Ting
Notifikasi tertera di layar iphone Semesta. Dia membacanya dalam diam di bawah laci meja. Karena kelas sekarang sedang pembelajaran.
Gibran
Taman belakang sekarang
"Hah? Gibran?" tanyanya dalam hati.
Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, merapikan seragam lalu beranjak dari duduknya.
"Bu,permisi ke toilet" izinnya pada guru mapelnya.
Setelah diperbolehkan dia segera bergegas untuk menemui Gibran, bukan ke toilet.
Semesta sudah lama mengenal Gibran. Karena reputasinya yang nakal tentunya, saat dia masih murid baru, banyak kakak kelas yang terang-terangan ingin berteman dan nongkrong dengannya. Salah satunya ya Gibran.
Sesampainya di taman, dia menengok ke kanan kiri, untuk mencari keberadaan Gibran. Sepi sekali disini, mungkin karena sedang mapel.
"Ekhem" dehem seseorang.
Semesta menoleh ke belakang.
"Kak, ada apa?" tanya Semesta santai.
Walaupun nakal dia tetap menghormati dan memanggil seniornya dengan sebutan kakak.
Gibran menengok ke kanan dan kiri, setelahnya merangkul pundak Semesta.
"Udah lama ngga nongkrong lo, kemana aja?" tanya Gibran ramah.
Semesta mengernyit.
"Oh iya, sorry, gue lagi banyak urusan aja." jawab Semesta.
"Gimana kalo nanti malam, kita ke bar" ajak Gibran.
"Bar?" tanya Semesta kaget.
Sudah lama sekali dia tidak kesana.
"Iya, suntuk banget gue nih, belajar mulu" desah Gibran.
"Emm, okelah" ucap Semesta setuju.
"Sip brother! Yaudah gue cabut" ucap Gibran lalu pergi.
"Hmm" balas Semesta seadanya.
Semesta berfikir, jika memang hanya mengajak ke bar, ya okelah bisa dibacarakan lewat chat. Untuk apa Gibran mengajak bertemu di taman belakang?
Semesta mengidikkan bahu lalu kembali ke kelas sebelum gurunya mengomel karena dia terlalu lama pergi.
"Kintan?" ucap Semesta tak yakin.
Dia melihat Kintan di samping Lab.Fisika sedang berbincang dengan seseorang yang membelakanginya.
Entah hanya perasaanya saja atau memang benar, orang itu menggunakan sepatu yang sama dengan yang Pak Barjo tunjukkan kemarin.
Semesta berniat menguping.
"Lo tenang aja, urusan Semesta udah Gibran urus" ucap orang itu, suaranya menunjukkan bahwa ia perempuan.
Tapi kenapa obrolan mereka membawa-bawa namanya?
"Lo yakin?" tanya Kintan pacarnya.
"Iya" balas orang itu.
"Gue balik ke kelas ya Tan, bye" ucap orang itu pamit.
Semesta segera pergi menjauh dan kembali ke kelas dengan fikiran tidak tenang.
Beruntung gurunya tidak memarahinya. Dia duduk dengan resah. Dia tak sadar jika Aksen sedari tadi menatapnya.
Aksen tau jika Semesta resah dia akan memainkan jari-jarinya saling bertautan lalu menggigit kukunya dengan gigi.
Kringg kringgg
Bel pergantian mapel berbunyi. Kesempatan bagi Aksen untuk bertanya kepada Semesta, tapi lagi-lagi, gengsinya terlalu tinggi.
"Jeff"panggil Aksen.
"Iya Sen" jawab Jeff.
Aksen membisikkan sesuatu kepada Jeff. Jeff mengerti lalu melangkah pada Semesta.
"Ta" panggil Jeff.
"Semesta" panggil Jeff lagi.
"Apa dia melamun? " tanya Jeff dalam batin.
"Semesta" teriak Jeff.
"Anj*** Apaan" balas Semesta kaget.
"Lagian gue panggilin diem aja" tukas Jeff.
Semesta menghela nafas gusar.
Jeff menyipitkan mata.
"Kenapa lo?" tanya Jeff.
"Apa?" tanya Semesta balik.
"Kaya ngga biasanya gini" ucap Jeff.
"Emang gue biasanya gimana. Gini-gini aja lah" ucap Semesta.
"Dih malu lo?" tanya Jeff mulai sarkas.
Orang seperti Semesta, sama dengan Aksen. Sama-sama gengsi!
"Apasih lo, gajelas" ucap Semesta.
Jeff membungkukan badannya lalu berbicara lirih dengan Semesta.
"Lo bisa cerita ke gue tanpa gengsi, dari dulu pun, lo juga temen kelas gue, bukan musuh gue" ucap Jeff lalu kembali ke tempat duduknya karena guru sudah datang.
Semesta menoleh ke arah Jeff. Jeff menaikkan alisnya.
Semesta ragu, namun ia ingin. Entahlah.
Sebaiknya ia memperhatikan penjelasan guru, dengan fikiran yang berkecamuk hingga bel pulang sekolah berdering.
"Kita kumpul di rumah William ya" ajak Jeff.
"Oke" jawab Aksen.
"Gue gabisa, ada urusan" tolak Semesta.
"Urusan apa?" tanya William.
"Ada, nenek gue suruh gue ke rumah" jawab Semesta asal.
"Oh yaudah. Yang lain tetep kumpul tapi ya" kata Jeff.
Aksen dan William mengangguk. Semestara Semesta melenggang pergi.
"Lo tadi tanya?" tanya Aksen.
"Udah, tapi dia ngga mau cerita" jawab Jeff.
Aksen menghela nafas, walaupun dia musuhnya, namun tetap ada rasa khawatir kepadanya, entah karena apa.
"Emang kenapa sih?" tanya William bingung.
"Itu Semesta keliatan suntuk gitu sejak balik dari toilet, tau deh kenapa" ucap Jeff.
"Oohh, gue kira apaan. Biarin aja, paling urusan sama Kintan. Udah gede ini. Yuk balik" ajak William.
Jeff dan Aksen mengikutinya keluar kelas.
"Eh-eh" sela William dengan merenggangkan tangan menghalangi jalan Aksen dan Jeff.
"Apaan si" sewot Jeff.
"Stttt,liat tuh" bisik William.
Jeff dan Aksen mengikuti arah pandang William.
Di sana ada Semesta dan Kintan. Keduanya terlihat sedang ribut.
"Bener kan dugaan gue? Emang mereka lagi ada masalah" bisik William.
"Gue ngga yakin" batin Aksen.
"Dia malu kali ya cerita sama gue, takut gue sebut-sebut bucin" ucap Jeff.
"Yuk ah biarin" ucap Wiliam lalu pergi diikuti Aksen dan Jeff.
Mereka tidak tau jika ada sepasang mata di balik tembok yang mengawasi Semesta dan Kintan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anonymous Letter ✔ end
غموض / إثارةAda surat beramplop hitam di loker siswa-siswi yang terpilih. Keadaan di sekolah semakin hari semakin kacau. "Kenapa harus kita yang terpilih dari sekian banyaknya murid disini?" batin siswa-siswi yang terpilih. Kalian harus bertindak cepat. Terla...
