Ku lihat, semakin hari kau semakin kuat saja. Senyummu mengembang sempurna. Tawamu riuh tak henti-hentinya diantara teman-temanmu. Selera makan pedasmu yang sudah kembali akibat sakit kemarin. Sudah mulai kuat berjalan. Tak lagi ada air mata akibat manusia masa lalumu. Semua sudah membaik ku kira. Sepertinya. Sementara jauh disudut sana, ada penambal luka yang sudah menyelesaikan tugasnya. Kembali mengemas barang-barang lalu pergi dengan baik-baik. Yang mendapat balasan air mata. Ia sudah sangat ikhlas.
Meski sering kau pandang salah, pada akhirnya kau akan kembali dengan segala kesahmu. Dan lagi, pelukku sedia terbuka lebar untukmu. Meski sering kau anggap acuh, tetapi sialnya aku masih tersenyum padamu dengan baik-baik saja. Tak peduli dengan rasa yang ku rawat akan membunuhku sendiri, aku akan mencintaimu dengan utuh. Yah, dengan utuh. Dengan ribuan do'a mengharap kepada sang pemilik hati seluruh umat manusia. Dengan tangis yang jatuh tanpa kau minta. Aku sudah mencintaimu dengan utuh.
Aku ingin memelukmu dengan pantas. Tanpa sekat hanya karena tak berstatus. Mencurahkan padamu tanpa ragu. Aku ingin seperti itu, salahkah?. Tangan ini siap kau genggam kemanapun kau pergi. Hati ini siap mendampingi bagaimanapun keadaanmu. Dan kau, tak akan pernah melihat itu karena keinginan untuk tahu saja tidak.
Aku ingin pergi, lelah disiksa rasa yang sudah jelas tak terbalas. Tapi aku takut kamu jatuh lagi, terpuruk lagi. Aku tak tega. Kini kamu akan menjemputku sekarang. Tapi aku tak siap pergi karena aku tak ingin menambah lagi dan lagi rasa sekaligus luka ini. Aku menyayangimu dengan baik. Ingin aku suarakan, tapi hanya akan membuatmu menjauh lalu pergi. Menurutmu, aku harus bagaimana?
Aku yang diam-diam senang memperhatikanmu. Aku yang diam-diam memanjatkan do'a demi baiknya hidupmu. Aku yang diam-diam nyaman ketika melakukan apapun denganmu. Aku yang diam-diam ikut tertawa ketika kau tertawa. Dan aku yang diam-diam, mencintaimu. Sampai rasanya, jauh darimu adalah hal yang ku takutkan menjadi peristiwa bernama kehilangan.
Berjarak karena kesadaran diri merupakan bentuk berjuangku untuk tetap ada di kamu. Meskipun, kamu merasa baik-baik saja jika tanpaku. Aku tak tahu siapa wanita yang sedang kau bicarakan dengan gembira sore itu. Satu hal yang aku paham, aku hanya perlu bersiap untuk menerima kenyataan dan memasang langkah untuk pergi jauh-jauh. Tapi untuk saat ini, bolehkah aku tetap ada di dekatmu? . Sekali saja. Aku ingin nyaman ini tak perlu disalahkan keberadaannya. Ia tercipta dengan sendirinya.
Aku bermimpi akan menyambutmu pulang ketika kau lelah dari luar sana. Dengan senyum yang ku punya, meski aku juga penat, akan ku usahakan kau tak akan menemukan senyum sebaik aku. Ku sediakan peluk terhangat agar kau tetap merasa aman dan tak sendirian. Tapi itu hanya sebagian dari mimpiku, yang ku ingin kau tahu, tapi untuk didetik berikutnya aku langsung memutuskan untuk memendam dalam hatiku saja. Semoga Tuhan sudi menyampaikannya padamu.
Terima kasih telah mengajarkanku agar selalu kuat. Jika tulus adalah perihal mengikhlaskan, maka membahagiakanmu adalah sebuah keharusan yang akan menyakitkanku dikemudian hari. Tapi tak apa, aku memang mencintaimu dan ingin membuatmu bahagia pula. Jangan takut dengan rasaku ya, tak akan membuatmu terbunuh.
Kamu bilang aku harus bahagia, harus mandiri. Dan memang aku akan bahagia, jika aku bisa mendampingimu utuh dan penuh. Ijinkan dulu. Jangan buru-buru beranjak. Nanti suatu saat jika memang aku diharuskan pergi, tanpa kamu minta, aku akan sadar diri.
-ketika kata sudah habis, raga hampir terkikis, jangan takut sendiri. Aku siap dengan apapun kamu nanti-
KAMU SEDANG MEMBACA
Prosa Rasa
Acaksekumpulan rasa yang dirangkum dalam kalimat-kalimat syahdu. nikmati saja, tak usah banyak bicara. biar kata ini mewakili rasamu
