Daripada memaksakan perasaan bersalah yang terus menghantuinya ini, maka lebih baik pergi saja. Begitulah kira-kira.
Jadi ini dimulai semenjak Jimin mendapati dirinya jatuh cinta kembali pada sosok lain. Hina? Harusnya tidak, tapi yang dia lakukan selanjutnya memang hina.
Berawal dari tatap, tukar-tukaran id line, berujung fantasi nakal, hingga melakukan. Terkutuklah Jimin dan nafsunya. Cari mati.
Satu sisi tahu benar, ia tidak mau Seulgi kenapa-kenapa. Bajingan memang bajingan. Justru dirimu yang membuatnya terjebak dalam keadaan itu.
Hingga satu masa, ia benar-benar tidak bisa menahan ini lebih lama.
"Aku bosen sama kita, putus aja."
Kalimat singkat yang mampu membuat Seulgi membeku. Percaya tidak percaya, dalam dua tahun ini? Kenapa begitu tiba-tiba? Bosan? Sudah gila.
"Jangan bohong sama aku."
Mata gadis itu bahkan memanas, dia tau.
Selama ini dia diam, bukannya bodoh apa bagaimana. Hanya saja, semua itu selalu datang dari perkataan teman-temannya tentang kelakuan Jimin akhir-akhir ini. Dia tidak mau percaya sampai melihatnya sendiri. Tapi ini? Benar-benar di luar dugaannya.
Seulgi benci. Dia benci bagaimana lelaki yang dulu mati-matian mendapatkan hatinya ini memaknai hubungan mereka sekarang. Seolah semudah itu untuk melepas hanya dengan embel-embel bosan.
"Jawab." Seulgi lagi-lagi bersuara, kali ini begitu bergetar dengan sesuatu yang tertahan. Tangisnya.
Jimin hanya menghela nafas, matanya menatap tepat manik gadis yang dulu selalu menjadi potret hidup sempurna miliknya. Tidak ada emosi apa-apa di wajah itu. Dalam hati, ia tidak tega tapi sungguh perasaan ini, sangat berdosa membiarkan Seulgi tetap bersamanya.
"Aku sempat suka sama orang lain. Gada apa-apa kita ga ngelakuin apa-apa. Andai aku bisa bilang uda geprekan sama dia, tapi engga Seul. Kamu uda dedikasiin banyak hal buat aku, dan ngelanjutin ini, aku takut bakal ngulang hal yang sama."
Blablabla. Begitulah setidaknya pengakuan seorang Jimin.
"Gausa bacot, Jihyo, 'kan? Puas main belakangnya dua bulan ini? Puas dong." Seulgi senyum cantik sekali, miris rasanya dengan mata yang kian memerah itu.
Bagaimana mungkin Seulgi bisa setenang ini dalam dua bulan begitulah kira-kira yang Jimin pikirkan. Kaget sekali namun mati-matian coba menutupi meski kentara sekali.
"Dua bulan gue denger semua temen-temen gue, temen nongkrong lo, bahkan bule kantin kalo lo berani bawa cewe lain selain gue buat makan, pulang, berangkat bareng. Kapan itu terjadi? Setiap lo tau itu jadwal cuci darah gue. Gue dalam dua tahun ini uda paling semangat banget. Gue yang awalnya bahkan gamau repot-repot hidup, demi lo, cuma karena lo, gue mau sembuh untuk pertama kalinya. Sekarang lo ancurin gue gini, sakit. "
Kali ini Jimin benar-benar tidak bisa mengontrol emosi yang terpancar dari wajahnya. Tiba-tiba saja terlintas semua usahanya dulu agar Seulgi bisa lebih hidup. Seulgi yang saat itu bahkan tidak peduli mau ada ataupun tidak karena baginya dunia pun tak akan berhenti hanya dengan tidak adanya dia.
"Sadar kok, gue sadar, gue diem karena gue sadar diri. Pada akhirnya gue bakal di titik ini dan gue bener. Sampai akhir lo ga jujur sama gue, kecewa sih. Tapi lo gausah khawatir, kali ini gue tetep mau hidup, cuma yang kali ini ga buat bajingan."
Pecahlah suda pertahanan itu kala setetes air mata mengalir.
"Bagian paling sakit, alasan gue pengen hidup sekarang ga bakal nemenin gue sampe kematian. Jadi gue bakal ngejalanin kehidupan bukan sama orang yang bikin gue pengen hidup."
Mungkin, Tuhan akan mengutuk lelaki itu nanti. Kini dengan hati yang patah, Seulgi mengambil langkah. Pergi menjauh.
Dan itu menjadi terakhir kalinya.
Bunga yang menjauhi sumber kekuatannya, mataharinya.
•••
; aneh bgt parahhh
KAMU SEDANG MEMBACA
ss; more than // ksg x pjm
Fanfictionshort story x seulmin🙈✨ it was random plot inside;; be careful, hunny bunny💫 #79 in polaristique [201202] #45 in polaristique [230607] #1 in polaristique [240111] thank u! [ start - 181120. up - 190908. d l d r sayank. ]
