'Cahaya kasih sayang yang terpancar di mata seseorang, akan menyinari yang lain'
-Charles Dickens.
***
Pagi ini masih sama dengan pagi dua tahun yang lalu. Bedanya, dua tahun lalu Nayaka masih berusia dua belas tahun. Sedangkan pagi ini, ia telah berusia empat belas tahun. Tapi tetap saja, ia masih gadis di bawah umur.
Dua tahun lalu. Haish! Ini sangat memalukan!
Sehari setelah pertemuan pertamaku dengan Nayaka, hati dan pikiranku dipenuhi bayang-bayang senyuman tulus, dan mata berbinar gadis itu.
Jika ia perempuan dewasa, atau minimal sudah lama kukenal, atau paling tidak parasnya cantik, mungkin ini tidak terlalu aneh untukku. Sebab ada alasan untuk menjawab pertanyaan bodoh dalam benakku sendiri tentang, 'benarkah ini jatuh cinta?'
Ini begitu asing. Perasaan semacam ini. Ini pertama kalinya dalam sejarah tiga puluh dua tahun hidupku. Perasaan yang membuat emosiku tidak stabil, dan pikiranku menjadi kacau.
Masih segar dalam ingatan, tentang pertemuan pertamaku dengan gadis itu—juga ayahnya—di Pesantren ini, saat mengambil surat keputusan sekolah tentang diterima atau tidaknya sang putri sebagai bagian dari pesantren dan sekolah ini.
"Jadi ... putri saya di terima di Pesantren dan sekolah ini, Ustadz?"
Itu pertanyaan pertama yang di lontarkan seorang bapak berperawakan tinggi, berkulit kuning langsat, dengan kemeja kantor yang sudah sedikit berantakan saat itu kepadaku.
Bapak yang tidak lain adalah ayah dari Nayaka memandang lurus menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Aku mengangguk, kemudian tersenyum tipis. Senyum seperti ini, hanya ku tunjukkan untuk orang-orang tertentu, utamanya adalah wali santri dan sahabat-sahabatku. Sebab itulah di yayasan ini, aku di kenal sebagai Wakil Kepala Sekolah dengan wajah sedatar tembok.
"Terimakasih, Ustadz Baha. Terimakasih banyak ...." Sekali lagi aku hanya mengangguk, dan tersenyum tipis.
"Pak Syakib, ini surat tanda di terimanya putri Bapak," ucapku sembari menyerahkan amplop berisi surat tersebut.
Seorang bapak, yang kusapa dengan nama Pak Syakib itu menerima surat dengan tangan sedikit bergetar. Membuka lembaran, mengeja baris demi baris hasil nilai ujian masuk yang di peroleh putrinya. Dalam hati, aku sempat terheran melihat wali santri ini begitu terharu.
Aku tahu sekolah ini istimewa karena menjadi wadah siswa-siswi berprestasi, tapi bagiku ekspresinya terlihat berlebihan.
"Nayaka Devi," ucapku memecahkan keheningan.
Mendengar nama putrinya disebut, Pak Syakib seketika menoleh. Tepat saat itu manik matanya menangkap mataku, disertai kening yang berkerut.
"Putri anda ... hanya masuk Kelas Unggulan C."
Senyum diwajah Pak Syakib terbit kembali, kali ini lebih lebar. Membuatku mau tidak mau ikut tersenyum.
"Tidak apa-apa, Ustadz. Putri saya bisa masuk pesantren dan sekolah ini, adalah impian Almarhumah istri saya."
Aku tertegun.
'Almarhumah istri? Itu artinya Pak Syakib duda?' tanyaku dalam hati.
Suasana ramah yang tadi memenuhi ruangan ini mendadak sendu. Ada perasaan canggung karena aku sempat berpikir yang tidak-tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAYAKA (Sudah Terbit)
Romance#Nayaka Dicintai oleh seorang Ustaz sejak berusia dua belas tahun, tidak pernah terpikir oleh gadis biasa bernama Nayaka. Terlebih, usia keduanya terpaut sangat jauh, delapan belas tahun. Namun, isi hati Ustaz bukan sesuatu yang layak dihakimi. Terl...
