Seohyun menyukai Kyuhyun itu fakta, dan Kyuhyun menyukai Seohyun adalah sebuah kebenaran yang mutlak.
Perjodohan memang hal terburuk yang harus mereka terima. Namun, demi mempertanggung-jawabkan janji suci terhadap Tuhan, keduanya sepakat agar memer...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
Matahari mulai beranjak naik, menempatkan dirinya pada sudut elevasi terbaik dari permukaan bumi. Suara pintu berderit terdengar bersamaan dengan terlihatnya sosok tampan membawa baki berisi susu. Laki-laki tersebut tampak segar. Dan wangi sabun serta mint khas dirinya menguar di seluruh ruangan.
Harum tersebut juga berhasil mengusik perempuan yang masih membenamkan dirinya di balik selimut. Mata yang sebelum ini terpejam secara cepat mulai mengerjap. Kerutan di pelipis bertambah dalam saat indra penciumannya semakin tercemar oleh aroma maskulin favoritnya.
Siluet Kyuhyun tertangkap kornea Seohyun meskipun sang netra belum benar-benar memaksimalkan kinerja visualitas.
"Selamat pagi."
Sapaan itu membuat lengkungan pelangi di sudut bibir Seohyun tercipta.
"Pagi." Balas Seohyun dengan suara serak khas bangun tidur. Raganya mulai duduk. Kyuhyun meletakkan nampan di pangkuan Seohyun saat gadis itu selesai menyamankan posisinya.
"Tidak ada susu di apartemen." Ingat Seohyun mendapati suguhan yang diberikan Kyuhyun.
Pria itu tersenyum. "Tadi sempat ke supermarket sebentar. Juga membeli beberapa sarapan di restoran terdekat. Lagipula kau tidak akan percaya jika aku membuatkannya untukmu."
Seohyun terkekeh. Selain prinsip ekonomi, semboyan Kyuhyun lainnya adalah kenapa harus repot jika ada yang instan.
"Terima kasih."
Kyuhyun mengangguk. Kemudian beranjak menuju almari, mencari pakaian yang bisa dikenakan Seohyun acak.
"Jadi, apa agendamu hari ini?" Tanya Kyuhyun.
Pria itu berbalik, kembali mendekat dan mengangsurkan kemeja putih miliknya pada Seohyun.
Seohyun segera menerima dan memakainya cepat.
"Stay at home, of course. With you," jawab Seohyun sembari mengancingkan baju.
"Oke. Aku tunggu ruang makan." Kyuhyun beranjak, mengambil nampan dan gelas bekas susu untuk dibawa turun.
Sedangkan Seohyun segera bangun untuk mandi dan bersiap diri.
* * *
Kyuhyun dan Seohyun sedang bersantai melihat film di ruang tengah saat malam menjelang. Matahari sudah mulai menghilang dari langit yang kini berwarna gelap.
Seohyun bersandar di pundak Kyuhyun. Tangannya bersedekap di depan dada. Sedangkan Kyuhyun memeluk pundak Seohyun dari samping, mengelus lembut puncak kepala gadis itu sesekali.
Kyuhyun menoleh saat tidak lagi mendengar ocehan Seohyun terkait jalan cerita tayangan di hadapan mereka. Padahal sebelumnya nyaris satu menit sekali akan ada protes dari gadis itu. Netra Kyuhyun menangkap pejaman mata yang damai. Dia tersenyum mendapati Seohyun yang mulai terlelap.
Sebenarnya dia ingin membiarkan saja. Namun, perempuan itu sudah mewanti-wanti bahwa dia harus melihat film tersebut sampai selesai. Dia ingin tahu bagaimana akhir dari perjalanan rumit tokoh-tokoh yang berperan.
"Hyunie..." Kyuhyun membangunkan Seohyun. Tangannya menepuk pelan pipi putih tersebut.
Seohyun segera terkesiap, dan detik selanjutnya wanita itu terjaga.
"Hmm?"
"Mengantuk? Kita pindah ke kamar saja, ya?" Kyuhyun menawarkan dengan lembut.
Namun Seohyun tetaplah Seohyun, gadis itu menolak. Pendiriannya kuat ingin menyelesaikan tontonan mereka sampai selesai. Padahal, beberapa kali wanita tersebut sudah tertidur meski singkat.
Kyuhyun menghela napas, memilih mengalah dan kembali memfokuskan pandang pada televisi.
Setengah jam kemudian film itu tamat. Kyuhyun sedikit kagum dengan alur cerita yang benar-benar luar biasa menurutnya. Penuh pengorbanan, namun berakhir dengan kebahagiaan.
Setelah mematikan layar dengan remot di genggaman, Kyuhyun segera beralih menggendong Seohyun untuk berpindah. Perempuan itu tertidur dari beberapa menit lalu dan Kyuhyun tidak ingin membangunkannya lagi.
Kyuhyun merebahkan tubuh Seohyun di ranjang, menyelimuti, kemudian menempatkan diri di samping wanita tersebut. Karena belum merasakan kantuk, Kyuhyun memilih memainkan iPad, mencari tahu berbagai berita per-hari ini.
Dua puluh menit Kyuhyun berselancar dalam internet, pergerakan di sampingnya membuat pria tersebut mengalihkan fokus. Seohyun terjaga dengan mata sayu, tubuhnya segera terduduk meski nampak sekali menahan kantuk.
"Kenapa di kamar?"
"Filmnya sudah selesai. Dan kau tertidur, lagi."
"Lalu akhir filmnya?"
Kyuhyun menceritakan secara singkat ending dari tayangan yang mereka lihat.
"Wah..." respon Seohyun takjub. Alur cerita yang sangat bagus dan tidak mudah ditebak.
Kyuhyun meletakkan ipad di nakas samping ranjang. Menggapai tangan Seohyun untuk memintanya kembali berbaring.
Seohyun menurut. Mereka kemudian saling berhadapan. Mata masing-masing bergerak mengunci. Memancarkan ketenangan dan kenyamanan untuk satu sama lain.
Kyuhyun mengangkat tangan, membelai pipi Seohyun.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Kyuhyun lirih. Berdehem sebentar sebelum melanjutkan.
"Kau bisa berhenti menggunakan kontrasepsi."
Tatapan Seohyun melebar karena terkejut, namun guratan di dahinya semakin dalam. Gadis itu heran bercampur bingung.
"Bukankah kau bilang sekarang bukan saat yang tepat?" Seohyun kembali bangun. Kali ini duduk dengan tubuh menghadap Kyuhyun seluruhnya.
Kyuhyun mengangguk.
"Menurut kita memang bukan waktu yang tepat. Tapi siapa yang tahu dengan kehendak Tuhan? Setelah aku pikir kembali, tidak ada alasan konkret yang mendasari keputusan kemarin. Kau benar, keturunan dan karir bukan hal yang harus dihubungkan, tapi hal yang harus diimbangkan."
"Kalau begitu tidak perlu program ya... kita jalani saja apa adanya. Biar Tuhan yang menentukan kapan kita layak menjadi orang tua."
Kyuhyun tersenyum. Kemudian mengangguk. Kembali menarik tangan Seohyun untuk berbaring di sampingnya. Mendekap wanita itu penuh kasih. Sesekali mendaratkan kecupan ringan di puncak kepala.
"Jika nanti dikabulkan, kau mau putra atau putri dulu?" Tanya Seohyun mendongak di himpitan dada Kyuhyun.