Dia Orang Istimewa

21 5 0
                                    

Gue hanya memilih diam tidak berkata apa - apa dan mengikuti kemana dia pergi karena gue sudah capek mencari stan dari SMA gue.

"Itu kan ?" tanya Dirga yang hanya berjarak 1 meter dari stan.

"Elo tau dari mana ?"

"Gue pernah ketemu sama teman - teman lo waktu di mall," Dirga tersenyum manis ke gue.

Mas ! Jantung gue mau copot ! Tolong
\(;'□`)/ manis banget ya lord ヽ( '¬')ノ

"Thanks," gue nyosor ke stan dari SMA gue dan meninggalkan Dirga disana.

"Hi Put, nanti beli ya !" teriak Nesha kegirangan.

"By the way gue gak tau loh siapa saja yang jaga stan dari sekolah," kata gue.

"Yang ikut anak kelas 12 doang," jawab Nesha

"Loh kenapa ?" jujur gue heran karena biasanya kalau ada acara banyak yang akan mengajukan diri untuk ikut termasuk jelas 10 dan 11.

"I dont know ... Yang jaga stan dari Gardenic ada gue, Fifah sama Hasna," Nesha menerangkan.

"Tumben mau ikut dia, biasanya ogah banget." ucap gue.

"Kalau ada elo dia pasti mau lah Put," kata Nesha.

"Terus tuh bocah 2 pada kemana ?" tanya gue.

"Nyari es batu, sebentar lagi juga datang ko." jawab Nesha.

"Jadi yang kurang cuma es batu ? Yang lainnya sudah ada kan ?" gue memeriksa dari sudut ke sudut stan dari SMA gue.

"Iya es baru doang yang kurang," Fifah yang baru datang langsung memberitahu kekurangan dari stan itu.

"Hi," sapa Hasna.

"Hallo, es baru nya sudah ada berarti sudah ready untuk jualan kan ?" gue memastikan.

"Sudah !" jawaban Nesha semangat. "Elo beli es baru berapa ?" tanyanya.

"Tiga," jawab Hasna dengan semangat.

"Banyak banget, keburu cair nanti es nya." Nesha memperingati Hasna yang membeli es batu terlalu banyak. "Kenapa gak nitip di warungnya aja ?"

"Dua untuk jualan, satu lagi untuk gue." Hasna mengambil 1 es batu dari palstik hitam.

"Mau elo apain tuh es batu ?" tanya Nesha.

"Ya gue makan lah elo kira untuk cebok ? Gak mungkin lagi," Hasna sewot.

"Pantes gendut," gue menyindir Hasna.

"Eh nyemilin es batu itu sehat loh, secara gak langsung kita minum air tapi dalam bentuk padatan. Jadi gentong gini juga isinya mineral semua ya, jangan salah !" kata Hasna

"Iya iya," Fifah menjawab singkat tidak ingin memperpanjang obrolan yang aneh ini.

"Yasudah gue tinggal dulu ya, bye." gue melambaikan tangan ke mereka bertiga dan mencari Raka.

Ternyata Raka sedang duduk di taman menatap langit - langit malam yang penuh dengan bintang - bintang.

"Nyatanya elo kan yang kangen sama gue ?" kata Raka saat gue menghampirinya.

"Ngapain lo disini ?" gue duduk disebelah Raka sambil memberinya botol minuman.

"Pacar gue," kata Raka Sendu.

Raka punya pacar tapi dia LDR an, pacarnya dia ada di Jakarta sedangkan Raka di Depok. Mereka bertemu saat weekend saja.

"Kenapa pacar lo ?"

"Minta putus," gue yang sedang minum langsung tersedak mendengarnya.

"Really ? kenapa ?" jujur, gue kurang percaya Raka, diputusin sama pacarnya. Karena Raka kurang apa woi ? Pintar ? Iya. Ganteng ? Iya. Kaya ? Apalagi :v makanya gue temenan sama dia (^.^) gak lah bercanda d(-_^).

"Elo tau kan yang istimewa akan terkalahkan dengan yang selalu ada," kata Raka.

"Oh, ya. Tau ko gue, elo sayang banget ya sama dia ?" Raka hanya tersenyum ke gue tanpa berkata apa - apa. "Gue tau jawabannya, sorry." gue tau sekarang kalau Raka sayang banget sama pacarnya itu yang gue gak tau siapa pacarnya sebenarnya. Yang gue tau mereka pacaran dari kelas 7 saat akan masuk SMA pacarnya Raka pindah ke Jakarta dan akhir - akhir ini merek memang sering bertengkar. "Tapi ... Elo selalu ada ko untuk gue," gue menyemangati Raka.

"Bukan, bukan gue. Tapi Dirga," kata Raka.

"Elo ngomong apa sih ?" gue gak percaya Raka akan mengatakan hal itu.

"Put, bagi elo gue adalah orang istimewa dan Dirga adalah orang yang selalu ada untuk elo." Raka menggenggam tangan gue.

"Raka, gue —"

"Shht !" Raka menutup mulut gue sebelum gue melanjutkan perkataan gue.

"Put, gue selama ini care sama elo. Elo tau karena apa ?" Raka tersenyum tulus ke gue.

"Apa ?" Ucap gue.

"Gue sayang sama elo sebagai teman, tapi gue care sama elo karena Dirga minta tolong ke gue untuk jagain elo." perkataan Raka membuat otak gue ini bertanya - tanya.

"Maksud lo ?"

"Dia sayang sama elo Put, gue gak mau jadi orang yang selalu ada untuk elo tapi gue mau menjadi orang yang istimewa untuk elo." kata Raka.

"Tapi ... Kayaknya gak ada hubungannya sama putusnya hubungan elo dengan pacar lo deh ?" gue melepaskan genggaman Raka.

"Sekarang, Dirga sudah ngejar elo. Itu kan yang elo mau ? Ingat, jangan sampai elo kehilangan orang yang elo sayang lagi." kata Raka.

"Raka..." gue menitihkan air mata.

"Gue akan selalu jadi orang istimewa untuk elo ko, cari Dirga sekarang. Gue yakin dia lagi nyari elo juga," Raka membelai rambut gue.

"Gue sayang sama elo Put," Raka memeluk gue dan itu yang membuat air mata gue menjadi deras mengalir.

"Gue juga," hanya itu yang dapat gue katakan.

"Perjuangan elo gak sia - sia loh selama ini, yang selama ini elo tanam sudah berbuah. Sekarang saatnya elo petik buah itu, menurut gue sih ... The fruit very sweet ... Like u," kata Raka.

"Apasih ? Gak lucu ih !" gue menyikut perut Raka dan membuatnya kesakitan.

"yaudah sana pergi, lama lo !" Raka mengusir gue.

"Tapi elo —"

"Gue fine Put, masih banyak ko cewek yang mau sama gue. Salah satunya elo mungkin," Raka melihat gue dari atas sampai bawah.

"Ih ogah, bye." gue berlari dari taman menuju kerumunan stan untuk melaksanakan perintah Raka tadi, mencari Dirga tapi gue balik lagi.

"Ka," kata gue yang sudah berada di depan Raka.

"Ngapain balik lagi ?" tanya Raka.

"Gue lupa," gue menyodorkan sebatang cokelat. "Gue nyari elo untuk ngasih ini, ya ... Tanda pertemanan aja sih." canggung si suasananya :v tapi ekspresi Raka yang melongo melihat cokelat tuh lucu banget (^_^;)

"Thanks," Raka mengambil cokelat nya dari tangan gue.

"Ok, Happy New Year. Bye," gue kembali berlari untuk mengejar Dirga sebelum Raka mengatakan apapun.

Gue berhenti berlari karena handphone gue bergetar. Ternyata masuk 1 pesan dari Dirga.

Dirga :
Di ruang OSIS lantai 3

Kenapa dia bisa tau kalau gue lagi nyari dia sih ? Tanpa buang waktu gue langsung berlari menuju tangga. Maybe ... Setelah lari - larian berat badan gue turun 5 kilo :v.

Sesampainya di lantai 3 gue melihat Dirga sedang berdiri di balkon.

"Orangnya sudah disini ko, thanks ya Ka." Dirga menutup telpnnya.

"Oh ... Jadi elo nyuruh Raka biar gue kesini ?!" gue membentak Dirga.

***

Hi mentemen (≧∇≦)/

Sorry ya kalau episode kali ini pendek
(●´∀`●)

Episode berikutnya akan aku usahain untuk lebih panjang ya (^ω^)

Dont forget to vote ya honey (´ε`*)

Bye bye ~(^◇^)/

GARDENIC ( COMPLETED )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang