5. PINGSAN

32 19 5
                                        

Sudah lama sejak Dara dan kedua sahabatnya menghirup udara ini lagi, udara oppa-oppa dengan kearifan lokal. Eh.

Ada banyak peserta yang lewat di depan mereka hingga akhirnya rombongan terakhir membuat nafas Dara tercekat, siapa lagi kalau bukan ARTCREW? Mereka berhenti tepat di depan Dara dan sahabatnya.

"Halo junior gue." Sapa Vano dengan tangannya yang terlampir di bahu Dara yang membuat semua yang ada di atrium itu membulatkan mata tak percaya atas apa yang mereka lihat.

"Hah? Junior?" Tanya Raisa menatap Dara meminta jawaban namun hanya dibalas senyum canggung dari gadis itu.

"Lo gatau Sa? Kak Vano sama kak Dipta kan emang sekampus sama Dara. Eh sama kak Iki juga sih." Pernyataan Naya membuat mata Raisa membulat sempurna, Raisa masih ingin bertanya namun diurungkan karena Dara yang sedikit bergerak agar tangan Vano yang dari tadi terlampir di bahunya terlepas.

"Kita kesana dulu ya kak hehe." Ujar Dara sembari menarik sahabatnya menjauh meninggalkan anak ARTCREW yang menatap punggung mereka bertiga, apalagi Vano yang hanya tersenyum miring memikirkan betapa lucunya Dara itu.

"Lucu juga yah si Dara." Vano tertawa kecil lalu menatap Dipta yang tidak mengatakan apapun.

"Eh Ta? Kok lu diem aja sih?" Vano mendekatkan wajahnya ke depan Dipta menatap Dipta menuntut alasan kenapa temannya itu sangat pendiam hari ini.

"Keknya si Dipta kesambet Van." Sela Rifqi Mahendra yang akrab disapa Iki yang daritadi hanya menonton interaksi kedua sahabatnya dengan gadis-gadis itu. Oh iya, Rifqi Mahendra salah satu member ARTCREW. Dia juga gantengnya ga ketulungan, eh semua anak ARTCREW sih ganteng-ganteng. Sebenarnya anak ARTCREW itu banyak hanya saja 4 orang diantara mereka yang paling dikenal sebagai pentolan komunitas ini karena selain ganteng, mereka juga sangat berbakat juga ramah sama fans yang membedakannya hanya sifat mereka. Dipta sang leader, Vano, Rifqi dan satu lagi Wira Ananta Wesley tapi jangan tanya soal Wira dulu soalnya dia lagi di london ngurusin perusahaan bokapnya, maklum konglomerat. Mereka berempat juga sekampus namun hanya Rifqi yang tidak bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa UTB oleh karena itu dia tidak bertemu Dara saat penerimaan mahasiswa baru.

~~

Dara, Naya dan Raisa kini berada di barisan paling depan menonton peserta dance cover competition yang membawakan lagu Stray Kids – Side Effects.

"Ya Allah, yang jadi Chan ganteng bener." Seru Raisa yang kini bertepuk tangan dengan wajah cengo' nya mengagumi visual dari salah satu peserta dance cover competition yang mengisi posisi Bang Chan itu.

"Ih yang Lino juga ganteng anjir. AAAAAAAHHHHHKKK!" Naya yang tak mau kalah memilih berteriak membuat Dara menjadi pusing karena suasana event hari ini lebih ramai dari biasanya. Lebih banyak penonton yang mengisi venue membuat mereka berdesak-desakkan apalagi dengan udara yang pengap karena atrium ini tidak memiliki ventilasi menyebabkan Dara semakin tidak bisa menahan tubuhnya yang akhirnya ambruk hingga semua orang di atrium menjadi panik.

"Ya ampun Dar!" Naya menggoyangkan tubuh Dara yang kini terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat pasi.

"Tolong! Tolong! Aduh kok bisa pingsan sih si Dara." Raisa kini menggaruk kepalanya yang tidak gatal apalagi dengan orang-orang yang berkerumun ingin mengetahui apa yang terjadi malah membuat kedua gadis itu semakin bingung harus berbuat apa.

"Aduh jangan dikerumunin dong, Ya Allah Nay gimana nih." Raisa menoleh mencai orang yang bisa dimintai bantuan namun nihil.

"Gimana ngang-"

"Minggir." Tiba-tiba sebuah suara membuat kerumunan orang menjadi terbuka memberi orang itu jalan agar bisa menghampiri Dara lalu berjongkok lalu mengambil posisi dan mengangkat Dara ala bridal style.

"Ambil tas nya." Suara itu membuat Naya dan Raisa yang tadinya bengong malah gelagapan mencari tas Dara lalu mengikutinya dari belakang disusul oleh kedua teman dari lelaki itu.

~~

Kini Dara terbaring di atas tempat tidur kamar rawat inap rumah sakit sendirian, eh ralat- berdua dengan seorang lelaki yang sedang duduk di sofa membaca buku. Jangan tanya kemana Naya dan Raisa, mereka mungkin sudah tidur di rumah mereka masing-masing. Bukan karena mereka tidak mau menjaga Dara hanya saja gadis itu sudah terbaring selama 4 jam dan belum sadar juga, padahal sudah pukul 00.20.

Pergerakan dari gadis yang ada diseberangnya membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah Dara yang membuka kedua matanya.

"Udah bangun?" Ucap lelaki itu membuat Dara mengerutkan dahinya, lalu menoleh mencari tahu dirinya ada dimana namun setelah sadar dia kembali menoleh mencari sesuatu membuat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya lalu berdiri menghampiri Dara yang sepertinya linglung.

Mata Dara membulat melihat lelaki yang kini berdiri di dekatnya, namun senetral mungkin gadis itu mencoba untuk menyembunyikan rasa terkejutnya lalu mencoba untuk mengubah posisinya menjadi duduk.

"Jangan dipaksain kalau gabisa." Lelaki itu membantu Dara agar bisa duduk dengan meletakkan bantal di punggung Dara. Melihat gadis itu hanya diam dia hanya menghela napas kasar.

"Kata dokter lo kecapean ditambah maag lo kambuh karena ga makan, lagian lo ngapain sih ke event kalau belum makan pas dirumah? Kan kalau lo pingsan gini yang susah juga orang lain." Oceh lelaki itu kesal apalagi lawan bicaranya hanya diam menunduk dan memainkan jemarinya.

"Maafin gue kak and thanks." Hanya itu yang bisa Dara ucapkan dia tidak tahu harus berbuat apa jadi dia hanya tersenyum menatap lelaki itu, sedangkan yang ditatap hanya menghela napas dan menarik kursi agar bisa duduk di samping Dara.

"Manis juga ya senyum lo Dar, hahaha." Gombal lelaki itu agar Dara tidak terlalu memikirkan yang telah terjadi, dan sepertinya berhasil karena gadis itu kembali tersenyum.

"Ternyatakak Vano yang receh bisa ngomong gitu juga hahha." Ucap Dara kepada Vano yang tertawasambil mengacak rambut gadis itu.



Hayoloh, masih setia ga tim Dara-Dipta?

-caca

DAMAIWhere stories live. Discover now