Hujan (Bonus Kevin POV)

133 58 4
                                        

Di sisi lain.
Kevin POV.

"Ah sial! Aku harus cari kemana lagi?!"

Sekarang aku sedang berada di taman, duduk dan merutuki diriku sendiri.

"Kenapa aku sangat bodoh meninggalkan Clara sendirian?!"

Aku semakin merasa bersalah ketika mengingat betapa bahagianya dia saat kita bisa berjalan bersama seperti bertahun-tahun lalu.

Aku sudah berkililing mencarinya di tempat terakhir ia ku tinggalkan, tapi zonk aku tidak mendapat apa-apa. Di rumah, Bi Iyem bilang Clara belum kembali sama sekali.

Oke kalau kalian tanya dimana aku dari tadi? akan aku jelaskan. Fiona mantan pacarku, dia benar-benar menahanku untuk pergi setelah aku berhasil merebut tasnya dari cecurut-cecurut jalanan itu. Memang tidak secara langsung dia mengatakan jangan pergi, tapi setelah kuputuskan untuk mengobrol sebentar di kedai kopi, dia menangis dan mencurahkan semua isi hatinya padaku, tentang keluarganya. Aku tau keluarganya berantakan. Dan aku tidak sanggup jika harus meninggalkan gadis itu sendirian dengan keadaan sedih, apalagi dia masih trauma setelah kejadian jambret tadi.
Dan setelah itu aku masih harus mengantarnya pulang.

Asal kalian tau, ragaku memang disana, tapi pikiranku hanya Clara Clara Clara. Aku bahkan tidak ada kesempatan untuk menghubunginya, karena aku tidak mau Fiona akan merasa aku mengacuhkannya karena aku memainkan ponselku.

"Jarak rumah ke taman itu dekat Clar, dan kau tidak bisa pulang? kau kemana? Aaargh!" aku mengacak rambutku kesal. Aku bisa gila memikirkannya.

"Kalau aku jadi Clara, aku akan kemana ketika satu-satunya orang yang ku kenal tidak bisa dihubungi? lapor polisi? ah tidak mungkin! Dia bahkan tidak mengerti kantor polisi ada dimana.

"Tunggu. ARKA!!"

Aku baru ingat, pilihan kedua Clara saat aku tidak mau diajak jalan tadi adalah Arka. Aku yakin dia memiliki kontak Arka. Entah darimana tapi dia pasti menghubunginnya.

"Aku harus kesana!!"

---

Clara POV.

"Arka ayo bangun! aku tidak tau harus apa,"

"Claraa! Clara!!"

"Kevinn!"

Aku berlari untuk segera menghampiri Kevin begitu kudengar suaranya memanggil namaku. Ketika mata kita bertemu, aku tidak mengerti tapi tangisku semakin menjadi. Kevin dengan cepat mengambil alih badanku, mendekapku erat seakan-akan dia ingin mengisyaratkan bahwa 'jangan pergi lagi!', 'kau tadi kemana?', 'aku khawatir'.

Tapi yang keluar dari mulut Kevin bukan seperti ekspektasiku itu. "Bodoh!" katanya.

"Apa?"

Kevin melepas pelukannya. "Kau bodoh!" tegasnya dengan keras.

"Kevin?"

"Kenapa berantakan seperti ini? pakaianmu basah dan kau sangat pucat!"

"Tadi ... "

"Bodoh!"
"Kau pasti sengaja main hujan-hujanan kan? Tolong jangan seperti anak kecil Clar!"

"Kau yang seperti anak kecil!"
"Asal kau tau, aku bahkan menahan lapar dan aku hujan-hujanan di tengah taman karena aku tidak tau harus apa saat kau tidak ada!"
"Kupikir kau akan meminta maaf karena sudah meninggalikanku tadi, tapi ternyata ..."

DEG.

Aku tidak tau apa yang dipikirkan Kevin setelah aku berkata seperti itu, tapi dia hanya diam menatapku dan matanya berkaca-kaca.

"Maaf Clar, iya aku salah, maafkan aku," dia memelukku kembali.
Tapi aku melepaskan pelukannya karena aku masih sangat kesal dengan apa yang dia ucapkan.

"Clara, maafkan aku,"

"Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk bertengkar! kau harus menolongku, Arka pingsan,"

"Arka pingsan?!"

"Tadi dia menyusulku hujan-hujanan dan dari awal memang sepertinya sudah sakit,"

"Ikut aku!" Kevin menarik tanganku dan membawaku kearah kamar Arka.

"Kau mau apa?"

"Kau harus ganti pakaianmu dulu, baru kita ke Rumah Sakit. Akan kuambilkan pakaian Arka,"

"Tidak perlu," Ku lepas tangan Kevin dari tanganku, kemudian mengambil pakaian Arka yang sudah ia berikan tadi untuk ku kenakan.

---

Arka belum sadar juga ketika kita sudah sampai di Rumah Sakit.

"Bagimana Dok?"

Dokter baru saja keluar dari ruangan dimana Arka dirawat.

"Jangan terlalu khawatir, dia hanya demam biasa. Tapi itu terlihat parah karena dia tidak segera mengobatinya."

"Boleh kita masuk Dok?"

"Silahkan, pasien juga sudah sadar."

Dengan segera kubuka pintu ruangan itu. Aku berjalan pelan ke arah Arka. Aku melihat dia tersenyum dan akan mengubah posisinya menjadi duduk. Aku menjadi sedikit berlari untuk membantunya.

"Thanks, kalau tidak ada kalian aku tidak tau akan jadi apa."

"Jadi mayat!! lebay sekali, kau itu hanya demam!" jawab Kevin.

"Kau tidak ikhlas ya membantuku?"

"Terserah!"

"Cih!" umpat Arka.

"Aku akan antarkan Clara pulang, setelah itu aku akan kembali," ucap Kevin.

"Baiklah."

"Tidak! aku tidak mau pulang!" tolakku cepat.

"Clara kau baru sehari sekolah dan besok mau bolos?" tanya Kevin padaku.

"Kau kan bisa mengantarku pulang besuk pagi Kev," aku masih mengotot.

"Clara, kau butuh istirahat juga!"

"Tidak!" tegasku. "Bagaimanapun Arka sakit karena aku."

"Clara tolong dengarkan aku!"

"Clar, Kevin benar. Kau harus pulang," ucap Arka membenarkan ucapan Kevin.

"Tapi Arka, kau seperti ini gara-gara aku,"

"Kau dengar kan tadi Dokter bilang aku hanya demam?"

"Tapi ka ..."

"Aku janji besok aku akan sembuh."

"Janji?"

"Iya janji."

---

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Di dalam mobil aku hanya diam. Bahkan aku berpura-pura tidur ketika Kevin akan memulai obrolan. Aku masih super kesal dengannya.

Tapi sayangnya mataku terlalu lelah. Aku sudah tidak berpura-pura lagi sekarang, tapi benar-benar tertidur. Dan setelah itu ...

KRIIIING!!!

Bunyi alarm membuatku terbangun di pagi hari. Aku bahkan lupa bagaimana caraku berjalan dari mobil menuju kamar dengan keadaan tidur semalam, dan aku juga belum mengganti pakaian Arka yang kukenakan, Sepertinya aku lupa. Aku juga tidak ingat kapan pasang alarm.

Sulap mungkin.

CLARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang