Hujan

139 60 10
                                        

"Aah," geliatku kecil meregangkan tubuhku yang lumayan lelah karena duduk sedari tadi.

Jam di dinding menunjuk angka empat, tepat setelah aku mengerjakan semua tugasku dari sekolah hari ini.
Cukup menyita waktu, karena aku sedikit kesulitan mengerjakan matematika yang sudah hampir dua minggu ini ku tinggalkan.

Selesai dengan peregangan kecil, aku berjalan ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual soreku, yaitu mandi. Kegiatan yang sebenarnya paling kubenci tapi tetap harus ku lakukan.

Kunyalakan shower, perlahan air mengguyur rambutku yang sudah mulai memanjang.

Dalam keadaan seperti ini pasti tiba-tiba banyak yang kupikirkan. Entah itu hanya kebiasaanku atau mungkin sudah menjadi tradisi semua orang.

Karena menurutku, dibawah shower juga menjadi tempat menangis terenak di dunia selain di bawah hujan atau di boncengan abang gojek.

Ayahku, yaa aku sedikit merindukannya sekarang. Aku merasa tak adil saja hidup enak sendirian.

"Tapi tidak, aku tidak boleh memikirkannya. Ini demi kebaikanku juga", aku menggelengkan kepalaku berharap pikiranku tentang ayahku sirna kemudian cepat-cepat menyelesaikan mandiku.

Selesai itu, ku keringkan rambutku sambil memainkan ponsel. Ku buka beberapa sosial media yang sedang popular dan melihat beberapa info dari teman mediaku disana.

Aku sendiri bukan orang yang suka terlihat, aku hanya suka membaca post dari teman-temanku, jadi jangan tanya berapa pengikutku di sosmed. Yang pasti lebih banyak yang kuikuti daripada yang mengikutiku haha.

Beberapa menit berlalu, lumayan bosan dengan apa yang ku lakukan. Bingung karena sudah terbiasa mengisi waktuku dengan bekerja sambilan.

Terlintas dipikiranku untuk mengajak Kevin jalan-jalan. "Dia mau tidak ya?" pikirku.

Baru saja aku akan berdiri dan menghampiri Kevin, tiba-tiba ponselku bergetar. 'Nomor tak di kenal' tulisannya.
"Lagi? siapa lagi sekarang?" tanyaku sendiri kemudian mengangkat telfonnya.

"Halo?"

"Hei, aku Arka."

"Oh, kupikir siapa. Dapat nomorku dari mana?"

"Kevin."

"Benarkah? Dia memberimu nomorku?"

"Tidak, aku mencurinya."

"Hm dasar."

"Simpan nomorku!"

"Iya, cerewet."

"Kau mau menyimpan dengan nama cerewet?"

"Bukann, kau cerewet."

"Simpan dengan nama kau cerewet?"

"Bukan Arka!"

"Jangan bukan Arka."

"Arka!!"

"Nah itu baru benar."

"Senang sekali menggaguku, heran."

"Hahaha, sudahlah, ku matikan."

"Hmm," gumamku yang entah didengarnya atau tidak karena dia mematikan telfonnya dengan cepat.

"Dia menelfon hanya untuk memintaku menyimpan nomornya?"

---

TOK TOK TOK.

Aku mengetuk pintu kamar Kevin.
"Jangan masuk, dikunci!" jawabnya.

"Bukannya biasanya orang bilang, silahkan masuk tidak dikunci?" tanyaku.

CLARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang