9.

668 36 0
                                        

“Astaghfirullahal adzim.....” Lirihku ketika mendengar kata-kata dokter tadi. Masih terngiang di telingaku kata-kata itu.
“Ibu Najwa... kemungkinan besar suami anda akan mengalami koma dalam jangka waktu agak lama, dan mungkin ketika dia sadar dia akan mengalami kelumpuhan di sebagian organ tubuhnya. Jadi tugas anda saat ini adalah perbanyaklah berdoa agar suami anda cepat sadar dan kemungkinan-kemungkinan yang kami katakan tadi tidak terjadi. Dan kami akan melakukan yang terbaik untuk suami anda.”

Wajahku tertunduk dan tetesan air mata ini beralasan untuk jatuh dan mulai menggenangi daratan pipiku. Apa yang telah terjadi padanya saat ini benar-benar membuat hatiku pilu. Apalagi sudah tiga kali dua puluh empat jam dia tak sadarkan diri. Kak Fahri mengusap lembut bahuku. Mencoba membuatku tenang.

Walaupun hatiku sedang sakit, aku bukan lantas mengabaikan ibadahku dengan selalu menangis. Tapi aku mencoba mengisi dan mengobati lara hati ini dengan memperbanyak dzikir, istighfar dan membaca ayat-ayat suci al qur'an dan merupakan hal yang paling utama adalah memanjatkan do'a kepada Allah dalam setiap waktuku, terutama waktu tahajjud.
Dengan musibah yang telah aku alami saat ini aku berusaha menjadi wanita yang tegar dan selalu optimis, karena aku yakin bahwa rencana Allah yang telah di siapkan untukku dan suamiku pasti yang terbaik.

Usai bermunajah aku melangkahkan kakiku menuju arah suamiku. Aku mulai membacakan salawat syifa' di dua telinganya, dan hal ini aku lakukan rutin setiap selesai shalat, aku berharap semoga dengan barokah dari shalawat itu suamiku di berikan kekuatan untuk melewati masa komanya dan dia segera sadar.

“Ya Allah kuatkan suami hamba, sudah tiga hari berlalu tapi dia belum sadar juga.”
“Ya Allah... melihatnya terbaring lemah seperti saat ini, rasanya hamba kehilangan gairah hidup hamba. Hamba membutuhkannya Ya Allah...” Rintihku.
“Mas aku akan selalu ada disini, di dekat kamu sampai nanti kamu sadar.”

Aku memegang erat tangannya yang masih terasa dingin. Satu keajaiban telah Allah tunjukkan kepadaku. Jari telunjuknya bergerak dan dia membuka matanya. Dia sudah sadar, namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari lisannya, hatiku bertanya, ada apa dengannya? Ternyata ujian ini belum berakhir.

Apa yang dikatakan dokter beberapa waktu lalu menjadi kenyataan. Suamiku mengalami kelumpuhan pada dua tangan dan kakinya serta dia tidak mampu berbicara. Terjadi kerusakan pada pita suaranya. Hatiku menangis, aku sangatlah terpukul dengan semua ini. Dengan segera aku beristighfar kepada Àllah, aku harus kuat menghadapi ujian ini. Aku harus selalu ingat pada kata-kata ibuku.

“Jangan pernah mengeluh dengan apa yang kamu alami saat ini sayang!”
“Memang sulit untuk menjadi orang yang sabar, tapi kalau kamu berusaha kamu pasti bisa sayang.”
“Kamu yang sabar ya sayang... kakak akan selalu ada buat kamu.”
“Makasih kak...”

Aku kembali melabuhkan tubuhku di pelukannya. Dia benar-benar telah menjelma sosok ayah yang telah lama tidak ku peluk. Aku merasa nyaman bersamanya. Aku merasa punya kekuatan kembali untuk tetap optimis menjalani hidupku. Dua hari berikutnya Kak Rifqa dan kak Ratih datang. Mereka juga ikut berduka dengan musibah yang melanda diriku.

“Najwa... kak Firman mau bicara...”

Kak Fahri memberikan handphone-nya padaku.

“Halo Najwa sayang... kamu apa kabar disana?”

Kak Firman; kakakku yang tertua menyapaku dengan sapaan manjanya di balik layar ponsel J2 hitam itu melalui video call.

“Najwa baik-baik saja kak...”
“Kak Firman minta ma'af sayang, kak Firman terlalu sibuk mengurus pekerjaan kakak disini.”
“Iya kak gak papa. Lagian disini sudah ada kak Fahri, kak Ratih dan kak Rifqa.”
“Kamu harus sabar ya sayang.”
“Iya kak.”
“Ya sudah, kakak mau balik kerja dulu sayang.”
Aku menutup telfonnya.

Bidadari Surga (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang