"Kalian semua lebih baik kembali ke kelas dulu. Biar pihak sekolah yang melanjutkan perkara ini." titah Om Rahmat.
Kami semua menurutinya. Kami lemas, sudah tidak mampu lagi untuk berdebat atau menyanggah Om Rahmat.
Saat kita berjalan di koridor, Semesta menghentikan kami.
"Ck, berkurang lagi ya. Emm, padahal gue baru ngomong tadi. Kasian ya" cibirnya.
Aksen sudah mengepalkan tangannya.
"Kita lagi ngga mau ribut. Cabut" ucap Jeff.
Kami melewati semesta. Ada yang aneh dengannya, saat kami melewatinya senyum smirk terlihat di bibirnya. Kenapa dia?
"Kalian ngerasa aneh ngga sih? Sama semua kejadian-kejadian yang ngga lazim ini" ucap Franda.
"Iya, kejadian kematian mereka berdua sama, di sekolah ini." ucap Neska.
"Apa mungkin mereka dibunuh? Bukan bunuh diri?" tanya Zaron.
"Lo ngaco! Siapa yang punya niatan buat bunuh mereka? Apa motifnya?" tanya Jeff.
"Kita semua ngga tau, mungkin kita temenan sama mereka berdua, tapi kita semua ngga tau apa aja masalah pribadi dalam hidup mereka" jelas Zaron.
"Lo bener Za, mereka ngga mungkin bunuh diri" ucap Aksen menimpali.
"Terus sekarang kita harus gimana? Gue ngga mau mati juga,siapa tau kali ini giliran gue kan?" tanya Wiliam.
"Diem lo! Ngga ada yang bakal mati lagi" ucap Aksen tajam.
"Maksud lo?" tanya Neska.
"Kita harus cari tau akar dari semua ini" ucap Aksen.
"Tumben Aksen ngomong panjang" gumam Franda.
"Balik ke kelas masing-masing. Malem ini kita ke rumah Citra" perintah Jeff.
Kami semua berpisah di koridor utama.
"Ini kita masih jamkos ngga sih?" tanya Neska.
"Masih. Mungkin sampai jam pulang" jawab Franda.
"Gue ngga nyangka Citra bakal ninggalin kita" ucap Zaron.
"Gue juga. Padahal siang ini kita mau ke makam Putra kan." ucap Neska.
"Gimana lagi, mungkin udah waktunya dia pergi." ucap Franda.
"Gue kasian sama Baron, dia belum nembak Citra sampe sekarang. Gue ngga sengaja liat dia nangis ke toilet. Ngga nyangka aja si, cowo kaya dia nangis" ucap Zaron.
"Ya lo ngga tau aja, gue yang sekelas sama Baron tiap hari cape Za. Dia nanya-nanya mulu tentang Citra ke gue" ucap Franda.
Kami bertiga terkekeh pelan.
Zaron, Neska dan Citra memang sekelas. Sialnya Franda sekelas dengan Baron. Dan Jeff, Aksen,Putra dan Wiliam mereka satu kelas.
"Eh gue mau ke loker bentar ya. Kalian balik duluan aja" ucap Zaron.
"Mau ambil apa? Gue temenin deh" pinta Neska.
"Ngga usah, cuma ambil headphone kok." kata Zaron.
"Yaudah gue sama Franda duluan." ucap Neska.
Zaron melangkahkan kaki menuju lokernya. Dia menatap keramik dengan sendu.
"Citra. Semoga tenang" batinnya berkecamuk.
Koridor loker sangat sepi. Ia mencari loker yang tertera namanya, lalu membukanya dengan pasti.
Ceklek.
"Apa ini? Surat?" tanyanya dalam hati.
Ia menemukan sepucuk surat beramplop hitam. Tidak ada kata-kata tertera di depannya.
Ia membolak-balikannya.
"Ini buat gue? Siapa yang masukin? Ko bisa?" tanyanya bergumam.
Bagaimana bisa ada surat di dalam lokernya. Sedangakan, kunci loker berada di tangannya. Satu-satunya orang yang bisa membuka seluruh loker hanyalah kepsek.
Zaron membukanya, sembari menutup lokernya kembali dan menguncinya.
-----------------------------------------------------------
To : Zaron Sidney Siregar
Cepat!
Jangan anggap angin lalu surat yang ku berikan. Jangan anggap remeh semua yang ku tuliskan disini.
Yang sudah waktunya pergi memang akan pergi, namun kamu bisa mencegahnya pergi jika kamu mau.
Cari rekanmu yang juga memiliki surat dariku. Waktumu tidak lama. Temukan pelakunya, ungkap faktanya!
From : Anonymous
-----------------------------------------------------------
Ia membolak-balikan kembali surat itu. Huruf yang tertera bukan ketikan komputer melainkan tulisan tangan.
"From Anonymous?" tanyanya.
"Siapa sih, iseng banget deh" ucapnya menggerutu lalu memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop nya dan memasukannya ke saku almamater.
Ia acuh saja, dan memlilih berjalan kembali ke kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anonymous Letter ✔ end
Misterio / SuspensoAda surat beramplop hitam di loker siswa-siswi yang terpilih. Keadaan di sekolah semakin hari semakin kacau. "Kenapa harus kita yang terpilih dari sekian banyaknya murid disini?" batin siswa-siswi yang terpilih. Kalian harus bertindak cepat. Terla...
