Bagian 13 : Tak Akan Pernah Sederhana

218 4 0
                                        


Pagi terlalu cepat datang, sementara mataku masih betah memejam meredam tangis semalam. Memutar kembali peluk yang sempat aku rasakan. Membuka lagi rasa akan genggamanmu yang tak ingin lepas. Selalu tersenyum pahit setiap kali aku melewati tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Aku suka sekali mengulang semuanya yang pada akhirnya akan membunuhku sendiri. Mencipta getir yang semakin menghilangkan sadar.

Mereka selalu bilang bahwa mimpiku akan tetap indah bila tanpamu. Jalanku masih lurus ketika tak lagi di sampingmu. Mereka tak tahu bahwa kau masih menjadi pegangan dikala dunia membuatku kalut. Masih ingin menjadikanmu tempat pulang untuk segala kesah dan resah. Meski sering kali tanganmu mengisyaratkan tak usah. Kau hanya ingin aku mahir melupa, tapi maaf hati ini masih belum rela. Ku kira kau akan berbalik menyeka linangan yang tak kunjung sudah, nyatanya kau tegaskan ragamu untuk tak lagi ke arahku. Aku harus apa selain memeluk angin yang turut membawamu lekas beranjak.

Aksaraku patah. Frasaku hilang. Aku terdiam. Bayangkan, seberapa patah aku kali ini?

Yang ku tahu bahwa jatuh cinta itu hanya perihal saling. Ternyata diakhir aku hanya akan menjadi asing. Dan dia yang kau anggap paling.

Sajakku tentu saja berbeda dengan penyair ulung. Kataku tentu saja tak sama dengan puisi-puisi terdahulu. Dan aku, tentu saja tak sama dengan dia. Perbedaan yang mencolok ; aku yang menemanimu dari bawah dan dia yang merebutmu ketika kau dipuncak tertinggi. Perihal sakitku kau tak akan paham. Bahkan jauh sebelum ini, kau tak mengenali lagi siapa aku. Tapi mirisnya, aku terlanjur tenggelam didalamnya. Menurutmu, aku hebat atau bodoh?

Memulihkan ini tak akan pernah sederhana. Selamanya tak akan pernah. Sesak yang membuat paru-paruku bekerja tak kenal lelah. Ketika yang pandai meledak akhirnya memilih memadam sendiri. Menghasilkan kenangan lagi yang harus ku dikte satu persatu. Tak pernah ku temukan muara untuk meluapkan segala sendu selain diatas tangisku sendiri. Sekali lagi, aku terpaksa hilang arah atas rasa yang telah terlanjur ada. Terpaksa membanting segala mimpi yang dulu pernah disusun bersama. Membiarkannya hancur, terbang atau apapun terserah kehendak semesta saja. Aku sudah tak lagi peduli jika nantinya aku bernasib sama dengan rasaku ; mati dan dimatikan.

Aku yang telah menasehati hatiku sendiri agar sabar akan tingkahmu yang kasar. Membulatkan tekad untuk membawamu menjadi lebik baik. Sebelum pada akhirnya bukan aku yang mendapat peluk hangat itu. Tetapi malah dia yang dalam ceritamu saja sudah menjadi sejarah. Aku selalu bersedia menyajikan senyum terbaik ketika mendung selalu mengelilingi harimu. Sebelum pada kenyatannya hanya dia yang kau pandang terbaik dan tak akan pernah tergantikan. Aku tak mengatakan dia buruk dan aku baik. Justru aku sadar diri. Aku jauh dari sempurna, parasku pun tak seelok dia. Tapi coba buka pikiranmu sekali saja, 1.460 hari aku bertahan dengan segala lebih dan kurangmu, menurutmu itu sudah berjuang atau masih main-main?

Kalau aku egois, sudahku khianati percayamu sejak dulu. Tapi apa yang ku lakukan? Aku bertahan dengan segala keras kepalaku. Menjadikanmu satu-satunya , kebangganku di depan teman-temanku. Tapi nyatanya, kau hanya menjadikanku salah satunya. Bahkan kau tebas lagi dan lagi pertahananku agar aku menyerah. Dan kini, kau berhasil. Selamat, ya.

Aku menyadari bahwa hidupku nanti tak akan jauh dari perihal perpisahan dan kehilangan. Tetapi mengapa harus dimulai dari kau? Perpisahan yang jelas tak pernah aku inginkan dan kehilangan yang memaksa untuk kuhadapi walau tak ada persiapan apapun. Kau tahu? Kisah kita selalu diangung-agungkan oleh mereka, tetapi kita memilih untuk pisah dan menyudahi segala kisah. Oh mungkin bukan kita. Kau yang memaksa pergi, aku yang tertinggal, dan aku yang memutuskan untuk bukan lagi kita.

Terima kasih berkatmu pedihku semakin bertambah saja. Perih yang semakin membuatku ringkih. Menjadi melankolis ketika mendengar apapun yang berhubungan dengan kita. Terima kasih pula sudah menyia-nyiakan restu kedua orang tuaku. Mereka sakit ketika aku dalam kesakitan. Hebat ya, kau.

Silahkan bahagia dengan pilihanmu. Aku akan jatuh cinta lagi, tapi bukan dengan dia, atau bukan lagi dengan kau. Tetapi dengan kesakitanku sendiri. Sekian.

-ketika luka mampu membuat lisan tak berucap apapun, lihat diakhir bagaimana dia menumbuh dan menumbang ditempat yang sama-

Prosa RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang