Satu persatu dari mereka telah meninggalkan pemakaman. Tinggallah aku beserta kelima saudaraku dan ponakan-ponakanku. Kami terlarut dalam kesedihan masing-masing. Kak Firman selaku saudaraku yang tertua kemudian mengajak kami pulang setelah beberapa waktu lamanya.
Setiap selesai Subuh, aku selalu ke kuburan orang tuaku. Aku mulai membaca ayat demi ayat dari surah Yaasin dan tahlil dari bibirku. Dan setelah itu aku pun terlarut dalam isak tangis yang begitu mendalam.
Matahari mulai menyingsing dari ufuk timur. Aku beranjak untuk pulang. Sekali lagi air mata ini beralasan untuk jatuh ketika aku tiba di rumah, aku kembali melihat foto Ayah dan Ibu.
“Aku tahu kamu sedih, dan aku pun merasakannya.”
Terdengar suara seorang lelaki yang tidak lain adalah Mas Farhan, suamiku. Aku menyeka air mataku dan melihatnya yang beranjak mendekatiku.
“Tapi kamu harus memikirkan diri kamu sendiri.”
Aku tetap diam dengan menundukkan kepalaku.
“Makan, ya?”
“Aku sedang malas makan.”
“Najwa, kamu sudah dua hari enggak makan.”
Mendengar perkataannya dengan sedikit terpaksa aku meraih sepiring nasi yang telah disiapkan oleh Kak Rifqa sejak tadi pagi. Lalu memakannya sedikit demi sedikit. Di satu sisi aku merasa bersyukur kepada Allah karena di balik luka yang begitu menggores hatiku Mas Farhan mulai memperhatikanku. Aku berharap sikapnya makin berubah ke belakangnya.
Mas Farhan mendekatiku dan duduk di sampingku. Dia lalu menghapus air mata yang masih saja mengaliri dua sudut mataku. Dia membantuku meletakkan piring makananku karena aku selesai makan dan mengambilkan air minumku.
“Najwa, cerita aja kalau memang ada yang ingin kamu ceritakan. Aku siap dengerin semua curhat-curhat kamu. Hm?”
Dia memintaku rebahan di pangkuannya. Perlahan aku menurunkan kepalaku dan rebahan di pangkuannya. Dia menatapku tajam sambil mengusap lembut kepalaku.
“Aku kangen sama Ibu dan Ayah, Mas.” Seperti biasa, saat kata Ibu dan Ayah keluar dari mulutku, air mataku pasti turun.
“Udah, jangan nangis. Tenang. Ada aku di sini.”
Waktu itu aku benar-benar bahagia. Aku bahagia karena mulai diperhatikan olehnya. Sikapnya sangat berubah seratus delapan puluh derajat. Dia mengajakku berkomunikasi dan bercanda tawa. Kali ini dia telah berhasil menghiburku, dia berhasil mengembalikan senyumku yang hilang beberapa waktu terakhir sejak kedua orang tuaku meninggal.
"Terima kasih, Mas."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Bidadari Surga (Tamat)
Short StorySemua anggota keluargaku semunya menikah karena dijodohkan oleh orang tuanya. Mereka bisa bahagia, meski itu bukan pilihannya sendiri. Maka, aku yang mempunyai garis keturunan dari mereka harus terlibat perjodohan juga. Tetapi entah mengapa, aku mer...
