Part 5 : Hadiah Cantik

884 60 0
                                        

***

Aku sedang merapikan rak buku, ketika netraku menangkap sosok Mas Radika lari tergopoh-gopoh menuju ruanganku. Ia menarik napas susah payah, lalu memegang kedua bahuku. Persis seperti sikap seorang kekasih dalam drama picisan.

"Baha ... Baha ," ucapnya dengan napas tersengal-sengal.

"Assalamu'alaikum, Mas Radika."

"Ah iya. Wa'alaikumsalam," jawab Mas Radika.

Aku mendengus geli, lalu berjalan menuju kursiku kemudian duduk, disusul Mas Radika yang akhirnya duduk di seberang meja kerjaku.

"Nayaka, putriku berhasil dalam olimpiade, Baha."

Aku berjingkat pelan. Nayaka berhasil? Aku bahagia, tentu saja! Namun aku tidak tahu harus memberi reaksi seperti apa atas berita ini. Jika Nayaka berhasil dalam olimpiade ini, artinya ia bisa melanjutkan sekolah di mana pun ia inginkan.

Aku mencoba menguasai segala ekspresiku di hadapan Mas Radika. Mencoba menghalau rasa sedihku, setidaknya sampai Mas Radika keluar dari ruanganku.

"Aku sudah mengatakan pada Mas, bahwa segalanya itu, mungkin," ucapku datar.

Mas Radika mengangguk membenarkan.

"Gadis itu betul-betul pekerja keras dan tekun, sama seperti Almarhumah ibunya," ucap Mas Radika. "Aku akan mengajak Ana ke makam Hana sore nanti," sambungnya.

Aku menoleh ke arah Mas Radika, lalu mencoba tersenyum. Senyum getir yang coba kutampilkan senatural mungkin.

***
Hari ini aku memantapkan tekadku untuk masuk di kelas Nayaka. Setelah drama panjang dengan wakil kepala sekolah dan guru-guru, akhirnya aku mendapat jadwal di kelas Nayaka pada hari Jumat.

Gadisku sudah kelas sembilan sekarang. Aku tersenyum sendiri mengingat pertemuan pertama kami. Tapi kemudian senyumku pudar. Waktu Nayaka di sekolah ini tersisa satu tahun. Aku tidak boleh bersedih. Aku laki-laki, dan aku harus mendukung segala keputusan gadis yang kucintai.

"Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak," sapaku pada anak-anak kelas unggulan C.

"Wa'alaikumsalam. Selamat pagi, Ustadz."

Aku tersenyum pada anak-anak yang telah lama kuabaikan. Mataku menyisir satu persatu siswi di kelas ini, mencari gadis kesayanganku. Tapi hanya ada Safira. Tidak kulihat Nayaka.

"Ustadz Baha, tidak salah masuk kelas, bukan?" tanya salah seorang siswi dari bangku belakang.

"Ustadz tidak salah masuk kelas. Mulai hari ini, Ustadz yang akan mengisi pelajaran Matematika."

Para siswi bersorak seperti balita yang mendapatkan mainannya kembali. Aku menggeleng dan tersenyum lebar. Tak lama kemudian, dari arah pintu, kudengar siswi mengucap salam. Aku menoleh dan itu Nayaka. Pandangan kami bertemu, ia tersenyum. Manis. Jangan tanya kondisi jantungku karena sudah berdetak tak beraturan.

"Ustadz Baha, Assalamu'alaikum. Maaf saya terlambat."

Belum sempat Nayaka melangkah untuk menuju kursinya, tiba-tiba ....

"Nayaka, kau berhasil!"
Itu suara Safira. Aku menoleh ke arah Safira, alisku bertaut.

"Betul, Nayaka. Kau berhasil. Ustadz Baha mengajar di kelas kita mulai hari ini," sambung lainnya.

Di susul ucapan-ucapan serupa dari teman-teman kelas Nayaka. Kulihat Nayaka mengerjap polos, bibirnya menganga dan pupil matanya melebar. Nayaka sangat menggemaskan.

"Benarkah, Ustadz?" tanya Nayaka memastikan.

Aku mengangguk dan ia meminta izin duduk. Melihat antusias anak-anak di kelas ini, aku merasa sangat dibutuhkan.

***
Seminggu sudah berlalu. Ini pertemuan keduaku di kelas Nayaka. Melihat antusiasme kelas ini kembali membuatku merasa sangat bersalah dan egois.

Aku melangkah menuju kantorku setelah selesai kelas. Belum sempat kututup rapat pintu kantor, aku mendengar ucapan salam dari luar.

"Assalamu'alaikum," ucapnya. Itu suara Nayaka.

"Wa'alaikumsalam Nayaka." Aku memintanya masuk tanpa menutup pintu.

Meski Nayaka siswi SMP, aku tetap berhati-hati dalam menjaga kehormatan pesantren ini. Aku tidak ingin di anggap menjadi kepala sekolah yang hobi berduaan dengan perempuan meski itu santri di bawah umur. Aku mempersilahkan Nayaka duduk di seberang meja kerjaku.

"Ada yang bisa Ustadz bantu, Nayaka?" tanyaku sedikit gugup.

"Oh iya, Ustadz," jawabnya canggung. "Naya, sudah bernadzar untuk memberi Ustadz hadiah jika berhasil dalam olimpiade. Naya datang ke sini untuk menunaikan nadzar. Ini untuk Ustadz," sambungnya sembari meletakkan kotak hadiah berwarna biru langit di atas meja kerjaku. Jangan lupakan senyumnya yang membuat jantungku bergoyang.

"Nadzar Naya sudah tertunaikan, jadi Naya pamit kembali ke asrama, Ustadz. Assalamu'alaikum," sambung Nayaka lalu keluar kantor dengan ekspresi malu yang kentara.

Aku justru tersenyum lebar. Tidak ada yang tahu betapa bahagia aku hari ini. Jika aku tahu akan sebahagia ini, sudah sejak lama aku masuk di kelas Nayaka. Tapi tunggu! Jika aku tidak sebodoh kemarin, mungkin tidak akan pernah ada hadiah cantik ini darinya, bukan?

Aku membuka kotak cantik itu dengan hati-hati. Setelah tahu apa isi kotak itu, aku terhenyak. Medali emas? Nayaka memberi ini untukku?
Di bawah medali ada foto dirinya sendiri, foto dirinya dan peserta olimpiade lainnya, dan juga surat. Aku memilih untuk membuka suratnya terlebih dahulu.

Perlahan kubuka surat itu dan membacanya dengan hati berbunga-bunga.

Untuk Ustadz Baha
Assalamu'alaikum, Ustadz Baha. Terima kasih sudah bersedia masuk ke kelas Nayaka. Teman-teman semua bahagia karena kepala sekolah kami hadir di kelas. Nayaka juga akan melanjutkan sekolah di sini saja karena sekarang, Nayaka memiliki banyak teman. Nayaka berjanji akan lebih tekun lagi dalam belajar. Ini hadiah dari kelas unggulan C, Nayaka hanya mewakili mereka. Wassalamu'alaikum'

Nayaka akan melanjutkan sekolah di sini. Membaca surat ini membuatku terharu. Nayaka-ku yang rendah hati. Ia rela berkorban waktu dan tenaga demi teman-temannya.

Jika aku tahu cara membuat Nayaka terus berada disini hanya dengan hadir di kelasnya, mungkin aku tak perlu berdebat alot dengan kelima kakakku di yayasan ini. Ini cukup melegakan.

Aku bertekad, mulai hari ini, aku akan menjalani hari-hariku yang penuh warna di kelas unggulan C. Kelas dengan siswi-siswi lucu dan penuh semangat.

***
Bersambung

NAYAKA (Sudah Terbit) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang