0.4

7.6K 664 43
                                        

"Singapur? Malam ini juga?"

"Benar tuan. Tuan Ludwig meminta pertemuan dilakukan besok pagi"

"Tetapi ini mendadak sekali. Seharusnya dia memberitahu kita sejak kemarin"

Yoongi memukul meja kerjanya dengan emosi. Perasaannya menjadi kacau akibat informasi yang sekretarisnya berikan secara mendadak sore ini.

Ludwig Joseph salah satu pemilik saham di perusahaannya tiba-tiba meminta untuk bertemu. Pertemuan mendadak yang ingin ia lakukan besok pagi di saat seluruh pekerjaan Yoongi di Korea sudah sangat banyak dan sedikit sulit di atasi. Tidak ada salahnya jika Ludwig ingin bertemu dan membahas masalah perusahaan dengan Yoongi, hal itu lumrah terjadi antara pemimpin perusahaan dan pemilik saham, hanya saja waktunya yang tidak tepat dan terkesan sedikit memaksa.

Bukankah seharusnya untuk bertemu itu harus ada kesepakatan antara kedua pihak lebih dulu?

"Apa yang dia inginkan sehingga memaksa kita terbang ke sana malam ini juga?" Tanya  Yoongi mencoba mencari celah agar dapat memaklumi permintaan tiba-tiba kliennya itu.

"Jamuan penting. Hanya itu yang ia katakan"

"Lalu?"

"Jika anda tidak datang, ia mungkin akan menarik 18% sahamnya dari perusahaan ini dalam rapat pemegang saham dua Minggu lagi" jawab sang sekretaris.

"Hollyshit! Si tua bangka itu benar-benar sedang memaksa ku" umpat Yoongi kesal.

"Beritahu padanya kita akan berangkat sebentar lagi. Ahhhhhh dia benar-benar menyusahkan" ujar Yoongi yang segera diangguki oleh sang sekretaris.

Sepeninggalan sekretarisnya, Yoongi mulai kembali mengerjakan beberapa pekerjaan yang tadi sempat tertunda. Sayang, bayangan wajah Jennie melintas di otaknya dan membuat konsentrasi Yoongi bubar sempurna bersama hembusan angin.

"Ah Jennie. Aku lupa janji ku"

Bergegas Yoongi mencari ponsel di dalam saku jas yang ia gantung di sudut ruangan. Tidak ada panggilan ataupun pesan yang wanita itu tinggalkan. Seketika Yoongi penasaran, apa yang sedang wanitanya lakukan? Apakah dia marah? Yoongi melupakan janjinya untuk pergi bersama Jennie. Dan tampaknya janji itu tidak bisa ia penuhi karena si tua bangka dari Singapur itu sudah merusak segalanya.

Cukup lama Yoongi menunggu Jennie menjawab panggilannya. Bahkan hingga deringan ke empat wanita itu tak juga menjawab. Untung saja sebelum Yoongi membulatkan tekad untuk mematikan sambungan telepon, Jennie sudah menjawab di seberang sana.

"Jennie, kau di mana?"

"Apartemen"

"Maafkan aku, aku lupa jika kita punya janji hari ini. Kau tidak marah padaku kan?"

"Tidak, tidak apa-apa, tapi sekarang kau di mana?"

"Kantor, dan ku rasa kita tidak bisa bertemu hari ini, aku harus ke Singapur"

"Sekarang? Kenapa?"

"Iya sekarang. Akan ku ceritakan jika aku sudah kembali"

"Tapi Yoon....."

"Aku akan mengirimkan mobil agar kau bisa keluar jika kau bosan, jangan pernah gunakan taksi lagi. Kau mengerti?" Sela Yoongi memotong ucapan Jennie.

"Bukan itu Yoon"

"Aku akan segera kembali, ajak Yerin jika kau merasa kesepian. Oke?"

"Aku harus kembali bekerja. Bye Jennie"

"Bye"

"Bye"

Jennie mendengus pasrah ketika sambungan telepon benar-benar sudah diputuskan oleh Yoongi. Jennie sebenarnya sedikit kecewa karena Yoongi membatalkan janji, tetapi Jennie juga tidak mungkin memaksa Yoongi, ia bukan anak kecil lagi. Dan yang bisa Jennie lakukan hanyalah pasrah.

 TRAPPED || (Tersedia di playbook)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang