kita tidak lebih dari puing-puing patah yang melupa, seakan kisah kemarin hanya lawakan belaka. Bahkan dingin pun tak dapat meredamkan emosi diantara dua manusia yang sedang di jurang perpisahan. Sudah, relakan saja. Semua tak dapat diselamatkan termasuk kita.
Senja pergi begitu cepat, meninggalkan aku yang mematung tanpa kepastian. Sakit, sakit sekali. Ku tatap aksara yang menggantung di bibir manismu, ku dekati dan akhirnya aku yang terbunuh. Aku masih ingat hujan di gubug sore itu. Menyisakan rintik dari genggaman kita seakan esok takut tak dapat melihat pelangi. Kau berucap padaku untuk tidak takut ditinggalkan. Agar aku selalu tegar saat kau tak ada karena saat itu kau harus pergi jauh untuk sementara waktu. Selain air mata yang menggenang, apalagi yang bisa aku lakukan untuk berkata "aku tidak rela kau pergi"?
Ku taruhkan segala percaya yang ada. Seakan ditanganmu, aku sudah yakin akan kau genggam sebagai wanitamu. Harap berubah ratap. Cinta berubah air mata. Harusnya dari awal aku tahu bahwa tidak denganku membuatmu menjadi diri sendiri ; penghianat. Takaran cinta dan sayang tak pernah berkurang bahkan selalu ku lebihkan, apa tidak cukup membuatmu tetap jujur disampingku? Jika memang cinta untukku tak lagi ada, lepaskan dengan indah agar aku rela bukan dengan kebohongan dibalut pura-pura mencinta.
Ku rutuk diriku sendiri akan lambatnya dalam memulihkan luka. Sementara kau menari diatas tangisku yang tak kunjung sudah. Sepertinya menjadi pihakmu itu menarik, meninggalkan lalu menemukan dengan cepat. Dan aku masih dikerumuni kenangan yang sulit sekali aku ajak pergi. Otakku buntu, memikirkan kesalahan apa dalam caraku mencinta hingga kau dengan ringan melangkah tanpa kita.
Angin diciptakan untuk menyejukan, sesekali menusuk tulang tanpa permisi. Apakah kau juga diciptakan untuk sebuah rasa nyaman lalu berakhir dengan meninggalkan? Jawab tanyaku, luka ini ingin tahu sebab apa ia diciptakan. Sebuah perkara yang pada akhirnya membuatku merana. Bahkan untuk menuangkan luka ini, aku tak butuh penawar agar bisa reda. Kubiarkan saja, matikan saja segalanya! Luka yang kau ciptakan sangat sempurna bersamaan dengan kesakitan yang terurai tanpa tahu bagaimana caranya selesai. Yah, aku kehilanganmu. Kehilangan tawamu. Kehilangan pedulimu. Kehilangan genggaman jemarimu. Akan kulatih lagi hati ini agar tak berharap kabar. Akan ku latih lagi jemari ini agar terbiasa tanpa genggaman tanganmu.
Aku yang berjuang menyeka keringatmu ketika kau lelah dengan segala ujian, dia yang mendapat pelukan hangat darimu. Bibirku yang tak bosan mengucap semangat untukmu, dia yang mendapat apresiasi kasih sayang darimu. Aku yang sudi merapal do'a tiap malam, dia yang aku anggap paling pantas dicinta. Sungguh aku tak menyesali, hatiku bahkan kini hanya menyisakan satu tanya ; KENAPA?!
Jika kau membaca ini, resapi kataku jika kau sudi. Kau tahu kan bagaimana mataku ketika menangis tanpa sebab? Semoga kau masih ingat. Menggapai pemahamanmu tak bisa lagi aku jangkau karena kini hanya suaranya yang kau dengar. Peduli tak lagi ada arti karena kini hanya dia yang kau anggap simpati. Lukaku akan sembuh, pasti. Entah karena kembali mencinta atau mematikan rasa untuk selamanya.
-setelah tidak denganmu, membuatku berfikir bahwa menaruh percaya kepada hati yang lain hanya akan menimbulkan cerita luka berikutnya-
KAMU SEDANG MEMBACA
Prosa Rasa
Randomsekumpulan rasa yang dirangkum dalam kalimat-kalimat syahdu. nikmati saja, tak usah banyak bicara. biar kata ini mewakili rasamu
