flashback.

101 16 4
                                        

Pagi ini seperti pagi-pagi yang sudah, hanya aku yang pergi ke sekolah dengan berbekal makan siang buatan ibu, sampai detik ini ibu masih membuatkan bekal dengan dalih berhemat dan tidak mau aku jajan sembarangan. Yah, hanya berlaku padaku.

Aku merupakan anak tengah dari tiga bersaudara, satu-satunya anak perempuan di keluarga, jadi sudah jelas adik dan kakakku adalah yang paling dibangga-banggakan. Aneh ya, anak laki-laki selalu saja punya tempat spesial sampai-sampai aku berpikir akan lebih baik kalau keberadaanku tidak pernah ada.

Dunia memang menyebalkan.

"Hoi, Kang."

Itu Jimin, sejauh ini satu-satunya orang yang pantang menyerah mendekatiku, entah apa maunya.

"Apa?" balasku singkat.

Bisa kuliat dirinya tersenyum ceria sekali.

"Mau makan siang bareng?"

Padahal aku selalu menolaknya, tapi anak ini terus bertanya hal yang sama setiap hari. Mungkin perubahan sedikit tidak akan buruk?

"Oke."

"YES!!"

Anak itu girang sekali, memangnya kenapa sih?

"Nanti aku tunggu di tangga ya, Seul."

Huft. Anak ini kenapa sih?

Dia selalu berusaha mendekatiku di saat orang-orang bahkan tidak mau bicara padaku. Aku tidak terbelakang, tidak juga ditindas ataupun ditakuti. Hanya biasa-biasa saja, namun aku tau orang-orang tidak mau repot bicara padaku bila tidak ada urusan. Bisa dibilang aku cuek dan membosankan. Yah tidak mengapa, aku malas sekali berbicara, jadi aku bersyukur sekali sepanjang masa SMA hidupku begitu tenang.

Namun anak satu ini, entah dorongan apa yang membuatnya datang terus padaku.

Padahal dia aktif sekali dalam kelas, pintar dan suka bersosialiasi. Aku tidak begitu memerhatikan, tapi aku rasa banyak adik kelas yang menyukainya.

Ah, bel istirahat berbunyi, akhirnya penyiksaan singkat ini berakhir. Aku tidak suka belajar, tapi aku tidak bodoh, yah ranking dua di kelas tidak buruk juga 'kan?

"Tangga ya?" Cuitku kecil dan beranjak pergi dari kelas membawa totebag berisi bekal.

Dari sini aku bisa melihat punggung anak itu membelakangiku, panggil apa ya? Aku tiba-tiba tidak ingat namanya.

"Hai."

"Oh sudah di sini, ayo."

Eh? Apa sih tiba-tiba menarik tanganku? Lebih bodoh lagi aku yang diam saja dan mengikuti langkahnya membawaku.

Jadi di sinilah kami, iya di kantin yang ramai dengan pandangan-pandangan menusuk dari para gadis yang menyukai sang ranking satu kelas, Park Jimin. Aku baru ingat namanya setelah membaca name tag-nya.

"Kau suka membawa bekal, ya? Pantas aku jarang sekali melihatmu di kantin." Jimin membuka pembicaraan.

"Ah iya."

"Omong-omong aku senang sekali akhirnya kau mau makan siang bersamaku, sering-sering ya?"

Hah? Aku mengernyit sedikit, "Kau biasanya makan dengan teman-temanmu tuh?"

Dia tidak langsung menjawab tapi aku bisa melihat dirinya tampak berpikir sebentar, "Apa ya? Aku lebih suka makan bersamamu."

Aneh.

"Oh ya? Aku kenyang, aku duluan ya." Sampai akhir tetap saja aku tidak bisa bersikap sopan, tidak heran orang-orang menjauhiku.

"Eh tunggu, aku salah bicara ya? Apa menurutmu aku mengganggu?"

Hah mengganggu apa?

"Tidak sama sekali, tapi aku memang sudah kenyang."

"Tapi bekalmu masih ada banyak."

"Aku akan lanjut makan di rumah."

"Seulgi apa tidak paham ya? Aku suka padamu, jadi apapun yang aku lakukan bersamamu, semuanya terasa menyenangkan."

Apa sih tiba-tiba?

"Aku benar-benar harus kembali. Maaf ya."

Uh, aku masih mengingat wajah sedih Jimin karena perkataanku. Sebenarnya dia melihat apa dari sosok sepertiku? Padahal aku tidak pernah melakukan apapun padanya atau punya kondisi dimana ia memang bisa jadi suka padaku. Aneh sekali.

Seumur hidupku aku tidak pernah suka dengan seseorang ataupun disukai, tentu saja tidak pernah pacaran. Ini aneh, kenapa tiba-tiba sekali?

Apa aku dijadikan bahan candaan seperti permainan jujur atau tantangan? Kalau iya sungguh semua orang sama saja ya. Makanya lebih enak sendiri.

Lalu tau-tau hari demi hari berlalu, semenjak saat itu Jimin tidak juga berhenti mendekatiku, sampai akhirnya aku bisa merasakan suatu perasaan timbul di diriku yang sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Apa iya aku menyukainya juga?

Jimin seringkali mengajakku makan siang bersama namun kali ini ia mengerti bahwa aku tidak suka keramaian, jadi dia membawaku ke rooftop atau kadang taman sekolah. Dia juga menemaniku pulang ke rumah dan di sepanjang perjalanan aku bisa mengenal dirinya sedikit demi sedikit, dia tidak jauh beda dariku, lima bersaudara dengan semuanya saudara perempuan. Kadang juga jadi tidak enak di rumah karena harus bisa diandalkan kakak serta adik perempuannya.

Semuanya berjalan mulus sekali hingga pada satu waktu Jimin mengajakku berpacaran, tentu saja aku mengiyakan.

Aku rasa banyak hal telah berubah dalam diriku, kini aku tau rasanya dicintai dan mencintai, aku tidak mau kehilangan.

...

"Apa yang terjadi?"

Suara tangis memenuhi ruangan itu.

"Dia telah berpulang, setelah koma yang begitu panjang aku rasa perjalanannya telah usai."

"Bagaimana dengan korban satunya?"

"Park Jimin ya? Dia sudah berpulang lebih dahulu tepat pada hari kecelakaan itu juga."

"Malang sekali nasib keduanya, andai saja Park Jimin tidak berselingkuh maka Kang Seulgi tidak harus menusuknya di perjalanan mereka."

"Hei, manabisa menusuk dibenarkan?"

"Yah, harusnya kalau berselingkuh jangan sampai ketahuan bukan? Lagipula Kang Seulgi pasti kesakitan sekali sampai ia memutuskan untuk mati bersama."

Semua itu hanya bagaimana aku ingin mengingat kisah-kisahku dengan orang yang kucintai.

...

fin. gajelas bgt ya huaa kebanyakan baca webtoon. hai semua lama tidak berjumpa, makasih yang udah terus dukung sampai saat ini!😸💗

ss; more than // ksg x pjmCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang