Kini semua telah pandai merangkai tangkai demi tangkai kata-katanya. Kemahiran telah beragam jenisnya. Tetapi aku masih saja merindu bilah yang mencipta lukaku sendiri. Masih saja menyukai sunyi. Yang bisingnya adalah keinginan. Yang riuhnya adalah kenyataan.
Ku harap ada banyak do'a ibuku yang dikabulkan Tuhan. Tentang agar aku selalu dikelilingi orang-orang baik. Tentang agar aku diberi pendamping hidup sekaligus imam dunia akhirat yang terbaik. Aku percaya akan kekuatannya. Karena sekali lagi, terlalu lemah untuk aku hadapi sendirian. Tetapi batinku sungkan untuk khalayak tahu akan beban-bebanku. Peluknya mengandung mantra untuk aku bisa tenang dan mampu melangkah baik-baik saja.
Kau tahu? Betapa tertatihnya aku mengangkat kakiku sendiri agar mau berjalan ditengah duri ketidakadilan. Diantara cemasnya manusia akan hidup di hari esok. Akupun butuh peluk. Aku butuh didekap. Tampung tangisku, lebarkan senyumku. Apakah salah aku meminta seperti itu? Aku hanya letih memikulnya sendirian. Manusia yang bertekad tegar ini ternyata ingin istirahat. Dunia terlalu sempit untuk aku yang butuh ruang.
Jemput aku segera. Bawa kemanapun kau ingin pergi. Cukuplah aku terus mengalah dengan waktu. Mungkin sudah terlalu bosan malam menyaksikan perihnya rinduku. Banyaknya mulut suci itu hanya bermain dibelakang jilatnya sendiri tapi lidah tajamnya menusukku dari belakang. Buatlah aku merasa bahwa menjadi dewasa tak semenyiksa ini. Kamu bisa kan? Kamu mampu kan? Jangan diam saja, rangkul jawabku. Rengekku ini semoga tak membebani hidupmu.
Maafkan aku yang terkadang luput dari rasa syukur. Selalu mencari sempurna dari mahkluk tuhan selainmu. Yang pada akhirnya aku hanya seperti tersesat dan akan selalu kembali pulang padamu lagi dan lagi. Yang tak menjanjikan bahagia ditiap hela nafas tetapi selalu memastikan bahwa dalam pelukmu --- tangisku dihargai. Tak mempermasalahkan kulitku yang akan memudar diusia tua nanti. Yang cantiknya akan luruh seiring bergesernya masa. Kau selalu memandangku sebagai yang satu. Rusukmu yang selalu kau kasihi dengan caramu.
Berjuta kali ku bilang jangan pergi. Aku akan siap pada bahagia-bahagia yang akan kau ciptakan tetapi tak cukup ikhlas tentang kehilangan-kehilangan yang takutnya bersumber darimu. Biar saja daun jatuh sesuai kehendaknya, bertemu dengan tanah yang lama tak terjamah. Saling memadu rindu di ruang semesta. Lalu kau disini saja, denganku. Menatapku sebagai punyamu yang terbaik, bukan sesuatu yang selalu mengusik. Melihatmu sebagai yang satu membuat aku mengerti akan sabar yang tak ada ujung dan rela yang tiada batas.
Kita cukupkan petualang ini ya?
Cukup mencari-cari yang selain kita. Cukup membiarkan tamu masuk lagi dan lagi. Kita tutup rapat hanya untuk kau dan aku. Genap yang bahagia di satu atap. Cinta yang akan selalu rumpun di rumahnya sendiri. Dua orang yang akan selalu satu paham tentang rumitnya dunia. Dikelilingi kesejukan ditiap aku mengaminkan do'a-doa kita. Mencium tanganmu sebagai tanda bakti pada surgaku yang digariskan Tuhan. Saling menguat dikala salah satu tengah kalut. Sedia menopang dikala timpang.
Selalu menyayangimu lagi dan lagi, tak usang sejak pertama tatap di siang itu.
-tak ubahnya awan yang setia pada langit, akupun tak akan pergi selain takdir Tuhan yang berbicara-
KAMU SEDANG MEMBACA
Prosa Rasa
Randomsekumpulan rasa yang dirangkum dalam kalimat-kalimat syahdu. nikmati saja, tak usah banyak bicara. biar kata ini mewakili rasamu
