Seseorang berdiri tak jenak di depan kamar 121, layaknya idiot. Sesekali misuh setelah mendengar cerita Chaeyoung kemarin.
"Kim Dahyun, kau gila!" Bergumam seraya mengacak rambutnya. Bisa mati berdiri jika Si Tuan melakukan hal yang Chaeyoung ceritakan, pikirnya.
Namun, itu masih yang Chaeyoung katakan. Ia tidak tau itu benar atau tidak. Semoga saja tidak.
Perlahan, telapak tangannya memutar kenop pintu. Dengan hati gusar, ia masuk dengan perasaan kelewat takut
"Hai, Kim Dahyun." Sapaan manja dari Si Minatozaki sukses membuat bulu Dahyun meremang. Matanya mengantup rapat.
Tap tap tap
Terdengar langkah telanjang kaki mendekat, juga tangan halus yang hendak singgah di pundaknya.
"Setidaknya, ucapkan selamat pagi." Ucap Sana. Pria Kim itu mulai membuka matanya, berusaha memenuhi keinginan kecil sang Majikan.
"S-selamat pagi, Nona." Dahyun tremor sejenak. Sedikit melirik tangan Sana yang masih anggun di pundaknya.
Ada yang janggal, di punggung tangan gadis itu terdapat sayatan silet yang masih basah. Sontak mata Dahyun melebar.
"Nyonya?" Dahyun meraih tangan Sana.
"Apa yang kau lakukan!?" Tanyanya panik. Kalang kabut berlari mengambil kotak p3k. Tapi, yang dikhawatirkan malah tersenyum tipis, berjalan pelan menuju ranjang nya.
Dahyun segera duduk dan melakukan aktifitas mengobati tangan Sana.
"Ya ampun, nyonya. Apa yang kau lakukan?" Dahyun bergumam geram sembari membersihkan secara hati hati luka Sana.
"Why? Ini menyenangkan." Jawab Sana santai.
Dahyun benar benar tak habis pikir. Apa sebenarnya yang ada di otak wanita Shiba itu.
.
.
.
.
.
Tangan Sana telah terbalut kasa dengan bubuhan obat merah. Dahyun berdiri, berjalan menuju laci Sana. Di ambilnya semua benda yang sekiranya bisa Sana gunakan untuk melukai dirinya, jarum misalnya.Sana hanya tersenyum simpul.
"Terima kasih atas perhatiannya." Gumamnya. Dahyun adalah orang pertama yang peduli hingga sedetail ini.
Dahyun menyimpan benda benda itu di tas nya. Ia menghampiri Sana.
"Tidak ada lagi benda tajam." Dahyun melipat tangannya di dada.
Sana hanya tertawa kecil, ia berdiri.
"Terima kasih."
Cup!
Dikecupnya pipi Dahyun. Yang dikecup hanya terperanjat kaku. Berusaha mencerna kejadian sekian detik yang lalu.
Dengan susah payah Sana menahan tawa melihat ekspresi idiot Dahyun.
Sesaat kemudian Kim sadar, ia mengerjap sejenak. Menatap Sana melongo.
"Kenapa?" Tanya yang ditatap diselingi tawa pelan.
"T-tidak apa apa." Baiklah, sekarang Dahyun salah tingkah. Ia mengulum bibirnya sendiri dan tak berani menatap mata Sana.
Sana mendekat, berbisik nakal pada Dahyun.
"Mau lebih?"
.
.
.
.
.
.
To be continuedMonmaap lama ga update awokawokawokawok:v

KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy [SaiDa]
Fanfiction[𝑬𝒏𝒅✓] Kim Dahyun, seorang pria yang memilih untuk memenuhi kehidupannya sendiri. Ia benci jika harus dijadikan mesin uang oleh ayahnya. Ia juga rindu dengan sosok ibu yang selalu mendukung keputusannya. Ia bingung dan kesulitan untuk mencari pek...