Sejenak Kaan berhenti di depan pintu kamar sang ratu dengan jantung yang berdebar kencang. Dia tidak tahu apa yang akan Maia lakukan untuk membuktikan bahwa yang dia rasakan bukanlah nafsu semata tapi juga cinta. Mungkin wanita itu akan menggodanya habis-habisan malam ini sampai kaan kalah dan menyerah pada hasratnya.
Tapi Kaan harus kuat. Ia harus mampu membentengi dirinya dari godaan Maia. Meski itu sangat sulit sebab Kaan tidaklah munafik, tubuhnya menginginkan wanita itu terlebih dahulu sebelum hati yang berbicara. Maia Bennu adalah kelemahan terbesarnya.
Memasuki kamar sang ratu, Kaan yang telah mempersiapkan diri dengan godaan Maia harus dikejutkan oleh sesuatu yang tidak ia duga. Di tengah peraduan yang dikelilingi oleh kelambu berwarna putih, sang ratu tengah bercumbu dengan dua orang pengawalnya. Kaan lantas menutup pintu dengan bantingan yang kuat sehingga Maia dan dua orang pria yang bercumbu dengan wanita itu menyadari kehadirannya. Tapi bukannya merasa bersalah, Maia justru tersenyum kepada Kaan dan menyapa, "Selamat datang, Pangeran Kaan"
Kedua tangan Kaan mengepal erat di sisi tubuh, dadanya terbakar oleh amarah dan kecemburuan yang begitu besarnya, "Apa-apaan semua ini?"
Maia turun dari ranjang dan menuju ke arah Kaan dengan gaun tidur tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Sosok lentur itu terlihat sangat liar dan mempesona, bagaikan dewi cinta yang sedang bergairah. Puncak dadanya yang mengeras menonjol di balik gaun tidur berbahan sutra, tercetak jelas dan dia dengan sengaja membusungkannya begitu dia tiba di hadapan Kaan yang mematung di tempatnya.
"Kemarilah sayang, kau akan menyukainya"
Maia menarik Kaan dan membawa lelaki itu duduk di sebuah sofa yang berada tepat di depan peraduan, sofa yang secara khusus diletakkan di sana untuk Kaan. Maia mengurung tubuh Kaan dengan kedua tangannya yang ramping lalu berbisik di permukaan bibirnya yang masih belum sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, "Lupakan cinta Kaan, kita akan bersenang-senang malam ini"
"Kau benar-benar...," dada Kaan mengembang sepersekian detik tak sanggup mengatakan hal yang begitu kejam kepada Maia tapi kemudian amarah membuatnya tak lagi mempertimbangkan kalimatnya, "Murahan"
Bukannya merasa tersinggung, Maia justru tertawa dengan suaranya yang serak lalu berkata, "Kemarilah, kalian"
Dua orang pria dengan tubuh yang kekar dan tinggi datang menghampiri Maia, wanita itu mengambil dua langkah mundur dari Kaan dan kembali bercumbu pengawalnya. Kaan yang tidak dapat melakukan apa-apa hanya duduk di tempatnya dan menyaksikan tubuh wanita yang ia cintai dijamah oleh tangan-tangan kotor itu. Maia terlihat menikmatinya, melalui tatapan matanya yang tertuju kepada Kaan ia membujuk lelaki itu untuk bergabung bersama mereka.
Tapi Kaan tidak akan melakukannya. Dia tahu ini adalah cara licik Maia untuk menjebaknya, wanita itu berpikir Kaan akan kalah pada nafsunya dan mengenyampingkan cintanya yang begitu besar hanya untuk bersenang-senang dengan merekamalam ini.
Melihat Kaan tak kunjung beraksi, Maia lantas menghampiri lelaki itu. Ia membungkuk untuk mencium bibir Kaan yang sama sekali tidak membalas pangutan bibirnya, sementara itu dua orang pria yang berdiri di belakang Maia mulai menyingkap gaun tidurnya dan menampar bokongnya yang kencang
Amarah yang melambung tinggi membuat Kaan menjadi tak terkendali. Perasaanya hancur berantakan melihat Maia membiarkan tangan lain menyentuh tubuhnya. Apalagi saat dia melihat salah satu dari dua orang pengawal itu mengeluarkan senjatanya dan siap untuk melebur di dalam tubuh Maia. Kaan menjadi gelap mata, dengan gerakan yang sangat cepat ia bangkit lalu menggorok leher pria itu dengan belatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
In The Queen's Bed (Tamat)
RomanceWarning : Adult and explicit sensual content! Di tengah peperangan yang sedang terjadi di antara Kallistar dan Romawi Maia Bennu, Ratu Kallistar, tertarik pada Pangeran Kaan Malik, putra mahkota Dinasti Alynthi yang mana adalah sekutunya sendiri. Ka...
