Part 12 : Putriku Yang Kesepian

971 49 16
                                        


***

POV Pak Syakib

Beberapa jam setelah Ustadz Baha pamit kembali ke rumah sakit, aku mendapat pesan masuk berupa video singkat. Aku membukanya dan terkejut. Kupegang ponselku dengan tangan bergetar.

Disana, dalam video itu, putriku menangis pilu di hadapan makam ibunya. Apa ini? Putriku menyembunyikan segala kesedihannya seorang diri?

Mendadak aku merasa gagal menjadi seorang ayah, karena tidak berhasil melindungi putrinya. Bagaimana bisa Nayaka yang melindungiku? Seharusnya aku yang melindunginya.

Aku marah pada diri sendiri yang selalu sibuk dengan pekerjaan demi menghalau rasa kesepian. Pada kenyataannya, putriku lebih kesepian.

Ya Allah ... aku telah dzalim pada putri semata wayangku.

Aku menyambar kunci mobil, berniat menyusul Nayaka, karena hari ini memang jadwalnya kami berdua ziarah ke makam Hana. Tapi kemudian ku urungkan niat itu, kupikir putriku butuh sendiri saat ini.

***
Aku memandang punggung putriku yang tengah duduk di sofa ruang santai sambil menonton televisi.

Semenjak Ustadz Baha mengirim video itu, aku mulai paham, bahwa senyum yang kulihat dari wajahnya hanya kepura-puraan.

Ia memakai topeng terkuat demi melindungiku dari rasa bersalah karena membiarkannya kesepian, demi ketentramanku agar aku selalu bahagia. Ia menutupi segala kesedihannya agar aku tidak khawatir.

Putriku yang kini tertawa karena menonton serial komedi di televisi, adalah putriku yang kemarin menangis di hadapan makam Hana. Putriku betul-betul pandai menyembunyikan luka.

Aku tidak tau, jika putriku banyak mengalami kesulitan, karena ia terlihat begitu ceria dan selalu tersenyum. Apa setiap ayah memang memiliki kepekaan terbatas sepertiku?

Air mataku jatuh melihat senyumnya saat ini, namun segera kuhapus. Jika ia bisa kuat menahan kesedihannya, aku seharusnya lebih kuat karena aku seorang ayah, bukan?

Kutarik napas dalam-dalam, membuangnya perlahan, kemudian berjalan ke arah di mana putriku berada.

“Nayaka.”

Aku memanggilnya. Berusaha terlihat baik-baik saja, seolah tidak tahu apapun. Putriku menoleh dan aku tersenyum. Ia membalas senyumku dengan senyuman pula. Tatapannya terlihat sendu. Aku tahu ia sangat terluka.

“Iya, Ayah.”

Aku duduk di sebelahnya, ikut menonton serial komedi.

“Apa serialnya selucu itu? Tawamu terdengar hingga ke kamar Ayah.”

Aku terkikik geli. Mencoba bergurau senatural mungkin. Putriku tertawa lebar, ia masih kuat memendamnya sekalipun raut sendu di wajahnya, kian terlihat jelas.

“Ini benar-benar lucu, Ayah. Bagaimana mungkin ada orang seperti Pak Sule dan Pak Andre? Mereka luar biasa.”

“Mereka bahkan membuat orang yang sedih menjadi terlihat biasa saja, bukan?”

Kucoba memancingnya untuk bicara. Tapi ia justru terbahak-bahak.

“Hei ... apa ada yang lucu?” Ia menggeleng.

“Ayah mengingatkan Naya pada Safira. Beberapa waktu lalu, ia mencoba menutupi kesedihannya setelah kucing kesayangannya meninggal. Tapi gagal setelah Naya mengajaknya nonton komedi. Saat Naya tertawa, ia justru menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan satu hal pun dari Naya.”

‘Kau juga melakukan hal yang sama, Naya. Apa kau benar-benar sekuat yang Ayah lihat? Ayah tahu kau terluka,’ batinku.

“Kau menertawakannya seolah kau tidak pernah terluka.” Aku mendengus geli.

“Ayah ... Naya memiliki orang tua yang hebat. Apa yang perlu Naya tangisi?”

Ia menoleh, menatapku dengan wajah teduhnya. Kemudian tersenyum tulus. Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa putriku bisa sangat kuat, sementara aku pribadi justru mulai sulit mengendalikan melankoli.

“Apa Ayah benar-benar sehebat itu di matamu?”

“Tentu saja!” jawabnya tanpa ragu. “Ayah selalu hebat di mataku dan Ibu. Kelak jika menikah, aku ingin memiliki suami seperti Ayah.”

“Woah ... kau sudah memikirkan masa depan?”

Ia mengangguk. “Cepat atau lambat, bukankah Naya akan tumbuh menjadi gadis dewasa?”

‘Pemikiranmu bahkan telah dewasa sebelum waktunya,’

“Kelak, suamiku harus tulus dan setia seperti Ayah.”

Aku tak mampu membendung air mataku sendiri. Sungguh, aku merasa lemah jika berhadapan dengan putriku yang kuat ini.

“Ayah menangis? Apa Naya melukai Ayah?” tanya nya dengan raut wajah khawatir. Ia bahkan menangkup pipiku. Aku menggeleng.

“Tidak, Naya. Kau tidak melukai Ayah. Ayah hanya terharu dengan ungkapanmu. Kau benar, suatu saat kau akan menikah dan ikut dengan suamimu. Tiba-tiba Ayah membayangkan tentang masa tua yang kesepian.”

“Ayah ... Naya tidak akan membiarkan Ayah merasa kesepian. Naya janji! Meskipun telah menikah nanti, Naya akan tetap tinggal dekat dengan Ayah, hm?”

Putriku berusaha sekuat mungkin untuk menenangkanku, tapi ia tidak tahu alasan sebenarnya kenapa aku menangis. Aku mengusap air mataku, kemudian mengangguk.

“Ayah memegang janjimu, Naya. Jika tidak kau tepati, Ayah benar-benar akan menculik cucu Ayah setiap hari.”
Nayaka terkekeh, kemudian mengangguk yakin.

“Hm, Naya. Sore nanti, Ustadz Baha menikah. Ayah di undang, kau bisa menemani ayah?”

Sungguh! Aku sebenarnya tidak tega mengajaknya ke acara pernikahan orang yang dicintainya. Tapi aku ingin melihat, seberapa kuat ia menahan kesakitan karena cintanya pergi? Seberapa lama ia bertahan dalam kesendirian? Aku ingin menjadi sandaran bagi putriku.

Putriku terdiam cukup lama. Lalu setelahnya mengangguk dan tersenyum. Aku tau itu senyum yang di paksakan.

“Kau tidak akan menolak ajakan Ayah, bukan? Duda tampan ini, tidak baik jika pergi kondangan seorang diri.” Aku mencoba bergurau, Nayaka terlihat berusaha tertawa lebar.

***
Di sini, di depan sebuah pintu kamar rumah sakit—tempat ayah dari Ustadz Baha di rawat—aku dan putriku berdiri. Aku menggenggam jemarinya, mencoba menyalurkan kekuatan. Aku tahu putriku gugup, jemarinya dingin.

Dari luar, putriku terlihat sangat tegar. Ia sama sekali tidak seperti remaja 17 tahun yang patah hati karena di tinggal menikah oleh lelaki yang dicintainya.

Ia sangat persis seperti Hana, ibunya. Hana yang lebih banyak mengutamakan kebahagiaan banyak orang ketimbang dirinya sendiri.

Aku ingin merengkuhnya. Merengkuh putriku yang kesepian, merengkuh putri semata wayangku yang taat pada orang tuanya, putriku yang besar tanpa kasih sayang seorang ibu. Tapi aku merasa ini bukan saat yang tepat. Aku harus menghargai upayanya dalam melindungi perasaanku.

“Naya, jemarimu sangat dingin. Kau ... baik-baik saja?”

Aku mencoba untuk sedikit meredakan kegugupannya. Ia terlihat hampir menangis tapi masih berusaha menahannya.

“Naya ... baik-baik saja, Ayah. Hanya sedikit pusing.”

“Kita pulang saja, ya?”

***

Bersambung...

NAYAKA (Sudah Terbit) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang