"Lo balik gih ke kelas" suruh Semesta lalu memasukkan lagi surat aneh itu ke dalam amplop.
"Ih gamau, gue kepo" rengek Kintan.
"Balik, ini orang iseng. Gue mau ke toilet " ucap Semesta sok santai lalu berjalan meninggalkan Kintan.
"Ishh nyebelin" ucap Kintan menghentakan kaki lalu kembali ke kelasnya.
Sebenarnya Semesta tidak benar-benar ke toilet, dia hanya bersembunyi di koridor lain, lalu duduk di bangku setelah Kintan pergi.
"Anonymous? Siapa? Kenapa gue? " tanyanya sendiri.
"Apa ini dari Putra? Dia hantuin gue gara-gara gue usik si Aksen. Engga-engga bukan! Tapi ngga mungkin juga dia hidup lagi" ucapnya sambil meremas surat dengan gemetar.
Pranggggg
Jantungnya hampir berhenti berdetak saat salah satu kaca kelas seberang pecah seketika. Seperti di lempar batu.
Seluruh siswa di dalamnya keluar, mencari tau siapa yang memecahkan kaca.
"Semesta!" teriak Pak Soleh.
Semesta menengok terkejut. Seluruh siswa menatapnya ingin tau.
"Kamu yang memecahkan kaca ini?!" tanya Pak Soleh sedikit berteriak.
"Bu-bukan saya Pak sumpah" balas Semesta tak terima.
"Kalau bukan kamu siapa lagi yang ada disini! Lantas kenapa wajah kamu ketakutan seperti itu! Ikut saya ke kantor" bentak Pak Soleh.
"Ta-tapi Pak" Ucapnya menolak namun Pak Soleh sudah terlebih dahulu menariknya.
Beruntung ia membawa surat itu bersamanya. Kecuali amplop hitam itu yang tertinggal di bangku bekasnya duduk tadi.
Zaron melangkah mendekat. Ya, kelas tadi memang kelas Zaron. Ia seperti mengenal benda itu.
Semakin mendekat, lalu matanya membola saat ia berhasil meraih amplop hitam itu. Amplop yang sama seperti yang ia terima.
Zaron memandang kepergian Semesta yang semakin menjauh dari posisinya.
"Semesta juga dapet dari Anonympus itu? " gumamnya.
"Za, sini, ngapain lo disana" panggil Neska.
"Iya gue kesana" balasnya berteriak lalu memasukkan amplop tadi ke sakunya.
"Kenapa? " tanya Neska saat Zaron kembali.
"Kenapa apa? " tanya Zaron balik.
"Kaya kebingungan gitu" ucap Neska memandang lekat wajah Zaron.
"Engga kok, b aja gue" ucap Zaron tersenyum berusaha menutupi.
Neska mengangguk-angguk saja.
"Gue sih tadi sempet liat Semesta, dia cuma duduk diem aja ko"
"Ah masa, dia kan suka bikin onar"
"Iya, bener tuh. Ngga heran kalo dia iseng mecahin kaca "
"Tapi dia cuma duduk. Beneran, baca apa gitu, serius banget"
"Tapi gue baru liat dia setakut itu deh"
Bisik-bisik terdengar di telinga Zaron.
"Kalo bukan Semesta lalu siapa?" batin
Zaron.
"Eh eh Semesta noh"
"Mana-mana?"
Zaron mencari tau Semesta lewat pandangan teman-temannya.
Ternyata dia sedang berdiri hormat ke bendera. Siang-siang bolong begini?
Pak Soleh memang tidak main-main jika memberi hukuman.
"Gue ke Franda bentar ya" pamit Neska.
Ini kesempatan bagi Zaron untuk mencari tau. Berhubung sedang pergantian jam, dan gurunya pun belum datang-datang, lebih baik dia pergi sebentar.
Dia mendekat pada Semesta. Untung saja tidak diawasi oleh Pak Soleh.
"Ekhm" dehen Zaron.
Semesta hanya melirik melalui ekor matanya.
"Semesta?" panggil Zaron tak yakin.
Pasalnya, Zaron tak begitu mengenal Semesta. Pria ini famous karena kenakalannya dan isu permusuhannya dengan Aksen. Sebenarnya Zaron takut, tapi ia harus mengalahkan takutnya demi rasa ingin taunya.
"Semesta" panggil Zaron lagi.
"Ck,Apasih" decak Semesta malas. Dia sedng bad mood karena di beri hukuman padahal hal tadi bukan kesalahannya.
"Pak Soleh mana?" tanya Zaron.
Alis Semesta menunjukan keberadaan Pak Soleh yang ternyata sedang mencuci tangan.
Zaron meninggalkan Semesta menuju Pak Soleh. Dia tak tau, Semesta diam-diam mengikuti gerak-gerik nya.
Zaron berbicara singkat dengan Pak Soleh. Semesta tak tau mereka membicarakan apa. Namun setelahnya Pak Soleh menuju ke arahnya.
"Sudah cukup. Kembali ke kelas kamu" ucap Pak Soleh tiba-tiba.
"Hah? Yang bener Pak?" tanya Semesta bingung.
"Iya, maaf Bapak sudah menghukum orang yang tidak bersalah" ucap Pak Soleh lalu pergi.
Semesta menepi, diikuti Zaron karena lapangan memang sangat panas hari ini.
"Bilang apa aja lo?" tanya Semesta menatap Zaron tajam.
"Gue tau bukan lo yang mecahin, gue suruh aja Pak Soleh ke cctv, eh dia udah percaya tanpa liat kesana" ucap Zaron.
Semesta mengangguk-angguk. Dia tak berniat berterimakasih, dia memilih menyugar rambutnya.
Zaron merogoh kantongnya. Lalu menyerahkan amplop hitam tadi.
Semesta tercekat, kembali teringat pada surat itu.
"Ini tadi jatuh di bawah bangku" Ucap Zaron.
"Oh iya" balas Semesta lalu menerima amplop itu dengan tergesa.
Saat hendak pergi, Zaron memanggilnya.
"Lo dapet kapan? Anonymous bukan?" tanya Zaron.
Semesta berhenti lalu berbalik menuju Zaron.
"L-Lo juga da-dapet?" tanya Semesta tak menyangka.
Zaron mengangguk.
"Dapet, minggu lalu di loker" jawab Zaron yang membuat Semesta melotot.
"Kenapa sih lo?" tanya Zaron merasa aneh.
"Gue jadi yakin ini bukan sekedar prank, gue dapet di loker juga. " ucap Semesta.
"Maksud lo?" tanya Zaron.
"Kita bahas ini lagi besok jam 7 malem di Cafe Candas, gue tunggu lo " ucap Semesta lalu pergi.
Zaron menatap punggung Semesta yang menjauh, lalu memilih kembali ke kelasnya.
Sepertinya mulai hari ini dia akan berurusan dengan tukang pembuat onar itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anonymous Letter ✔ end
Mystery / ThrillerAda surat beramplop hitam di loker siswa-siswi yang terpilih. Keadaan di sekolah semakin hari semakin kacau. "Kenapa harus kita yang terpilih dari sekian banyaknya murid disini?" batin siswa-siswi yang terpilih. Kalian harus bertindak cepat. Terla...
