Maaf kalau ada typo:v
"Ini tempat dudukku!" tukas Farrel dengan nada tinggi.
"Aku sudah bilang, ini bukan lahi tempat dudukmu, ini tempat dudukku! " seru Mei yang tak mau kalah.
Farrel berdecih, "Gadis sialan! Tidak tau naku sekali, ini tempat dudukku! "
Brak
Seluruh kelas terkejut akan bentakan Farrel dan suara gebrakan meja yang disebabkan oleh Farrel juga. Tidak hanya kelasnya saja, melainkan kelas tetangga juga ikut menonton perdebatan gratis antara Mei dan Farrel yang memperebutkan bangku di samping Dafin. Hal tersebut memicu berita yang entah disebar oleh siapa, bahwa Dafin adalah biang kerok dari kericuhan yang mampu mengundang banyak warga sekolah untuk berdatangan. Bayangkan saja, hanya karena ingin duduk bersama seorang Dafin, Mei dan Farrel sampai berdebat. Menurut mereka, Dafin tengah menjadi sensasi agar diperhatikan.
Telinga Dafin seakan ingin pecah, panas mendengar semua hal-hal negatif tentang dirinya dan pendangan benci dari banyak mata yang mengarah kepadanya. Dafin benci, benci saat dirinya terpojokan dan disalahkan.
"DIAM! "
Seluruh kelas diam. Yang tadi membicarakan Dafin, tiba-tiba Diam. Yang tadi bersorak-sorak siapa yang akan menang, terdiam dengan alat-alat dari dalam kelas sebagai peramai dan Mei yang sudah mempersiapkan kalimatnya terdiam membisu.
"Bisakah kalian diam?! Jangan lontarkan kata-kata yang membuat telingaku tercemar! Simpan kata-kata kotor itu dimulut kotor kalian! "
Semua terdiam. Merasa tersindir dengan kalimat yang diucapkan Farrel barusan. Terlebih yang memang benar-benar melakukannya.
"Dan lo!" Farrel menunjuk Mei, "Jangan pernah duduk lagi di bangku ini! " Jari telunjuknya beralih ke bangku di sebelah Dafin.
Mei menenguk salivanya. Menurutnya, Farrel yang sekarang lebih mengerikan. Urat-urat di leher pris itu menonjol, rahangnya mengeras dan giginya mengeluarkan bunyi menengangkan. Serta jangan lupakan tatapan elang yang teramat membunuh itu. Dengan cepat, walau setengah hati, Mei mengemasi alat tulisnya, lantas pindah ke tempat duduknya semula.
Farrel memandang datar sekitarnya, tatapannya jatuh pada sosok Dafin yang tengah menundukkan kepalanya. Dia tau, Dafin memikirkan semua kata-kata yang sepatutnya tak didengar olehnya.
"BUBAR! " Sedik kemudian, semua yang menonton perdebatan gratis itu membubarkan dirinya. Merasa akan dalam zona bahaya jika terus menonton.
Farrel mendudukan dirinya di bangku samping Dafin, memandang wajah Dadin dari samping yang masih menundukkan kepalanya. Farrel menghela napas, "Jangan nunduk. Aku nggak bisa lihat wajah kamu. "
Dafin mengangkat kepalanya, mendapati Farrel yang tersenyum ke arahnya dengan satu alis terangkat. Dafin membuang napasnya kasar, lantas mengalihkan atensinya ke luar jendela. Mungkin alam sekitar jauh lebih baik dari pagi ini, nata Dafin meredup sedikit. Langit yang tadi pagi di lihatnya tak secerah siang ini. Langit yang sekarang dilihatnya, jauh lebih redup. Seakan langit iyu seperti akan menangis sebentar lagi.
"Mau hujan, yak? "
Dafin menoleh, mendapati Farrel dengan cara senyum seperti sebelumnya. Farrel ternyata sangat menyebalkan, jauh berbeda saat pertama kali masuk ke kelasnya dengan gaya kalemnya. Mangajaknya berkenalan dan membuat janji pertemanan dengan gaya yang sangat cool. Tapi ini? Menyebalkan sekali.
"Aku sekarang sudah menjadi teman kamu, jika kamu lupa itu. "
Dafin menatap Farrel yang menatap ke depan. Jam pelajaran dari istirahat ke dua sampai sekarang memang kosong. Katanya, semua guru menghadiri acara yang diadakan Bu Gendis, yaitu khitanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
P A T E R ? [Terbit]
Ficção AdolescenteDia Dafinka Angelo. Pemuda yang memupuk harapan dengan senyum miris. Mencoba bertahan di tengah lautan luka yang menyanyatnya berkali-kali. Berharap ayahnya akan peduli. Sosok ayah yang seharusnya membimbingnya, menyayanginya, dan menjadi panutanny...
![P A T E R ? [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/195277944-64-k834311.jpg)