Nostalgia

18 7 0
                                    

"Lama lo," Dirga masuk ke dalam ruang OSIS. "Cepetan bantuin gue !" kata Dirga.

"Gila sih ! Gue gak tau kalau ternyata elo and Raka itu sekongkol, actually kalian berdua lagi ngerjain gue atau gimana sih ?" gue berkata sambil berjalan di belakang Dirga. "Bantu apaansih ?" gue bertanya saat Dirga membalikan badannya.

Dirga menunjukkan lengan kanannya yang terluka, gue langsung memelototi Dirga.

"Ih kenapa tuh ?" gue mencolek lengan Dirga yang terluka.

"Aw sakit ! Itu luka bukan boneka, jangan dipegang ! Kebangetan banget si," Dirga menarik lengannya agar gue tidak dapat menyentuh lengannya lagi. "Ke gores pisau waktu bantuin rapihin stan gue," kata Dirga acuh tak achuh.

"Hati - hati makanya !" kata gue. "Tangan mulus gitu ko di celaka in, gak sayang badan apa ?"

"Apa lo bilang ?" tanya Dirga karena gue berbicara dengan nada yang rendah. Ya ... Hampir sama seperti ngedumel :v

"Gak apa - apa," jawab gue. Lalu gue melihat ke sekeliling mencari kotak P3K, gue langsung mengeluarkan beberapa obat untuk luka di lengan Dirga.

"Pelan - pelan, sakit itu !" kata Dirga saat gue memberikan Betadine ke lukanya.

Dirga mencengkram tangan gue yang sedang mengobati lukanya, jika sakit dia akan mencengkeram lebih kuat.

"Dirga ! Kalau diobatin emang sakit, tapi kalau sudah sembuh gak akan sakit lagi ! Yang ada tangan gue yabg sakit !" gue memarahi Dirga karena cengkeramannya terlalu kuat.

"Maaf," katanya lalu melepaskan cengkeramannya.

Selesai memakaikan Betadine gue menutup lukanya.

"Udah gak sakit kan ?" gue menatapnya.

"Hehe, thanks." lalu Dirga berjalan menuju pintu dengan maksud keluar dari ruang OSIS.

Tapi, saat Dirga mencoba membuka pintu ternyata pintunya terkunci.

"Gak mungkin kan kalau pintunya terkunci ?" Dirga membalikkan badannya berbicara dengan gue.

Gue langsung berdiri dan mencoba membuka pintunya. Benar saja pintunya terkunci ! Ok god terkunci untuk ke dua kalinya bersama seorang pria :)

"Tadi elo nutup pintunya gimana ?" Dirga menatap gue dengan sinis.

"Ya gue tutup seperti biasa lah, elo kir gue punya kuncinya ?" gue berkata dengan nada tinggi.

"Fix kita terkunci disini ... Berdua," Dirga duduk di salah satu kursi lalu menaruh kepalanya di tangan yang ia lipat di meja.

Sedangkan gue berjalan menuju jendela, jendela di ruang OSIS sangat lebar tanpa gorden. Jadi gue dapat melihat yang ada diluar sana dengan leluasa.

"Put ?" Dirga menghampiri gue.

"Kalau elo gak ngajak gue kesini gak akan gue terkunci sama elo Dir," kata gue lesu.

"Sorry," jawabnya.

"Elo nyebelin tau gak ! Gue tuh mau lihat kembang api Tpi elo malah bikin kita berdua terkunci disini !" gue membentak Dirga lalu duduk di salah saru kursi.

"Put ?" Dirga duduk di depan gue. "Are you ok ?" Dirga memastikan keadaan gue baik - baik saja.

"Elo kira gue kenapa ? Gue gak apa - apa ko ! Gue fine, setelah ini elo mau bawa gue kemana lagi ? Masuk jurang ? Dimakan buaya ? Kebawa arus ombak ke pulau yang gak berpenghuni ? Sial hidup gue kalau sama elo !" gue meluapkan semua kekesalan gue ke Dirga.

Dirga terdiam dan tertunduk mendengar perkataan gue. Melihat sikapnya yang seperti itu gue merasa bersalah.

"Eh, so ... Sorry. Gue ... Gue gak bermaksud," gue memegang jari - jemari Dirga yang hangat itu.

GARDENIC ( COMPLETED )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang