Book Store

25 5 10
                                    

"Oh jadi ini yang namanya Leva," kata Nesha yang berada di sebelah kanan gue.

"Apa ?" ucap Leva dengan sewot.

"Oi cabe !" panggil Siska kepada 2 teman Leva.

"Elo manggil gue ?!" ujar salah satu dari teman Leva yang tersinggung.

"Elo berdua yakin masih mau berteman sama dia ?" Siska menunjuk ke arah Leva.

"Memangnya kenapa ?!" saut Nita, temannya Leva.

"Elo belum tau ? Oh, atau elo malu Lev cerita ke mereka kalau elo jadi pelakornya teman gue ? Masih punya malu juga ya lo ?!" Siska dengan logat batak nya.

"Elo —"

"Eh, enggak... Gue ... Bisa jelasin semuanya," Leva mencoba memberikan alasan.

"Elo tau kan kalau kita gak suka punya teman yang pelakor ?" tanya Nita ke Leva.

"Iya gue tau, tapi —"

"Diam ! Sudah muak gue sama elo Lev, ayo kita caps aja !" Nita mengajak Nindy.

"Ni, Nita !" panggil Leva saat Nita dan Nindy sudah menjauh.

"Puas lo hah ?! Puas sudah bikin pertemanan gue hancur ?" tanya Leva ke gue dengan ngotot.

"Impas kan kita sekarang ? Elo ngerusakin hubungan gue dengan Dirga. Gue ? Hancurin hubungan pertemanan elo. Yakin masih punya best friend ?" Gue menampakkan senyum sinis.

"Hello ? Sudah selesai kan ? Gue sudah dapat baju yang mau gue beli nih. Mau pada bayar sekarang gak ?" tanya Amel.

"Heh, diam lo !" teriak Leva ke Amel.

"Oi salah dia apa ?" Nazwa mulai kesal dengan Leva.

"Eh Put elo itu seharusnya tau malu, Dirga sudah putus dari gue bukan berarti dia mau sama elo." Leva menunjuk kening gue.

"Kalau dia gak mau sama gue kenapa dia kasih gue bomber jacket, baggy pants, and sepatu Puma untuk gue disaat kalian masih pacaran ?" gue belagak sombong.

"Berarti elo pelakor nya ! Elo ngapain deketin cowok gue hah ?!" Leva mendorong gue.

"Gue bukan pelakor, and juga bukan gue yang deketin cowok elo. Cowok elo aja mungkin yang sebenarnya gak suka sama elo ? Gue yang enggak punya hubungan apapun dengan Dirga saja dapat barang branded dari dia, elo dikasih apa ?"" gue tolak pinggang.

Leva kesal dan akhirnya menampar gue, terjadilah perkelahian disana antara Leva, gue, dan teman - teman gue.

"Hei, stop - stop ! apa - apaan kalian ? Membuat kerusuhan di sini ?" Scurity yang melihat kami bertengkar langsung melerai. "Mbak, kalau ada masalah diselesaikan baik - baik. Jangan ribut disini," Scurity itu mengingatkan kami.

Gue yang sudah meledak - ledak membentaknya

"Apa ? Mau bapak apa ? Ini urusan kami, jadi gak usah ikut campur." gue membentaknya dan ia diam saja.

"Ngapain masih disini ?!" lalu Scurity itupun pergi meninggalkan kami.

Seharusnya kan gue yang diusir kenapa malah gue yang ngusir dia sih ? ƪ(‾.‾“)┐

"Elo ! Ngaca, tau diri ! Elo gak ada apa - apanya dibandingin gue. Gak usah belagu lo," kata gue ke Leva lalu meninggalkannya.

***

Beberapa hari kemudian gue les seperti biasa, Dirga memilih duduk di sebelah gue lalu gue pindah ke belakang di sebelah Raka.

"Kenapa ?" Raka merasa gue aneh hari ini, ya biasanya kalau Dirga duduk disebelah gue. Gue akan salting tapi beda dengan sekarang.

GARDENIC ( COMPLETED )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang