Akhirnya Aku Terjatuh

124 32 13
                                        

"Apa kalian sedang ... "

Aku melotot menyadari siapa yang datang.

"Arka??!" seketika aku turun dari tubuh Kevin.

Hebatnya, Kevin sama sekali tak mempermasalahkan kejadian ini, masih santai dia kembali duduk dan menikmati kuacinya seperti tidak terjadi apa-apa. Yaa memang tidak ada yang terjadi, tapi jika tidak segera dijelaskan Arka akan berfikir yang bukan-bukan melihat posisiku yang sangat ambigu itu.

Apa boleh buat, aku yang harus bicara, "Arka ini salah paham, aku hanya-"

"Kau tidak melihat ponselmu? aku sudah mengirimkan pesan," Arka melempar pertanyaan lain, sama sekali tidak merespon apa yang akan kukatakan.

"Ah oh ponsel? aku lupa menaruhnya dimana hehe," tawaku kikuk.

"Ganti pakaianmu, ayo kita pergi,"

"Sekarang? ah oke tunggu, aku akan bersiap," kataku kemudian berjalan ke arah kamarku untuk mengganti pakaian.
Tapi, bukan pakaian yang mana atau dia akan mengajakku kemana yang kupikirkan, melainkan bagaimana isi pikirannya mengenai tadi.

Dia pura-pura tidak peduli atau memang tidak mempermasalahkan apa yang dia lihat? Bukankah aku terlihat sangat murah tadi seperti itu dengan Kevin? Aaah aku harap sekarang Kevin menjelaskan kejadian sebenarnya pada Arka.

.

.

.

.

(Disisi lain)

"Kalian, akan kemana?"

"Kau masih ingat kan dia sepupumu Kev?"

"Jangan pulang malam dia harus mencuci piring,"

"Kau tau kan konsekuensinya jika membuatnya jatuh? kalian bersaudara, kau harus ingat Kevin!"

"Heyy bicaramu serius sekali memangnya apa yang aku lakukan?"

"Kau menyukainya, kan?"

"Ka, kau sendiri yang bilang dia sepupuku, mana mungkin-"

"Aku menyukainya!"

"Apa? Hahaha ..."

"Aku serius!"

"Yasudah, pacaran saja dengannya!"

"Oke!"

.

.

.

.

Kuturuni satu persatu anak tangga, kulihat dibawah sana Kevin dan Arka sedang memainkan ponselnya masing-masing, "Apa mereka tidak bicara?"

Aku masih saja mencemaskan apa yang orang lain pikirkan tentangku, padahal itu sikap paling mengganggu fikiran di urutan nomor satu.

"Ehm," aku tidak tahu harus bicara apa, jadi aku hanya berdeham untuk mengisyaratkan kehadiranku pada mereka. Dan berhasil, keduanya menoleh secara bersamaan.

"Sudah selesai?" tanya Arka.

"Iya sudah," jawabku masih canggung.

SET.

Aku terkejut tiba-tiba Arka menggandeng tanganku. Sama dengan Kevin, dia juga melongo melihatnya. Tapi Arka dengan santai membawaku keluar.

"Maaf ya Tuan Putri, kereta kencananya masih belum terbeli, sementara kita naik motor dulu ya," ucap Arka tersenyum sambil memakaikan helm padaku.

CLARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang