"Pagi-pagi seperti ini sudah sangat ramai, dasar kota besar! Tapi baguslah, mungkin aku bisa mendapat pekerjaan dengan mudah."
Hari pertama kepindahanku, aku berharap keberuntungan berpihak padaku.
Banyak sekali toko besar yang ramai pengunjung, tidak mungkin kan mereka semua menolakku? "Semangattt!" ucapku menyemangati diri sendiri.
"Tapi sebelum itu, sepertinya aku harus membeli baju yang lebih bagus untuk melamar kerja," gumamku. Mengingat kemarin lusa aku lari dengan pakaian seadanya, aku butuh beberapa baju dan sepatu baru. Untuk kupakai sehari-hari dan sepatu sekolah juga.
Ku lanjutkan langkahku menyusuri jalan kota. Kulihat sekeliling, tidak semacet yang ku bayangkan, banyak juga para pejalan kaki. Berbeda dengan yang ku lihat di telivisi, panas, penuh polusi kendaraan, ternyata tidak seburuk itu, hanya ramai orang saja.
"Halo kak boleh ambil brosurnya dan silahkan mampir ke cafe kami, banyak menu baru loh," ucap karyawan cafe ramah sambil membagikan brosur.
"Ah iya terimakasih," terimaku sambil membalas senyumnya.
Tunggu, aku seperti pernah melihatnya. Atau mungkin hanya mirip dengan seseorang?
"Maaf, apa anda tidak apa?" tanyanya sambil melambaikan tangan ke arahku, menyadarkanku dari lamunan.
"Kenapa mematung seperti itu? apa ada yang salah dengan wajah saya?" lanjutnya.
Aku yang masih berkelut dengan fikiranku sangat yakin pernah bertemu dengannya. Atau bahkan mugkin mengenalnya. Tapi siapa dan dimana?
"Hey jangan menakutiku, apa kau mengenalku?" tanyanya sudah dengan bahasa non formal. Mungkin dia mulai risih dengan sikapku.
Saat dia mengatakan 'Maaf' sepertinya pernah kudengar, tapi dimana?
Setelah kuingat berkali-kali ...
"Ah aku ingat sekarang," lirihku saat pikiranku sudah sampai pada tujuannya.
Dia yang waktu itu mabuk kan? Yang menabrak mobil merah itu? Ah iya itu dia aku yakin. Aku ingat sekarang.
"Kau, tak ingat aku?" tanyaku.
"Apa kita pernah bertemu? maaf sepertinya aku lupa," ucapnya.
"Benar-benar tidak ingat?" tanyaku meyakinkan.
"Atau mungkin kita satu sekolah?" tanyanya.
Sepertinya dia benar-benar lupa, mengingat keadaannya waktu itu benar-benar kacau.
Sekarang juga percuma, dia tidak ingat apapun. Menyalahkan mungkin malah menambah masalah.
Melihat dari pakaian dan gayanya juga sepertinya dia bukan karyawan biasa. Mungkin dia pemilik cafe ini, pimpinan, atau semacamnya.
Ah sudahlah mungkin memang harus aku yang menanggung.
"Ah maaf mungkin aku salah orang," ucapku sambil menunduk meminta maaf.
"Baiklah, aku akan lanjutkan pekerjaanku," ucapnya.
"Kau bekerja disini?" tanyaku.
"Tentu saja, untuk apa aku membagikan brosur-brosur ini kalau aku tidak digaji? kau lucu sekali," ucapnya dengan tawa kecil. Tampan.
"Bukan, maksutku, ku pikir kau pemilik cafe ini," ucapku semakin lirih.
"Hahaha mana mungkin, jika aku pemilik memangnya aku mau melakukan ini? aku pasti sudah menjadikanmu karyawan haha," ucapnya.
"Aku bercanda," lanjutnya.
"Tapi aku memang sedang mencari pekerjaan," jawabku.
"Benarkah? part time?" tanyanya.
"Hmm," gumamku.
"Baguslah, disini memang butuh karyawan tambahan," jelasnya.
"Benarkah?" tanyaku penuh semangat.
"Masuklah, akan ku antar bertemu atasanku," terangnya.
"Dengan pakaian seperti ini?" tanyaku.
"Memangnya kenapa? itu lebih dari sopan menurutku."
Iya tapi aku sudah mengenakan pakaian ini dari lusa, pasti sudah semakin bau.
Tapi ya sudahlah, ini kesempatan yang bagus, tidak akan ku sia-sia kan.
"Oke baiklah," jawabku yang kemudian mengikutinya masuk.
Lumayan juga cafe ini. Besar dan ramai. Karyawannya juga lumayan banyak. Mungkin gajiku sedikit lebih besar dari pada pekerjaan ku sebelumnya.
Kulihat juga karyawannya ramah, saling membantu tidak seperti di tempatku dulu, selalu menyebut junior lah, inilah, itulah, tidak berkemanusiaan sama sekali.
---
"Sudah selesai?"
"Hmm, aku diterima."
"Waw, kau pasti pintar merayu, karena bos kita itu orangnya pemilih."
"Benarkah? tapi dia tidak banyak bertanya tadi."
"Mungkin karena kau cantik."
"Uhuk, hey kau yang pintar merayu disini!" jawabku sedikit kubuat-buat seakan sangat terkejut. Walaupun memang sedikit terkejut, karena tidak banyak yang bilang aku cantik haha.
Tapi bukankah dari tadi aku hanya mengobrol dengan orang ini tanpa berkenalan. Hahaha perkenalan di akhir, metode baru dalam bersosialisasi.
"Namaku Clara," ucapku memulai perkenalan.
"Aku tidak bertanya," jawabnya santai.
"Heyy, aku sudah berbaik hati mengajakmu berkenalan sebelum kau meminta berteman denganku nanti," kataku.
"Aku tidak akan berteman denganmu," jawabnya masih santai.
"Ah okelah terserah, aku pulang saja."
"Kau tidak langsung bekerja?" tanyanya penasaran.
"Kau sudah ingin berteman denganku?" tanyaku menggoda.
"Arka," ucapnya singkat.
"Ooh kau sudah benar-benar ingin berteman sekarang?" tanyaku semakin menggoda.
"Ck, dasar!" decaknya sambil tersenyum.
"Baiklah aku pulang, aku mulai bekerja besuk sore, mohon bantuannya ya!" pamitku sebelum pergi.
"Hmm," gumamnya, kemudian aku pergi.
Aku tidak menyangka semuanya beres secepat ini. Aku bisa pergi belanja untuk keperluanku sekarang, kemudian pulang dan mempersiapkan untuk sekolahku besuk.
"Senangnyaaa~"
KAMU SEDANG MEMBACA
CLARA
Storie d'amoreMaaf ya, kisahku bukan kisah yang diawali dengan bangun kesiangan, alarm yang dibanting, dan terlambat sekolah, apalagi ditambah dengan menabrak kakak kelas kemudian jadian. Maaf kisah cintaku tidak seberuntung itu. Selamat datang di kisahku, kuhara...
