Apakah Perasaan Dinyatakan Dengan Tarik Ulur ?

36 7 4
                                    

"Hi Dirga, kangen aku gak ?" tanya Leva genit ke Dirga. Segera gue melempar handphone yang ada digenggaman gue ke wajah Leva yang sok cantik itu. "Aww sakit tau !" katanya dengan suara di imut - imut kan.

"Mau lo apa anjing ?!" gue menggebrak meja dan berdiri di depannya.

"Maksudnya ?" katanya. Gila gak si ? Dia berusaha untuk sok polos.

"Gini ya Leva, elo kalau mau cari sugar daddy jangan disini. Elo tau karena apa ?" tanya gue dengan senyum yang dipaksakan

"Apa ?" tanya Leva dengan wajah sok imutnya.

"Karena elo cewek murahan, rendahan, yang gak tau diri, sok cantik, and lo gak akan bisa dapetin Dirga ! Gue tau, elo lagi berusaha buat dapetin Dirga kan ? Karena Dirga pintar, ganteng, and kaya ?" tanya gue bertubi - tubi ke Leva.

"Ko elo ngomong gitu ?" tanya Leva.

"Karena gue sudah sering ketemu sama jalang seperti elo !" kata gue sambil menunjuk ke arah keningnya. Karena tidak tahan dengan suasana yang menegangkan itu, Dirga langsung berdiri dan menenangkan pertengkaran antara gue dengan Leva.

"Put, udah. Lanjutin nanti lagi, kita belajar dulu sekarang. Jangan sampai kedengeran ke semua kelas, ganggu." kata Dirga menenangkan gue dengan was - was.

"Dirga," Leva menarik tangan Dirga sampai badan Dirga berbalik ke arahnya.

"Kamu lebih milih aku atau Putri ?" tanya Leva dengan penuh harapan di matanya.

"Jangan gitu dong, gue kan —"

"Elo punya mulut gak si ? Tinggal jawab aja susah banget !" gue berteriak karena sudah tidak tahan ingin melempar Leva jauh - jauh dari sini.

"Gue gak mau nyakitin hati salah satu dari kalian," kata Dirga dengan rasa penuh kecewa.

"Elo pilih dia juga gak akan gue sakit hati Dir !" kata gue sambil menunjuk ke arah Leva.

"Ok ok, gue minta maaf. Gue lebih milih Putri," kata Dirga

"Gak ! Gak mungkin ! Dirga, kamu sayang sama aku kan ?" tanya Leva dengan memohon.

"Duduk Put !" Dirga menyuruh gue duduk dan mengabaikan pertanyaan Leva. Merasa kesal, Leva lalu mengambil tas nya dan berlari keluar kelas. Lalu, masuk lah guru English kami, pak Yudha.

"Leva kenapa ?" tanya Pak Yudha kepada kami.

"Katanya si, lupa kasih makan biawak nya Pak. Hahaha !" kata Raka, dan diikutin tawa kami semua.

Selama jam pembelajaran gue gak bisa fokus apa yang dijelaskan oleh Pak Yudha. Gue memikirkan perkataan Dirga tadi. Masa iya dia lebih milih gue ? Kalau dia milih gue kenapa harus tarik ulur gue ? Gue positif thingking aja, dia bilang lebih memilih gue sebagai permintaan maafnya tadi karena sudah membuat gue menangis.

Diperjalanan menuju rumah, gue bertemu dengan Ferza. Dia sedang menyender ke tembok seperti sedang menunggu seseorang.

"Hi Put," katanya saat gue sudah didepannya.

"Ferza ? Elo ngapain ?" tanya gue penasaran

"Nungguin elo," kata Ferza

"Nungguin gue ? Elo bisa tau gue pulang lewat sini dari mana ?" tanya gue mulai curiga.

"Waktu itu gue nungguin elo pulang dari les terus gue ikutin sampai rumah lo," kata Ferza.

"Biar apa ?" sumpah ini mulai gak beres sih.

"Biar gue tau rumah elo," katanya.

"Terus ?"

"Gue bisa jemput elo kalau kita jalan lagi," kata Ferza bersemangat.

GARDENIC ( COMPLETED )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang