26. Clue

50 8 0
                                        

Tok tok tok

"Permisi Om" panggil Jeff dari luar.

Mereka semua sudah berjejer rapi di depan ruang kepsek. Jeff bilang Om Rahmat meminta mereka semua untuk datang ke ruangannya.

"Jeff dan yang lain ya? Masuk" jawab Om Rahmat dari dalam.

Mereka segera masuk dan menutup pintu.
Lalu duduk di sofa yang biasa mereka duduki saat kesini.

"Ada apa ya Om?" tanya Jeff.

"Tadi Pak Soleh kesini" kata Om Rahmat memulai obrolan.

Zaron sedikit terkejut, mengingat yang Pak Soleh dan dia sepakati di gedung olahraga tempo hari. Bukannya kata Pak Soleh mereka sedang tidak akrab?

"Dia cerita dan ketakutan.. " ucapnya mulai bercerita.

"Itu beneran Om?" tanya William tak percaya.

"Apa di lab ada hantu jam dinding?" tanya Franda.

"Semua yang dikatakan Pak Soleh benar, saya sudah bertanya langsung kepada Pak Yudi. Dan memang itu kenyataannya" kata Om Rahmat.

"Soal tembok itu, apa Pak Yudi tau?" tanya Semesta.

"Saya rasa dia tidak tau. Maka dari itu saya tidak menanyakan kepadanya" kata Om Rahmat. Kami semua mengerti.

Zaron bingung. Pak Soleh tidak bercerita kepadanya soal hal ini.

"Saya ajak kalian kesini sekaligus untuk melihat ini" ajak Om Rahmat ke arah komputer yang ada di meja kerjanya.

Semuanya mengikuti dan mengerumuni.

"What!! Itu rekaman cctv Om?" tanya William takjub.

"Iya, saya baru mendapat ide untuk melihat semua kejadian yang terjadi. Dimulai dari kematian Putra" kata Om Rahmat.

Om Rahmat mulai memutar rekaman itu. Semua rekaman diambil dari banyak sisi.

Anehnya, toilet tempat Putra meninggal tidak terekam, seperti sengaja diburamkan.
Pada saat Hardi datang baru terlihat jelas.

Saat kematian Citra pun sama.
Cctv lab komputer dibuat rusak. Namun saat jatuhnya Citra ke bawah dapat tertangkap cctv taman.

"Ini yang gue tunggu-tunggu, kematian Kak Ervanka" kata Neska berbisik.

Terlihat di cctv Ervanka sedang membuka botol air mineral sambil berjalan di koridor.
Sangat sepi sekali karena saat itu sedang jam istirahat.

Tiba-tiba seseorang berhodie hitam memukul kepalanya dari belakang dengan tongkat kasti.

Kami sempat terkejut saat Kak Ervanka kesakitan sekali.
Orang berhodie itu memakai celana yang sama dengan seragam mereka. Namun dia menutupi atasannya dengan hoodie hitam dan kepalanya ia tutupi dengan penutup hodienya.

Dia juga menggunakan masker hitam. Kami benar-benar tidak mengenalinya.

"I-itu mau dibawa kemana?" tanya Jeff shock.

Kak Ervanka terkulai lemah lalu orang itu memelintir tangan Kak Ervanka dan menyumpal mulut Kak Ervanka dengan tongkat kasti agar tidak teriak.

Setelah tangannya patah menghadap ke belakang , ia segera menyeret Kak Ervanka menuju rooftop.

"Jadi bener itu darah dia?" tanya Semesta tak percaya.

Orang berhoodie tadi mengeluarkan cutter, dan merobek rahang bawah Kak Ervanka tanpa rasa kasihan sedikitpun.

Kami semua bergidik ngeri.

"Om, tolong pause sebentar" pinta Aksen.

"Kenapa?" tanya Om Rahmat.

Anonymous Letter ✔ endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang