***
Pak Syakib berdehem, kemudian bertanya, "sejak kapan, Ustadz? Sejak kapan anda mencintai putri saya?" tanya Pak Syakib serius.
Aku mendongak, menatap Pak Syakib yang bertanya sejak kapan aku mencintai Nayaka. Pandangannya datar. Membuat nyaliku menciut. Tapi perlahan senyum pak Syakib terbit, itu membuatku bingung.
"Sejak pertama kali melihatnya, Pak Syakib. Nayaka. Ia, cinta pertama saya."
Aku menunduk—malu. Aku harap-harap cemas menanti jawaban dari Pak Syakib.
Mungkinkah beliau akan menganggapku gila? Pedofil, atau sejenisnya? Atau kemungkinan terburuknya adalah aku di dorong keluar rumah karena di anggap tidak tahu diri?
Aku memejamkan mata, mencoba menstabilkan detak jantungku. Apa aku benar-benar tepat mengatakan ini?
"Anda tidak merasakan itu sendirian, Ustadz." ucap Pak Syakib.
Aku mendongak—lagi. Mulutku menganga, menatap Pak Syakib dengan pandangan bingung.
"M-maksud anda?"
Aku tergagap, terlalu bingung antara senang dan takut jika ini hanya salah paham.
"Putri saya juga menyukai anda, Ustadz. Saya tidak menyebut itu cinta, sebab putri saya masih remaja empat belas tahun saat itu."
Aku mengerjap. Untuk sesaat aku lupa caranya bernapas. Namun dalam hati aku bersorak senang dan bertanya-tanya, benarkah?
"Anda tidak sedang bergurau, Pak Syakib?" tanyaku memastikan.
Pak Syakib menggeleng.
"Saya tidak bergurau, Ustadz," jawab Pak Syakib yakin.
"Anda ingat hari dimana ia memberikan kotak hadiah berwarna biru langit tiga tahun lalu? Itu adalah hari dimana ia meminta izin pada saya untuk menyukai anda.
Kebetulan pagi sebelum Naya masuk sekolah, saya datang mengantar barang-barang Naya yang tertinggal dirumah saat liburan," terang Pak Syakib.
Pak Syakib menceritakan secara detail, moment percakapan beliau dengan Nayaka.
"Saat itu, Nayaka bercerita, 'Ayah, kepala sekolah kami, Ustadz Baha, sudah bersedia masuk kelas kami. Karena saya terkejut, jadi kemudian saya bertanya, benarkah? Apa itu artinya kau bisa belajar dengan santai? Maksud saya,ia tidak perlu belajar siang-malam lagi. Nayaka hanya mengangguk." Tutur Pak Syakib dengan senyum mengembang.
"Selanjutnya, Nayaka mulai memuji anda. Ia mengatakan Ustadz Baha sangat baik. Beliau yang mendukung serta memberi nasihat pada Naya sebelum pemberangkatan Olimpiade.
Saya meledek dengan mengatakan bahwa ia terlihat mengagumi Ustadz Baha. Anda tahu apa jawaban putri saya?"
Aku menggeleng dengan senyum tertahan.
"Nayaka mengatakan bahwa ia memang mengagumi anda sejak awal."
Kali ini aku mulai tersenyum tipis. Hatiku rasanya berbunga-bunga. Ya Allah ... inikah rasanya menjadi Abege Tua?
"Saya iseng bertanya; kau menyukainya? Ia hanya menunduk malu, tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian ia bertanya; Apa boleh, Yah? Saya jawab; tentu saja boleh. Itu wajar."
Pak Syakib terlihat tertawa geli saat mengingat tingkah putrinya.
"Putri saya sudah remaja, Ustadz. Saya mengatakan padanya bahwa mengagumi dan menyukai laki-laki itu tidak apa-apa. Tapi saya berpesan untuk harus fokus belajar dan jangan pacaran di belakang saya," sambung pak syakib.
"Terakhir, Naya mengatakan akan memberikan Medali itu untuk Ustadz sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengajar di kelasnya. Dan saya bahagia, karena putri saya menuruti nasihat saya sampai saat ini," tukas Pak Syakib.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAYAKA (Sudah Terbit)
Roman d'amour#Nayaka Dicintai oleh seorang Ustaz sejak berusia dua belas tahun, tidak pernah terpikir oleh gadis biasa bernama Nayaka. Terlebih, usia keduanya terpaut sangat jauh, delapan belas tahun. Namun, isi hati Ustaz bukan sesuatu yang layak dihakimi. Terl...
