Ambigu

137 40 18
                                        

"Berikut alat dan bahan yang diperlu-"

TIT

"Semakin membuatku lapar saja! aku kan belum makan sejak pulang sekolah tadi, sungguh hari yang sangat melelahkan!" Aku berdiri dari tempat dudukku yang terlalu nyaman dan berjalan menuju dapur, "Masak apa ya?"

"Waah," kubuka lemari es khusus bahan makanan, aku melongo dibuatnya. Bukan aku tak bisa memasak. Aku bisa, hanya saja bukan masakan yang dibuat dari bahan-bahan kota seperti ini. Apalah daya aku hanya bisa memasak sayur-mayur yang kutanam sendiri dibelakang rumah, "Oke-oke tak apa, apa gunanya ponsel?"

Aku mengambil ponselku dari dalam saku, mengetik sesuatu di kolom pencarian google, 'Forum Memasak'. Dulu walaupun hanya memasak sayur, aku belajar juga dari sana.

Mulai kutelusuri satu persatu resep yang sesuai dengan bahan yang ada, "Ini, ini, ah ini juga ada, okelah masak ini saja!"

Lima menit pertama masih aman, "Aku bisa aku bisa! hanya potong-potong seperti ini kan? kupikir sambil menunggu bahan lain yang sedang kupotong aku bisa menggoreng ikannya dulu," Kumasukan ikannya secara perlahan, aku tau bagian tersulit memasak adalah menggoreng, "Dasar minyak panas yang menyebalkan!"
"Aww!"

GLUDAK.

"Aish, baru saja kubilang panas dan menyebalkan! sekarang kau malah jatuh?!" sedikit lucu aku mengomel pada teflon yang terjatuh, bagaimana tidak, kakiku sedikit terpercik minyak panasnya.

"CLARA!! Kau tak apa? Mana tanganmu! Mana yang sakit? Panas?? Kakimu, kakimu yang terkena??!"

Kevin melempar bertubi-tubi pertanyaan dengan wajah paniknya. Dia sampai berjongkok mengecek kakiku. Aku hanya diam karena sikapnya lebih membuatku terkejut daripada apa yang baru kualami.

"Dimana yang sakit? Ayolah jangan hanya diam!" lanjutnya.

"Kevin aku tidak apa,"

"Kau, tunggu disini! aku akan membeli salep,"

"Kevin-"

"Ah benar, bukan salep. Kita harus ke Rumah Sakit, ayo!" dia menarik tanganku.

"Kevin aku-"

"Jika tidak ke Rumah Sakit aku tidak tahu salep apa, diamlah!"

"Kevin sudah kubilang ak-"

"Apa sih yang kau pikirkan? kau tau jika itu melepuh bisa bahay-"

"KEVIN!" bentakku tiba-tiba membuatnya menghentikan langkah. Aku hanya merasa dia terlalu berlebihan. Paniknya berkali-kali lipat melebihi diriku sendiri.

"Sudah kubilang aku tak apa, tidak ada yang terluka, jangan bersikap seperti ini!"

"Kau yakin? kau bilang tadi panas?"

"Tidak, aku tidak apa."

"Huuh," Kevin menghembuskan nafas lega.

"Lagipula, apa yang kau lakukan? kalau lapar kau tinggal panggil aku! aku yang akan memasak!" kesal Kevin.

"Tidak perlu berteriak seperti itu!"

"Kalau terjadi sesuatu padamu- ah sudahlah," Ia mendengus.

"Apa yang ingin kau masak?" tanyanya, aku hanya memberikan ponselku dimana layarnya masih memutar video tutorial memasak oleh koki ternama.

"Minggir!" dia menggeser tubuhku begitu saja.

"Kau? bisa memasak?"

"Duduk sana! kau hanya menggangguku disini!"

"Dasar!" kesalku sambil pergi menuju meja makan.

---

"Waw!" aku tidak berkedip melihat piring didepanku.

"Jangan terlalu terpesona!"

"Bagaimana kau melakukannya? ini, ini sangat persis dengan saran penyajian di video itu!"

"Jangan banyak bicara cepat makan!"

"Ini bukannya sangat sayang untuk dimakan?"

"Kalau kau tidak mau aku akan makan sendiri,"

"Mau, aku mau!" aku memakannya dengan lahap.

Pintar juga dia memasak. Aku jadi menyerah untuk mengacuhkannya lebih lama. Dasar sialan ini, pintar sekali mengubah moodku.

"Aku tau aku tampan, tapi jangan lakukan itu di meja makan!"

"Siapa yang memandangmu!"

"Memangnya aku bilang kau memandangku?"

"Aish!"

"Makanlah, isi tenagamu!"

"Why?"

"Kau pikir itu gratis? aku sudah persiapkan sesuatu untukmu!"

"What??"

---

"Ini, ambil peralatanmu!"

"Ini, maksutnya apa?"

"Kau tidak tau fungsi sapu pel lap kemoceng? Kau tidak tahu? Apa harus kujelaskan??"

"Kau-"

"Sudah, tidak ada yang gratis di dunia ini. Lakukan!"

"Kau? kalau aku yang lakukan semuanya, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku?? Aah aku akan menonton serial favoritku!" dia pergi menyalakan televisi sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.

"Aissh!!" umpatku kesal.
Enak sekali memerintah sesukanya. Kalau tidak ingat aku menumpang disini akan aku habisi dia, "Cih!"
Apa boleh buat aku harus mengerjakannya.

"Hahahaaa,"

"Lihat? enak sekali tertawa seperti itu!" gumamku sambil melihatnya kesal.
"Apa? Dia membuang kulit kuacinya dilantai?!!"

"Heyy Kevin!! Kau tak bisa membuangnya di tempat sampah ha?? Itu kan baru saja ku bersihkan!"

"Itukan memang tugasmu!"

"Benar-benar ya!" rasanya aku ingin memukul kepalanya.
Terpaksa harus ku bersihkan lagi.

"Hey kau tak lihat ini masih kotor?"

"Kau-" aku menghembuskan nafas kasar.
"Kau tak lihat aku baru membersihkannya?? Kau yang mengotorinya lagi!!"

"Yaaa aku tidak peduli, itukan tugasmu!"

"Sini kau!"

"Apa?"

"Sini!"

"Tidak!"

"Oke aku yang akan datang!!"

"Apa yang akan kau- heyy"

"Kau harus diberi pelajaran!"

"Heyy berhenti disitu!"

"Oooh kau takut hmm?"

"Heyy"

"Sini!"

"Aww sakit, heyy kau menindih perutku, aww!"

"Rasakan ini!"

"Oke oke ampun maafkan aku, turun aww sudah sudah berhenti heyy!"

"Rasakan cubitan dari tangan gadis yang kau manfaatkan ini okey?"

"Tidak, itu geli Clara hentikan heyy hahaha,"

"Ooh geli ya?"

"Hahaha, stop! STOP!!" apalah daya tiba-tiba tangan Kevin dengan kuat menahan kedua tanganku, membuatku terjatuh dan wajahku hampir menempel pada wajahnya. Entah kenapa aku hanya diam dan menatapnya, kurasa dia yang mengunci tatapanku, aku tidak bisa menoleh.
Silahkan kalian berfikir yang iya-iya karena posisi kami memang sudah sangat ambigu. Sampai tiba-tiba ...

"Kalian, sedang apa?"

Otomatis aku dan Kevin menoleh pada sumber suara.

"Apa kalian sedang ..."

CLARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang