12

2.4K 204 5
                                        

Kemenangan mereka hari ini bukan  berarti kekalahan bagi bangsa Romawi, sebab Romawi memiliki prajurit yang tak terhitung jumlahnya, ditambah lagi mereka memiliki pasukan yang kuat yang membuat mereka merasa cukup percaya diri untuk menguasai seluruh daratan Persia.

Oleh karena itu, Maia mengumpulkan para sekutu dan juga pemimpin Pasukan Daba, Merikh, untuk mendiskusikan strategi yang selanjutnya mereka lakukan agar perang dapat segera berakhir. Di kondisi yang terdesak ini, mereka harus menghajar pasukan romawi terus menerus sehingga mereka benar-benar menyerah dan pergi dari wilayah kekuasaan Maia.

Sebagai pemimpin seluruh pasukan, kemenangan Kallistar berada di tangan Panglima Dreyden. Pria paruh baya itu memimpin diskusi dan menjabarkan strategi yang dia miliki untuk menghancurkan bangsa Romawi. Tapi dari sekian banyak orang, Merikh adalah satu-satunya yang meragukan strategi itu. Menurutnya langkah yang Panglima Dreyden ambil terlalu berisiko, sementara Maia masih belum mengatakan apa-apa.

"Aku dan pasukanku pernah menghadapi mereka satu kali sebelumnya, pasukan romawi itu cerdik, diamnya mereka berarti bahaya. Jadi kita tidak boleh mengambil langkah yang gegabah jika ingin memenangkan peperangan ini" ucap Merikh.

"Aku tidak melihat ada langkah yang gegabah pada strategi ini, Tuan Merikh" sahut Panglima Dreyden yang tampak tersinggung mendengar Merikh meragukan strateginya, "Lagipula kau hanyalah seorang Ksatria biasa, pemimpin dari 5 kompi prajurit saja, apa yang kau ketahui tentang strategi dalam peperangan besar seperti ini, Tuan Merikh?"

Orang-orang tertawa mendengar sindiran Panglima Dreyden yang merendahkan Merikh, hanya Maia dan Kaan yang tidak tertawa pada lelucon kering itu.

"Bagaimana menurut Anda, Yang Mulia?" Panglima Dreyden bertanya kepada Maia yang belum menyampaikan pendapatnya.

Bangkit dari duduknya Maia berkata, "Menurutku tidak ada yang salah dengan strategimu, setiap keputusan yang kita ambil dalam peperangan memiliki risiko, jadi aku setuju"

Panglima Dreyden tersenyum puas mendengar jawaban Ratu Kallistar itu.

"Baiklah kalau begitu artinya kita telah sepakat dengan strategi ini" sahut Panglima Dreyden, "Yang mulia, apakah Anda sudah mendapatkan kabar kapan Pangeran Bahr dan pasukannya kembali?"

"Mereka sedang berada di dalam perjalanan, kemungkinan akan tiba lusa" jawab Maia, "Tapi tolong simpan kabar ini baik-baik, jika pasukan Romawi sampai mengetahuinya mereka pasti akan melakukan segala macam cara untuk mencegah perjalanan Pangeran Bahr beserta pasukannya"

Semua orang mengangguk paham terkecuali Merikh dan Kaan. Merikh  masih terlihat begitu kesal setelah dia dihina di depan banyak orang, sementara itu Kaan tidak banyak bicara setelah mereka berdebat untuk yang terakhir kalinya.

Merasa sesak melihat dua orang pria itu berada di dalam ruangan yang sama, Maia segera mengakhiri pertemuannya, "Aku pikir diskusinya cukup sampai di sini, kalian bisa beristirahat sekarang. Selamat malam"

Satu per satu orang pergi meninggalkan ruang pertemuan, hingga tersisa Maia, Merikh, dan juga Kaan yang hampir melangkah melewati ambang pintu yang terbuka tapi melihat Merikh menghampiri Maia langkah lelaki itu terhenti untuk mencuri dengar apa yang Merikh inginkan dari wanita yang mengisi hatinya.

"Yang Mulia, bisakah kita bicara?"

Maia melirik Kaan yang menoleh di ambang pintu seakan ingin mendengar jawabannya. Oh ini rumit, Maia benci berada di posisi ini. Di satu sisi dia tidak ingin menyakiti Kaan, tapi di sisi lain dia tahu yang ingin Merikh bicarakan bersamanya adalah seputar peperangan, sebagai seorang ratu dia harus mendengarkan.

Menghembuskan nafas panjang Maia berkata, "Baiklah"

Di saat itu juga Kaan meninggalkan  ruang pertemuan dengan langkah yang lebar sementara Maia hanya memandangi punggungnya yang menjauh dengan tatapan yang nanar.

Mereka duduk berhadapan dan hanya dihalangi oleh sepetak meja. Tanpa berbasa-basi Merikh langsung berkata, "Yang Mulia, kau tidak bisa mempercayai mereka semudah itu"

Maia menatapnya tajam, "Maksudmu para sekutu?"

Merikh mengangguk, "Mereka ada di sini hanya untuk mencari keuntungan masing-masing bagi kerajaan mereka, bukan tulus untuk membantu"

"Ingat siapa dirimu Tuan Merikh, kau tidak pada posisi di mana kau bisa mengajariku, aku tahu apa yang harus kulakukan"

"Tapi, Yang Mulia—"

"Show me respect, i'm your queen!" sela Maia sembari bangkit dari kuesinya, "Tidak ada tapi Tuan Merikh, kau hanyalah prajurit kau mengikuti perintahku dan tunjukan rasa hormat yang sama kepada para sekutu, tulus atau tidak mereka ada di sini untuk membantuku!" tegas Maia yang kemudian pergi meninggalkan Merikh sendirian di ruang pertemuan.

Merikh terpaku setelah disembur seperti itu. Ini untuk yang pertama kalinya dia melihat Maia setelah sekian lama, dan Merikh menyadari telah banyak yang berubah dari wanita itu. Maia bukan lagi gadis yang polos dan lugu seperti yang terakhir kali dia tinggalkan, Maia yang sekarang adalah wanita dewasa yang tegas dan pandai mengambil keputusan. Namun, tidak ada seorang pun selain Merikh yang tahu bahwa luka dari masa lalu yang mengubahnya hingga seperti ini, mengubah seorang Maia Bennu menjadi seseorang wanita yang keras kepala.

"Yang Mulia" Noor yang sedang membersihkan kamar membungkuk saat Maia tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya dengan air muka yang terlihat kacau.

"Siapkan air hangat, aku ingin berendam" ucap Maia memberikan perintah.

"Baik, Yang Mulia" meskipun bingung dengan permintaan sang ratu yang ingin berendam di malam hari, Noor hendak pergi untuk melaksanakan tugasnya tapi kemudian sambil menanggalkan pakaiannya Maia berkata, "Dan minta seorang pemuda yang berjaga di depan kamarku untuk masuk"

— TBC —

Hai guys, dapatkan potongan harga  pada setiap pembelian semua karyaku di KaryaKarsa dengan menggunakan kode voucher : MEIDISKON
jumlah voucher terbatas jadi buruan klaim sebelum kehabisan!!

Jangan lupa untuk vote dan comment, perhatian dan dukungan sekecil apa pun dari pembaca sangat berarti untuk penulis dalam berkarya!

In The Queen's Bed (Tamat) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang