Peluh mengalir deras dari dahinya. Ia berteriak, mengejan, dan meremas seprai dengan begitu kuatnya sambil bertahan di atas sakit yang ia rasakan. Dia berjuang di antara hidup dan mati demi melahirkan kehidupan yang baru ke dunia.
"Sekali lagi, berikan saya dorongan yang kuat tuan putri"
Dengan keyakinan penuh dia mengejan dalam satu tarikan nafas. Itu sangat menyakitkan, seperti ratusan tulang yang berpatahan. Tapi ketika tangisan bayi terdengar memenuhi kamar, rasa sakit itu tergantikan oleh kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kebahagiaan menjadi seorang ibu.
"Bayi laki-laki!"
Oh!
Tabib itu menyerahkan bayi ke dalam pelukan ibunya. Malaikat kecil itu menjadi tenang begitu berada di dalam pelukan sang ibu. Perasaan luar biasa menyelimuti nya, ia merasa terharu dan bahagia sampai tanpa ia sadari air mata telah menetes di pipinya. Ini adalah sebuah anugerah di tengah ketidakberuntungan yang terjadi pada dirinya. Anugerah yang membuatnya tetap bertahan hingga detik ini.
Namun malang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Karena tepat ketika pintu terbuka dia melihat seseorang yang selalu merenggut kebahagiaan itu dari hidupnya. Dia memeluk buah hatinya dengan erat, mencoba untuk melindunginya dari sesuatu yang mengancam mereka di depan mata.
"Berikan bayi itu kepadaku"
"Ti-tidak!"
"BERIKAN KEPADAKU!"
Tubuhnya tersentak saat suara itu meninggi membentaknya. Ia ketakutan, tapi ia tidak bisa memberikan bayinya begitu saja, terutama kepada seseorang yang tidak dapat dia percaya. Bentakan itu membuat bayi yang sebelumnya tenang kini menangis dengan suara yang melengking, mungkin bayi itu juga dapat merasakan apa yang ibunya rasakan.
"Ayah aku mohon, biarkan aku membesarkan bayi ini" pintanya sambil terisak pelan.
"Tidak boleh ada anak haram di istanaku!" tanpa membuang waktu lebih lama bayi itu direbut dari pelukan ibunya. Dia mencoba untuk mengambil putranya kembali dengan sisa tenaga yang tidak seberapa. Dia menjerit dan memohon kepada sang ayah agar ia tidak dipisahkan dari buah hatinya, sementara para pelayan dan tabib yang menyaksikan semua itu hanya dapat menatapnya iba tanpa mampu melakukan apa-apa.
"Jangan bawa putraku! Ayah! Kumohon jangan bawa dia!!" jeritnya.
Para pelayan dengan sigap menghampirinya ketika ia jatuh dari ranjang demi mendapatkan kembali putranya. Tapi sang ayah sama sekali tidak peduli, ia sampai hati memisahkan bayi yang masih merah itu dari ibunya, tak menghiraukan bahwa bayi yang tidak berdosa itu adalah cucunya sendiri.
— TBC —
Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan!! Mohon maaf lahir dan batin ya teman-teman semuanya🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
In The Queen's Bed (Tamat)
RomanceWarning : Adult and explicit sensual content! Di tengah peperangan yang sedang terjadi di antara Kallistar dan Romawi Maia Bennu, Ratu Kallistar, tertarik pada Pangeran Kaan Malik, putra mahkota Dinasti Alynthi yang mana adalah sekutunya sendiri. Ka...
