Selebar Daun Kelor

178 74 12
                                        

"Kau tidak berterimakasih?" tanya Kevin tiba-tiba setelah membantuku duduk di kasur kamarku.

"Kupikir kau masih marah, kau hanya diam daritadi," jawabku.

"Aku tidak pernah marah Clara, aku hanya kesal."

"Iya sudahlah sepertinya memang tidak perlu di bahas lagi masalah itu," ucapku.

"Kau tidak kembali ke sekolah?" lanjutku.

"Tidak," jawabnya santai.

"Kembalilah ke Sekolah, aku tak apa," suruhku.

"Memangnya aku tidak kembali karena kau? jangan terlalu percaya diri," jawabnya sambil menoyor kepalaku.

"Dasar," gumamku lirih.

"Kau sudah sarapan?" tanyanya.

"Sudah," jawabku.

"Baiklah, istirahatlah yang baik aku akan ke kamarku," ucapnya sambil berdiri dan memasukan ke dua tangannya ke dalam saku celana. Sangat keren.

"Hm Kevin!" panggilku.

"Ya?" jawabnya.

"Tidak bisakah kau disini saja? aku lelah selalu sendirian," ucapku.

"Heii, kau benar-benar sakit ternyata," ucapnya menahan tawa sambil memegang dahiku.

"Jangan terlalu drama, ada banyak orang diluar sana kenapa bisa kau sendirian?" lanjutnya.

"Kau berubah," ucapku.

"Maksutmu?"

"Dulu kau selalu manis dan memperlakukan aku seperti adikmu, sekarang kau hanya bisa memaki," jujurku dengan ekspresi yang sudah tidak terkontrol. Kenapa tiba-tiba aku jadi sedih.

"Memangnya kau memperlakukan aku seperti kakakmu?" tanyanya.

"Memangnya memperlakukan seperti kakak itu bagaimana?" tanyaku.

"Kau saja tidak tau, aku juga tidak tau memperlakukan seperti adik itu bagaimana?!" jelasnya.

"Lihat! kau marah-marah lagi," ucapku setelah menghela nafas kasar.

"Karena kau selalu membuatku emosi!"

"Sudah sudah pergilah jika ingin pergi!" usirku, kemudian dia benar-benar pergi.

---

Dari pagi sampai siang aku hanya bermalas-malasan di Kamar. Sangat membosankan.
Kupikir hidupku baik-baik saja, ternyata di hari pertama sekolah aku sudah membuat kakiku sendiri seperti ini. Sangat tidak lucu besuk aku ke Sekolah dengan tongkat.

"Oiya, pekerjaanku!! Hari ini kan juga hari pertamaku bekerja. Huh, sepertinya aku juga akan kehilangan pekerjaanku."

CEKLEK.

"Astaga!! Apa kau tak bisa mengetuk dulu sebelum masuk??" ucapku karena Kevin tiba-tiba masuk. Tentu saja aku sangat terkejut.

TOK TOK

"Urutannya salah Kevinnn," ucapku sedikit kesal melihat tingkahnya.

"Kau butuh sesuatu?" tanyanya.

"Iya," jawabku cepat.

"Waah padahal aku hanya berbasa-basi, harusnya kau jawab 'tidak' saja," katanya.

"Hari ini seharusnya aku mulai bekerja, bisa bawa aku ketempat kerjaku? aku ingin meminta izin dulu," jelasku.

"Bekerja?" tanyanya heran.

"Iya," jawabku singkat.

"Kau mau mengajak ku bertengkar lagi ya? Kerja?? Kau pikir keluargaku tak sanggup membiayaimu ha???"

"Bisa tidak sehari saja tidak usah membentak ku?" kesalku.

"Tidak!"

"What?"

"Maksutku, aku tidak akan membawamu kesana!" terangnya.

"Aku bisa kehilangan pekerjaanku Kevin!" ucapku.

"Aku bisa membiayaimu!" ucapnya tegas.

"Uhuk, kenapa kau terdengar seperti sedang melamarku?" ucapku membuat suasana tiba-tiba sedikit canggung.

"Terserah!" jawabnya singkat.

Setelah itu, tidak ada yang bersuara. Kevin hanya duduk di sofa sambil bergelut dengan game di ponselnya. Aku sendiri juga hanya memainkan ponselku tidak jelas. Sampai pada akhirnya ..

"Mas Kevin, ada Mas Arka di bawah," kata Bi Iyem.

"Suruh naik saja Bi," ucap Kevin tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Baik Mas," jawab Bi Iyem.

Arka?
Apa mungkin Arka yang itu?

"Hei Kevin! kau pulang dari wisata sekolah bukannya memberiku oleh-oleh malah membuatku mengantar tasmu, kau kenapa pindah ka-, Clara?!"

Ternyata benar Arka yang itu.

"Haii," sapaku sambil tersenyum kikuk dan melambaikan tangan.
Aku yakin dia terkejut. Sebelum melihatku dia mengomel pada Kevin. Setelah melihatku dia diam seribu bahasa.

"Kalian saling kenal?" tanya Kevin mengalihkan padangnya pada kami berdua. Padahal sebelum itu dia tidak tertarik sama sekali dengan ocehan Arka.

Dan aku maupun Arka tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Mungkin karena Arka masih terkejut juga haha.

"Kau baru beberapa hari sudah mengenal banyak orang! Kapan kalian berkenalan?" ucap Kevin padaku.

"Selain memarahiku, kau tidak bisa lakukan hal lain?" tanyaku pada Kevin tanpa menjawab pertanyaannya.

"Sudah sudah, kalian ini saudara? atau apa? Kenapa aku tidak pernah tau?" tanya Arka bangun dari sikap terkejutnya kemudian duduk di sebelahku.

"Iya kita sepupu," jawabku santai.

"Ah Arka aku tidak bisa bekerja hari ini, bisa beri tahu bosmu tidak? secepatnya jika sudah sembuh aku akan bekerja," lanjutku.

"Kau sakit? Kaki mu? Kenapa?" tanyanya sambil melihat kakiku.

"Iya tadi ada sedikit kecelakaan," jawabku.

"Baiklah aku akan bilang bos kita nanti. Kau harusnya lebih berhati-hati," kata Arka penuh perhatian.

"Aku tidak apa Arka."

"Tidak apa apanya, sampai di gips seperti ini?" ucap Arka.

"Ini bahkan bukan kecelakaan motor atau mobil, aku hanya ditabrak orang yang sedang berlari," jelasku.

"Apa dia avatar? bisa-bisanya membuat kaki mu seperti ini," katanya sambil memegang kakiku.

"Waah lihatlah, kalian sudah sangat akrab sampai lupa menyadari ada aku disini," ucap Kevin.

"Ayo pergi, biar dia istirahat!" ajak Kevin kemudian sambil menggiring Arka keluar dari kamarku.

Hmm dunia memang sempit ya. Orang yang menyuruhku melompat dari Jembatan adalah Kevin. Arka yang membuatku dalam masalah tiba-tiba menjadi temanku yang ternyata juga teman Kevin. Dan orang yang ku temui dalam masalah Arka adalah orang yang mungkin Kevin juga kenal.

Setelah ini, apalagi?

CLARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang