertanyaan Pak Syakib.
“Putri saya berdoa ‘Ya Allah ... jika Naya yang meninggal, Ibu dan Ayah bisa membuat adik seperti ibunya Kina. Tapi jika Ibu yang meninggal, bagaimana Ayah akan menjalani hidupnya? Naya sangat sayang pada Ibu dan Ayah, jadi ambil Naya saja, Ya Allah ....”
Aku terisak semakin keras. Nayaka kecil berani bertaruh menukar nyawanya sendiri demi ibunya, sedangkan aku? Ya Allah ... Aku sangat malu.
“Itu adalah saat saya menyadari, jika Nayaka ternyata tidak hanya peduli pada ibunya, tapi juga pada saya.”
Pak Syakib meneguk minumnya perlahan. Kemudian melanjutkan cerita.
“Jika anda bertanya pada saya, apa yang akan Nayaka lakukan ketika mendengar berita ini, anda pasti sudah bisa menebak jawabannya. Nayaka, akan memilih kebahagiaan ibu anda, Ustadz.”
Aku betul-betul menangis sekarang. Perpisahan dengan Nayaka bukan pilihan kami. Ini sangat sulit. Lebih sulit dari sekedar memendam perasaan selama bertahun-tahun.
Nayaka ... gadisku. Haruskah aku mengucapkan selamat tinggal meski aku tak ingin?
***
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
NAYAKA (Sudah Terbit)
Romance#Nayaka Dicintai oleh seorang Ustaz sejak berusia dua belas tahun, tidak pernah terpikir oleh gadis biasa bernama Nayaka. Terlebih, usia keduanya terpaut sangat jauh, delapan belas tahun. Namun, isi hati Ustaz bukan sesuatu yang layak dihakimi. Terl...
