Bagian Dua

1.3K 77 22
                                        

" Kau terima sajalah cinta Kairi, Emu! Kurang apa lagi sich dia? Sudah cakep, baik hati, mapan dan juga seksi lagi! " ujar Parado suatu hari.

Emu terdiam. Matanya tak lepas dari cowok tampan yang seperti biasa asik dengan sepotong cake dihadaannya tampa peduli pada keadaan sekitarnya. Itulah Hiro Kagami dokter bedah selalu terobsesi makanan manis sejak kepergian saki sang kekasih.

" Andai kau tau yang kumau itu kamu hiro sensei! " bisik hatinya sendu.

" Gomenne Pallad! Bukan aku menolak maksud baikmu, tapi aku memang tidak menyukai Kairi. Aku tidak berminat dengan pria kutilang itu apalagi harus menjadi uke nya! "

Parado hampir tersedak. Emu ini kurang ajar sekali. Masa cowok sekeren Kairi dibilang kutilang. Seleranya memang aneh. Dia lebih suka Hiro, sidokter bedah menyeramkan dan jarang senyum itu. Wajahnya datar sedatar papan tripleks tapi kalau sudah marah mirip srigala. Hiii.... Parado bergidik sendiri. Andai dia tau bahwa Hiro tidaklah semenyeramkan itu kalau kita sudah mengenalnya dekat.

" Nah, disini rupanya kalian! " Kairi tiba tiba muncul didepan mereka. 

" Pallad, Emu..kita kekantin yok! " Kairi menarik tangan Emu manja. Emu menepisnya.

" Gomen ne Kairi-san! Aku ada janji dengan Kiriya sensei! " Emu mengeloyor pergi. Kairi kesal, iapun meninggalkan Parado sendirian.

" Lho, katanya mau traktir, tapi koq pergi? " Parado bingung tapi kemudian ia tersenyum sendiri dan segera berlari menyusul langkah Emu yang kelihatan belum terlalu jauh didepannya.

" Eum, Emu...kenapa kau selalu lari dari Kairi! Kalau kau memang tidak menyukainya sebaiknya terus terang saja agar dia berhenti mengganggumu. Aku bosan direcokinya terus pasal dirimu, tau! "

" Gomenne Pallad! Aku hanya bingung dengan perasaanku! "

" Apa tidak sebaiknya kau terus terang saja tentang perasaanmu pada Hiro sensei, bukankah itu lebih baik? " Emu terdiam.

" Andai saja Hiro sudah bisa menyingkirkan Saki dari hatinya! " bisik hatinya galau.

" Emu...kenapa tiba tiba jadi pendiam gini? Sudah kepikiran tentang cinta Kairi ya? " Parado menggoda.

" Bukannya  terpikir Pallad, tapi takut! " Emu tertawa. Sejenak parado terpaku. Tawa Emu manis sekali. Emang selama ini si Emu ini anak yang ceria tapi melihatnya tertawa lepas baru kali ini. Parado merasa hatinya terasa sejuk mendengar tawa renyah Emu.

" Kenapa nih Pallad...mulai jatuh cinta padaku ya? " goda Emu.

"Aku ini emang ganteng lho! " katanya bangga.

" Halah, kepedean lo! Ganteng darimananya coba. Lo tu cantik tau! " sindir Parado. Mereka tertawa ceria bersama.

" Emu, aku entar sore kerumahmu ya? Kau tidak ada shif siang ini kan? " Emu menoyor kepala parado.

" Biasakan dirimu memanggilku Ni-san, Pallad! Aku ini lebih tua darimu..."

" Gak mau! Mana ada orang memanggil kekasihnya dengan sebutan Ni-san! " protes Parado.

" Tapi aku bukan kekasihmu Pallad! Dan tidak akan mungkin pernah bisa! " Emu kesal.

" Aku hanya mencintai hiro sensei! " bisik hatinya.

" Gomenne..."

" Sudahlah....aku bosan mendengar kata maafmu. Kalau kau tidak mau merubah panggilanmu aku tidak izinkan kau main kerumahku lagi dan kita tidak akan berteman lagi! "

" Haik... Emu Nee-san! Aku tidak mau kehilangan dirimu. Kau satu satunya teman yang mengerti diriku. Jadi aku akan kerumahmu sore ni ya? Kita akan memasak kimbab Korea  dan aku akan membeli bahan bahannya! "

Aishiteru (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang