Dari benteng yang tinggi, Maia melihat tiga kapal perang milik pasukan romawi yang baru saja mendarat di tepi Laut Mediterania hari ini. Mereka telah kembali dengan membawa pasukan dengan jumlah yang tak terduga, lebih banyak daripada yang sebelumnya. Persis seperti yang telah pangeran Emir khawatirkan, Romawi datang bukan hanya untuk menaklukkan tapi juga membalas perbuatan curang yang telah Maia lakukan.
Di sisi lain kembalinya Pangeran Bahr ke Tamanni bersama sebagian pasukannya membuat Maia kekurangan prajurit. Beberapa pasukan yang telah pergi ke medan perang tidaklah sebanding dengan pasukan Romawi yang datang. Lagi dan lagi Maia kalah jumlah walaupun dia telah melakukan segala cara untuk menghabisi prajurit yang dimiliki oleh musuhnya.
Keadaan di istana menjadi tidak terkendali tapi Maia mencoba untuk tetap tenang. Para sekutu telah pergi bersama pasukan, mereka menuju ke medan perang untuk menghadapi pasukan Romawi yang langsung melancarkan serangan begitu tiba di perbatasan.
Bersama Bahari, Maia hanya mampu menyaksikan peperangan itu terjadi di balik tembok benteng yang tinggi. Hanya dalam beberapa jam mereka telah kehilangan begitu banyak prajurit, sehingga Maia merasa semakin ragu kalau peperangan ini dapat ia menangkan. Ia bisa saja kalah dalam hitungan hari, sehingga Kallistar menjadi sebuah kerajaan yang berada di bawah kaki Romawi, persis seperti yang telah terjadi kepada Mesir.
Sepasang mata Maia mengamati dengan teliti perbatasan yang telah berubah menjadi medan perang. Berbagai jenis senjata dilayangkan. Prajurit yang telah gugur terinjak-injak. Dan yang lebih buruknya lagi, di antara lautan manusia dengan baju perang Maia melihat pangeran kaan jatuh terluka dan dibawa oleh para prajuritnya menuju ke tenda.
"Pangeran Kaan terluka!" pekik Maia dengan paniknya, "Siapkan kuda, aku harus pergi ke sana sekarang juga"
"Maaf Yang Mulia, tapi di sana terlalu berbahaya bagi Anda" ucap Bahari.
Maia yang tidak ingin membuang waktu lebih lama pun menegaskan, "Aku bilang siapkan kuda Bahari, tidak ada yang perlu kau khawatirkan tentang aku!"
Bahari yang tak dapat berkata apapun untuk mencegah sang Ratu, pada akhirnya memerintahkan seorang pengawal untuk menyiapkan kudanya. Tanpa mengganti pakaiannya atau sekedar mengenakan jubah, Maia segera keluar dari benteng dengan menunggangi kuda kesayangannya, Zoro.
Pengawalan yang ketat Maia dari menjaganya di belakang. Maia menuju ke perkemahan pasukan dan saat dia tiba, semua orang terkejut melihat kedatangannya. Tanpa mengatakan apa-apa Maia masuk ke dalam tenda pemulihan, di sana dia melihat ada ratusan orang yang terluka parah sedang ditangani oleh para tabib dan perawatnya. Mata Maia memandang ke seisi tenda, mencari keberadaan Kaan yang terluka. Maia yakin dirinya tidak salah lihat, dari atas benteng dia melihat Pangeran Kaan dibawa pergi dengan tandu oleh prajuritnya.
"Yang Mulia, apakah Anda membutuhkan sesuatu—"
"Di mana Pangeran Kaan?" Maia menyela seorang tabib dengan mimik cemas yang tak biasa ia sembunyikan. Tabib itu mengantarkannya kepada Kaan yang ternyata berada di tenda pribadinya dan mendapatkan penanganan yang khusus. Dia terlelap saat Maia tiba, Kaan mendapatkan luka tusukan pedang pada perutnya dan juga goresan pada lengan kirinya.
"Lukanya serius?" tanya Maia sambil mengamati luka Kaan.
"Ya, tapi Anda tidak perlu khawatir kami sudah menanganinya. Hanya saja Pangeran Kaan butuh waktu selama lima hari hingga dia dapat kembali ke medan perang Yang mulia" jawab tabib itu.
Oh.
"Lakukan yang terbaik, aku tidak akan mengizinkan Pangeran Kaan kembali ke medan perang sebelum dia benar-benar pulih"
KAMU SEDANG MEMBACA
In The Queen's Bed (Tamat)
RomanceWarning : Adult and explicit sensual content! Di tengah peperangan yang sedang terjadi di antara Kallistar dan Romawi Maia Bennu, Ratu Kallistar, tertarik pada Pangeran Kaan Malik, putra mahkota Dinasti Alynthi yang mana adalah sekutunya sendiri. Ka...
